Syukur dan Ikhlas

Sering kali kita merasa tidak adil dalam menjalani kehidupan. Terkadang, orang lain bisa merasakan banyak kebahagiaan dalam hidup mereka yang berbanding terbalik dengan segala penderitaan yang harus kita alami. Meskipun demikian, hidup harus tetap dijalani sebagaimana mestinya. karena mungkin itu adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan, walaupun harus terlebih dahulu melalui berbagai penderitaan yang melelahkan. percayalah, semua itu akan berbuah manis manakala kita juga menjalaninya dengan penuh rasa syukur dan ikhlas.

 Seperti cerita yang datang dari seorang gadis malang, yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Ia merupakan anak pertama. Sebenarnya dia akan memiliki calon adik, namun sewaktu dia berumur lima tahun calon adiknya tersebut meninggal dunia ketika masih di dalam kandungan. Padahal, ia begitu mendambakan seorang adik. Seorang adik yang bisa menemani hari-harinya bersama rasa sepi di dalam rumah yang begitu sunyi.

Mengapa ada rasa sepi? karena sejak kecil, ia jarang merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya, terlalu sibuk dengan pekerjaan. Hingga akhirnya, di usianya yang masih belum genap tujuh tahun terpaksa harus berpisah dengan kedua orang tuanya dan tinggal bersama neneknya. Neneknya sangat menyayangi gadis tersebut seolah-olah menyayangi anak sendiri. Gadis itupun dapat menerima kasih sayang yang belum genap diberikan oleh kedua orang tuanya dari sang nenek.

Sejak SD sampai SMP, ia selalu merasa iri dengan teman-temannya di sekolah. Terutama ketika ada pengambilan hasil belajar (raport). Gadis tersebut sedih kala melihat temannya diambilkan oleh orang tua mereka sedangkan ia diambilkan oleh neneknya. Bukannya ia tidak bersyukur tetapi dia merasa tidak adil saja kepada orang tuanya. Segitu sibuknya kah ketika sedang bekerja sehingga tidak bisa menyempatkan sedikit waktu untuk dirinya.

hal yang tidak dia sangka yaitu adanya kenyataan bahwa ketika dia lulus dari bangku SMP, dia di masukkan ke pondok pesantren oleh orang tuanya. Dia merasa sangat terpukul, saat itu juga dia berfikir bahwa orang tuanya tidak menyayangi dirinya sehingga memasukkan dia ke dalam pondok pesantren.

         Gadis tersebut ingin sekali merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya. Namun dia sudah terlanjur masuk ke dalam pondok pesantren, hari-harinya ia lewati dengan sangat berat. Sebab ia harus beradaptasi di lingkungan yang baru, bertegur sapa dengan orang baru, dan melalui hari dengan banyak aturan yang diberlakukan. Tak jarang ia mengeluarkan tangis pedih mengingat dirinya yang tak pernah merasakan kebahagiaan walau sekejap bersama kedua orang tuanya. bahkan kini, kenyataan ia dimasukkan ke pondok semakin membuatnya yakin bahwa kedua orang tuanya tidak benar-benar menginginkan kehadirannya.

Akan tetapi di suatu hari, ada seseorang yang memberinya nasehat dan menghibur dirinya agar tidak bersedih lagi. Orang itu mengatakan bahwa sesungguhnya karena niat dari orang tuanya memasukkan dirinya di pondok pesantren, justru sangat bagus untuk masa depannya. Hal itu dilakukan mereka agar dia tidak terjerumus ke pergaulan yang tidak baik. Dia pun mulai menyadari itu dan sangat bersyukur karena kedua orang tuannya sebenarnya sangat menyayangi dirinya. Orang tuanya, tidak ingin Ia menjadi pribadi yang tidak baik. Maka perlahan, ia pun menjalani kehidupannya dengan rasa syukur dan ikhlas.***

(Putri)