Suatu pagi, di pondok Sabilulhuda.
Thing… thing…. kudengar wa masuk di grup santri dan pengasuh. Aku tersenyum dan bisa kubayangkan apa yang terjadi selanjutnya.
“Alhamdulillah……” Serempak anak-anak di kamar atas mengucap syukur. Lalu mulailah, balasan alhamdulilah bermunculan di grup ini.
“Siapa yang masak nanti sore?”. Tanya Sulis kepada rekan-rekannya.
“Kelompoknya mbak Nur, Eva dan Yuni”. Ujar Zaskia, Kebetulan ketiga anak tersebut belum tahu.
“Kemana to orang-orang ini, wes ngerti durung yo?”. Tanya Sulis kebingungan.
“Belum kayake mbak, ooo… tadi aku lihat lagi ke tempat Bu Yayuk minta uang belanja”. sambung Ifa.
Sesaat hening, karena sedang sibuk dengan hpnya masing-masing. Tiba-tiba….
Bu Ira tersenyum bahagia. Kemudian berlalu meninggalkan anak-anak.
Saat makan malam, anak-anak terlihat bahagia. Mereka berkumpul di aula dan duduk berhadapan dengan rapi. Ramai sekali aula malam ini. Mereka makan bersama sambil mengobrol dan bercanda. Menjelang isya, aula sudah sepi, anak-anak segera bersiap sholat isya. Sementara Nur dan kelompoknya memberesi aula.
Alhamdulillah… sekotak nasi yang membawa keberkahan, membuat bahagia seluruh pondok. Memang rezeki tidak hanya berupa uang, atau makanan. Teman yang baik, mendapat ilmu yang bermanfaat juga rezeki yang tidak ternilai. Aku bersyukur sekali bisa dipondok ini. Banyak sekali ilmu yang bisa didapat disini, yang belum tentu kita dapat diluar sana. Semoga Allah membalas kebaikan para donatur dengan kebaikan yang berlipat-lipat.***











