Rasa ini, sudah ku pendam selama bertahun-tahun. Aku bingung akan langkah apa yang harus dilakukan dengan rasa itu. Jika aku jujur, aku takut menyakiti mereka. Namun jika ku pendam sendiri, rasanya hanya akan semakin membuatku kesakitan. Aku pun hanya bisa melampiaskannya dengan menangis. Sebuah tangisan tanpa suara, yang sakitnya luar biasa. Mungkin kalian pun pernah merasakannya.
Lagi-lagi, aku bingung harus bagaimana? Aku sudah tidak tahan melihat sikap mereka. Mereka terlalu menyepelekan semua hal dan hanya terus melakukan apa yang mereka suka saja. Hingga terkadang, membuatku ingin melakukan seperti yang mereka lakukan. Tapi aku harus tetap terus berusaha menutupi rasa ingin itu dan melupakannya. Meskipun terkadang perasaan iri seringkali hadir dikala melihat mereka bisa bersantai menikmati setiap detik hari yang mereka lalui. Sedangkan aku sendiri, tengah berkutat dan berusaha keras hingga tertatih-tatih melawan rasa ingin itu.
Aku sadar, bahwa ini juga demi kebaikan dan masa depanku. Aku pun percaya, jika suatu saat nanti akan mendapatkan yang mungkin tidak atau belum mereka dapatkan. Ya… mungkin sekarang aku tengah berada di masa sulit. Dimana ketika aku melihat mereka bersantai-santai ria, rasa iri itu datang menghimpit di hati. Namun setidaknya, aku berharap mereka juga sadar untuk mengubah sedikit demi sedikit sikap mereka. Agar mereka pun dapat menuai manfaatnya di masa mendatang mereka.
Bukannya aku merasa paling berpengalaman atau pun pintar. Hanya saja ketika aku melihat mereka, ada rasa kecewa dan sedih menelisik begitu saja dalam batinku. Sebab mengapa? Itu semua karena rasa sayang ku pada mereka. karena aku yakin suatu saat nanti, akan ada suatu waktu yang kita tidak tau akan mendapatkannya lagi atau tidak.
Oleh karena itu, sebelum tahun-tahun yang sedang berjalan ini berlalu. Mari kita manfaatkan secara baik-baik bersama. Hanya itu yang sangat aku harapkan melalui waktu demi waktu bersama kalian. Jika memang kalian mau berubah, aku sangat-sangat bersyukur dengannya. Karena kalian merupakan bagian dari hidupku. Walaupun mungkin secara tidak langsung kalian pernah menyakiti batinku, tapi aku akan mengambil hikmah dari semua itu. Hingga aku dapat merubah pola pikirku lebih dewasa dengan adanya rasa sakit yang pernah singgah diantara kita.***
(Sulis)











