Disuatu pagi, Sinta dan Novi menjemput Rani di rumahnya untuk berangkat sekolah bersama.
“Rani! berangkat sekolah yuk…” Teriak Sinta dari luar rumah Rani.
“Aku baru bangun tidur, kalian duluan aja ke sekolahnya, biar nanti aku diantar oleh ayahku.” Jawab Rani sambil membuka pintu.
Sesampainya disekolah, Sinta dan Novi segera memasuki kelasnya karena sebentar lagi pelajaran akan segera dimulai.
“Bagaimana dengan Rani? Padahal pelajaran akan segera dimulai, tapi Rani belum kunjung datang juga.” Ucap Novi sedikit khawatir kepada Sinta.
“Dia sudah terlalu sering terlambat dan malas belajar, padahal dia juga sudah sering kena marah oleh guru, tetapi dia masih saja terlambat dan sering malas-malasan belajar.” Jawab Sinta.
Beberapa menit setelah guru masuk ke dalam kelas, Rani baru datang dan meminta izin agar diperbolehkan masuk kelas kepada guru yang akan mengajar.
Saat pembelajaran sedang berlangsung, Rani malah bermalas-malasan mengikuti dan mengerjakan soal latihan yang diberikan
“Rani… !!” Ucap Bu guru dengan tegas. Membuat teman sekelas Rani sontak terkejut dan kelas menjadi hening. Bu guru memarahinya karena sering sekali tidak memperhatikan penjelasan dan malas mengerjakan soal latihan. Setelah Rani dimarahi, ia dihukum untuk membersihkan seluruh kamar mandi sekolah yang ada di dekat parkiran sekolah.
“Kring… Kring… Kring…” Bel berbunyi dari setiap ruang kelas, menandakan istirahat telah tiba dan para siswa pun berlarian menuju kantin dan ada juga yang menuju perpustakaan. Akan tetapi, Rani menuju kamar mandi untuk menyelesaikan hukuman yang diberi oleh gurunya. Setelah beberapa menit kemudian, Rani pun telah selesai membersihkan kamar mandi.
“Nih minum, pasti kamu capek kan? ” Ucap Novi sambil menyerahkan botol minuman dingin kepada Rani.
“Hehe iyaa, makasih ya.” Ucap Rani kemudian meminumnya sampai habis tak tersisa.
“Makanya kamu jangan malas-malasan kalo di suruh belajar!” Ucap Novi sambil menepuk pelan punggung Rani.
“Lah gimana lagi? aku tu emang malas kalau disuruh belajar ” Jawab Rani polos, Novi mengeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar jawaban dari Rani.
“Nih ada satu hadist yang menjelaskan kewajiban seorang muslim untuk menuntut ilmu!” Ucap Novi.
“Emang ada?” Tanya Rani tidak percaya.
“Ada nih dengerin ya طلب العلم فريضة على كل مسلم Artinya: Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim. Nah itu hadistnya.” Ucap Novi sambil memegang botol minumnya . Kemudian Rani mengangguk mengerti
“Emm jadi menuntut ilmu tu sangat wajib yaa bagi seorang muslim?” Tanya Rani kepada Novi.
“Yaa wajiblah… karna ada banyak keutamaan tersendiri dari menuntut ilmu!” Ucap Novi.
“Apa aja itu?” Tanya Rani ingin tahu.
“Keutamaan nya adalah 1. Memudahkan seseorang mendapatkan surga, 2. Ilmu sebagai amal jariah, 3. Akan diangkat derajatnya oleh Allah, 4. Orang berilmu adalah orang yang paling takut kepada Allah. Itulah keutamaan-keutamaan dari menuntut ilmu. Apalagi jika kamu menuntut ilmu agama, itu lebih bagus lagi. Karena itu adalah bekal kamu di akhirat kelak dan bisa merubah keperibadianmu dari yang belum baik menjadi baik. Dan menuntut ilmu itu harus dan sangat dianjurkan oleh Allah dan rosul-Nya.” Jelas Novi kepada Rani.
“Ohh, jadi banyak ya keutamaan menuntut ilmu dengan benar dan kita juga bisa mendapat pahala dari Allah” Ucap Rani.
“Yaa, makannya mulai dari sekarang tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh. Dan aku mengingat satu pepatah yang berbunyai ‘tuntutlah ilmu sampai ke negeri china’.” Ucap Novi.
“Mengapa bisa begitu? Apa maksudnya dari itu?” Ucap Rani meminta penjelasan.
“Karena seseorang itu harus menuntut ilmu, walaupun ia harus pergi dari tanah airnya atau tanah kelahirannya. Tak harus ke cina, akan tetapi ke lain kota atau ke lain negara. Asalkan kita pergi yang diniatkan untuk menuntut ilmu, inshaallah Allah meridhoi nya dan dipermudahkan nya” Ucap Novi yang kemudian diangguki oleh Rani tanda mengerti akan penjelasan Novi.
Bel masuk pun terdengar membuat mereka berdiri dari tempat duduknya kemudian masuk ke dalam kelasnya masing-masing.
Hari-hari dilalui dengan baik dan semakin hari, Rani semakin sungguh-sungguh untuk belajar karena ia selalu ingat apa yang diceritakan Novi kepada Rani pada hari itu. Guru-guru pun sangat senang atas perubahan Rani yang sekarang begitu pula kedua orang tuanya. ***
(Eva)











