Diammu Menghanyutkan Diriku

Namaku Ana Rianata, biasa dipanggil Ana. Saat ini, aku tengah duduk di kelas 9 smp. Dimana sedang masa-masanya aku merasa bahagia. Karena apa coba? Karena suka. Iya, aku sedang suka sama seseorang. Dia seangkatanku, namanya Mugi Alamsyah. Dia itu orangnya pendiam, rajin, dan pintar. Sungguh menganggumkan melihat semua kesempurnaan yang ia miliki.

Hal dan tempat yang paling aku suka di sekolah adalah ketika sholat dzuhur berjamaah di masjid. Sebab di sana, aku bisa memandanginya lebih lama dari shaf perempuan yang letaknya di belakang shaf laki-laki. Terkadang ia juga menoleh ke arah ku, entah itu disengaja atau hanya sebuah kebetulan belaka. Namun hal itu, sudah bisa membuat pipiku merah merona. Entahlah, aku tak mengerti. Apakah ia juga punya rasa terhadapku atau tidak. Aku rasa, dia tahu perasaanku terhadapnya. Karena setiap kali kami berpapasan, aku dengan malu-malu menyapanya dengan setengah senyum sambil memandangnya penuh kagum. Dan perbuatanku itu, selalu ia balas dengan senyuman penuh ditambah makin ganteng pula parasnya. Duhh rasanya jantungku berdegup kencang tak karuan. Apalagi setelah itu aku jadi salah tingkah. Menabrak benda ataupun orang didepan ku, bahkan terjatuh kerap terjadi saat ia telah berlalu menjauh dariku.

Hari jum’at, juga merupakan waktu yang paling kusukai. Tepatnya pada waktu ekstra kurikuler pramuka. Aku dan teman-temanku mendaftarkan diri untuk mengikuti pemilihan anggota DP (Dewan Penggalang) dan ternyata, dia pun ikut serta dalam pemilihan tersebut. Berbagai tahap seleksi pun telah dilaksanakan. Hingga tiba pada hari pengumuman sekaligus pelantikan, aku dan laki-laki itu ternyata terpilih. Sungguh aku merasa senang sekali. Karena hari-hari setelah pelantikan kami, aku tak perlu curi pandang dari belakang punggungnya. Aku dengan si pendiam itu bisa selalu bertemu dan bertatap muka sambil mengajari teman-teman dan adek kelas tentang tali menali atau membuat yel-yel regu.

Hari-hariku pun semakin berwarna bersama putih biru seiring berjalannya waktu. Aku yang semakin suka pada semua sifat dan sikapnya, bahkan wajah tampannya tak pernah sekalipun terpikirkan akan patahnya rasaku di hari aku ingin mengaku padanya. Pada hari itu, aku sedang melangkah pelan setelah bel pulang sembari mengedarkan pandangan mencari sosok yang kunanti. Tekatku sudah bulat. Tak kupedulikan lagi rasa maluku jika harus aku yang lebih dulu mengatakan padanya. Tak berapa lama kemudian, aku pun melihatnya. Hmm… Ia berada di lorong dekat kamar mandi dan sepertinya tengah berbincang dengan seseorang. Benar saja yang tengah aku lihat. Dia sedang berbincang dengan seorang perempuan. Aku mengenali perempuan itu, dia adek kelas ku. Mereka berbincang sambil bersenda gurau seolah sepasang kekasih.

Aku, tak pernah berbicara dengannya sepatah katapun. Aku, tak pernah melihatnya seriang itu ketika ia berbicara pada temannya. Aku, tak pernah mendengar tawanya yang membahana dengan siapapun itu. Namun saat ini, tepat di depanku. Tapi bukan denganku, ia begitu lepas berekspresi. Karakternya berbanding terbalik dengan biasanya yang kulihat. Aku pun merasakan bahwa ia memiliki rasa suka terhadap adik kelas itu.

Sungguh perih rasa sakit dihati kala melihat adegan itu didepan mata ku. hati ini terasa sakit bagai di tusuk oleh tusuk sate yang runcing sekali. Huuh h sakitnya tu kebangetan. Ternyata selama ini, aku hanya terlelap dalam tatapan dan senyuman semu. Pada saat itu juga, aku yakin bahwa orang pendiam itu nggak selalu menunjukkan sifat aslinya begitu saja. Seperti ia, yang menutupi sifat aslinya dengan begitu liahai bagaikan rubah mencuri sebutir telur. Nah, lebih tepatnya sih seerti peribahasa yang mengatakan ‘diam-diam menghanyutkan’.***

(Sulis)