Orang Lain Rasa Saudara

Namaku Windy, aku tidak mempunyai ibuk sejak umur 9 tahun. Jika di tanya, rasanya sakit. Di umurku yang masih kecil sudah tidak mempunyai seorang ibuk . Apalagi kalau melihat orang-orang yang masih mempunyai orangtua lengkap, rasanya sakit di hatiku semakin nyata. Apalagi aku perempuan, di saat aku sedih, aku sangat membutuhkan sosok ibuk. Karena, kalau curhat sesama perempuan rasanya berbeda. Mereka akan lebih mengerti kita, karna satu perasaan, berbeda dengan laki-laki yang mengedepan kan logika.
Namun, karena aku sudah tidak punya ibuk. Kadang bingung mau cerita sama siapa ? mau cerita sama bapak, tapi ngga enak. Akhirnya, kalau ngga ada orang yang bisa di ajak cerita aku Cuma bisa pendam perasaan aku. Kalau hal itu sedang terjadi aku Cuma bisa nangis. Seenggaknya itu cukup membantuku, karena akhirnya aku merasa lega meskipun cuma sedikit. Aku mempunyai saudara, tapi aku dan saudaraku tidak terlalu dekat seperti saudara-saudara biasanya. Aku pun tak tau mengapa, namun sikap mereka seperti orang lain di hadapanku. Mana mungkin aku curhat sama saudaraku sedangkan mereka aja seperti itu. Yang aku tau, mereka seperti itu ada sesuatu hal tapi aku ngga bisa jelasin di sini. Rasanya sedih, gimana engga. Saudara yang biasaya saling dekat namun terasa jauh. Tapi gimana lagi taqdir berkata lain.
Karena sudah terlalu lama tidak dekat dengan saudaraku, maupun itu dari keluarga ibuku atau dari keluarga bapakku aku terbiasa dengan itu. Pada akhirnya aku dekat dengan orang lain. Tapi, orang ini berbeda aku dekat dengannya seperti dengan saudaraku sendiri. Padahal mereka orang lain, namun mereka lebih tau dan memahami perasaanku. aku sering cerita tentang perasaanku atau keluh kesah ku kepada mereka, mereka pun memberiku jalan keluar ataupun nasihat. Aku bersyukur bisa bertemu dengan mereka, dan aku berharap suatu saat semoga aku bisa membalas kebaikan mereka karena sudah membantuku dan selalu ada bersamaku. Aamiin ya Robbal alamin.***
(Sulis)