Usiaku masih belum genap 10 tahun. Namun saat itu aku bersikeras meminta pada ayahku agar aku bisa masuk di taman baca remaja. Padahal usia minimal masuk taman baca itu sekitar 15 tahun. Ayahku pun tidak mempermasalahkan usiaku yang belum genap 10 tahun itu dan bersedia mendaftarkan ku dalam kelas baca di taman baca tersebut.
Hari-hari bisa kulalui dengan penuh riang dan gembira. Aku memiliki banyak teman yang asyik dan menyenangkan. Ketika waktu istirahat tiba, aku dan teman-temanku selalu mengobrol bersama membicarakan tentang bacaan yang tengah kami baca. Sungguh seakan aku temukan duniaku yang penuh warna, bersama mereka dan setumpuk buku di taman baca remaja. Meski usiaku masih belum saatnya untuk bergaul bersama mereka.
Seperti hari-hari biasanya, aku berangkat ke taman baca tepat pukul 16.00. Aku berangkat dengan menaiki sepeda bersama teman-teman. Hari itu tidak ada yang istimewa, namun ada suatu kejadian yang membuatku membenci semua laki-laki asing yang belum kukenal. Waktu itu aku tengah menghapus tulisan kapur yang ada di papan tulis. Sebab hari itu memang jadwalku untuk menjalankan piket kelas. Ditengah asyiknya menghapus papan tulis sambil menyenandungkan lagu dari earphone, aku dikejutkan dengan ulah seseorang terhadap diriku.
Ia seorang laki-laki yang berusia sekitar 16 tahun. Berperawakan sedang dan tidak terlalu tinggi, namun karismanya sungguh kuat sekali. Tiba-tiba saja, ia datang ke kelasku dan menarik kerudung yang aku kenakan saat itu hingga aku terjungkal ke belakang. Tak hanya itu, dia juga mengambil penghapus yang tengah aku pegang dan mengusap-ngusap nya ke mukaku. Aku yang tidak mengerti dengan kejadian itu, hanya bisa diam membisu menahan rasa perih dan malu. Belum puas melihatku tersiksa, anak laki-laki itu dengan teganya menghardik dan mengata-ngatai diriku.
“Dasar perempuan nggak tau diri, sok cantik, caper awas aja kalau kamu sampai berani lagi kelihatan di depanku, bakal aku bunuh kamu!” Bentak laki-laki itu dengan wajah penuh amarah dan tegas, menunjukkan bahwa ia akan melakukan seperti yang dikatakannya.
Setelah laki-laki itu puas mengata-ngatai diriku, ia pun berlalu tanpa menjelaskan mengapa ia berbuat seperti itu terhadap diriku. Aku hanya bisa menunduk malu dan segera menuju kamar mandi menghapus kotoran kapur yang menempel di wajah ku. Aku sungguh bingung dibuatnya. Ingin sekali aku mendatangi anak laki-laki itu. Namun, aku takut apabila ia kembali berbuat buruk padaku.
Hingga tibalah waktu pulang. Aku masih merasa takut dan memendam benci terhadap anak laki-laki itu. Sesampainya di rumah, aku menahan diri untuk tidak menceritakannya kepada kedua orang tuaku. Aku langsung bergegas menuju kamar dan mengunci diri selama beberapa waktu. Di dalam kamar, aku merenungi atas kejadian yang menimpaku hari itu dengan mengingat ulang semua memori dari awal aku masuk di taman baca hingga saat ini. Hasilnya, tak ada satupun perbuatanku yang pernah bersinggungan dengan anak laki-laki itu. Rasa penasaran, benci dan marah membuat diriku bergetar mengingat kejadian hari itu. Sebab aku ini orang yang tidak pernah dibentak dan disiksa bahkan oleh kedua orangtuaku sekalipun. Maka mulai detik itu pula, aku membatasi jarak dan bahkan menghindar dari semua laki-laki asing yang baru kutemui.***
(Wt)











