Semua anak laki-laki wajib ikut gotong royong, begitu wa pengasuh yang di share grup santri.
Ari menghela napas.
“Gotong royong lagiiii….tiap hari gotong royong !. Baru mau Mabar sudah dipanggil- panggil. Nanti kalau nggak ikut di marahi. Huuuh,” keluhnya
“Iya nih….baru mau istirahat, rebahan sambil liat YouTube,eeeh sudah disuruh kerja lagi,”Adipun tak kalah sewot.
“Males ah…..ak tak pura-pura sakit lah…biar bisa istirahat,” ucap Ozi
“Wa saja, pasti diizinkan, bilang kalau sakit,” kata Sandi
“Tapi, nti kalo nggak ikut aku di kamar sendiri, hiiii…. takut aku,” kata Ozi.
“Ha ha ha….awas lho , nti ada yang nemeni, putih-putih rambut panjang..hiiii..,”tawa Ari sambil keluar.
Akhirnya semua santri laki-laki keluar semua untuk gotong royong.
Ari sebenarnya juga malas untuk ikut gotong royong. Hampir tiap hari, sore malam begitu. Jadi walaupun bersungut-sungut, Ari tetap ikut gotong royong. Dia ingat pesan bapak ibunya dirumah.
“Le, kalau di pondok ada kegiatan, harus ikut ya, jangan malas, itu demi kebaikanmu juga,” kata bapaknya.
“Ayo…ayo…kita gotong royong, yang nggak ikut kita gotong saja….semangaat!,” Ajak mas Deni.
Sementara itu, anak2 yang lain sudah di kebun selatan. Dari anak SD sampai lulus sekolah semua ikut kerja bakti. Lampu-lampu juga sudah disiapkan. Ada yang grafting anggur bersama pak kyai dan ada yang nanam ke media tanam di polybag. Terlihat menyenangkan juga ya. Bekerja bersama-sama sambil bercerita dan mendengarkan musik. Bisa sambil curcol nih, batin Ari.
Malam semakin larut, tapi anak-anak tidak mengeluh sedikitpun.Seneng saja bawaannya. Akhirnya Ari pun ikut larut dalam suasana kerja itu.
“Mas, kenapa to kita harus kerja bakti setiap hari?capek lho mas,” Tanya Ari pada mas Deni.
“Iya mas, pingin santai kayak di pantai,” sambung yang lainnya.
“Kalau capek ya istirahat. Kerja bakti ini kan dhawuh pak kyai. Kita sebagai santri harus taat, sendiko dhawuh sama pak kyai, InsyaAlloh berkah buat kita. Makanya kerja harus ikhlas. Capek ya capek tapi InsyaAlloh capeknya kita itu berkah.” Kata salah satu santri senior itu.
“Capek berkah ki piye to mas?. Wes kesel ra entuk duit,” ujar Ari sambil manyun.
“Gini ya Ri , kita ini terkadang lupa untuk bersyukur. Sering mengeluh dan menggerutu ketika banyak kerjaan. Bekerja itu bukanlah soal mencari uang. Karena Allah sudah menjamin rezeki bagi makhlukNya. Makanya kita harus bersyukur. Nah, salah satu bentuk rasa syukur kita kepada Allah adalah dengan bekerja. Rasa syukur kita masih memiliki raga yang sehat, masih memiliki pekerjaan untuk mengisi hari-hari dengan aktivitas yang positif, masih bisa bertemu dengan orang lain, dan masih bisa bermanfaat untuk orang lain,” terang mas Deni panjang lebar
“Oooo…gitu ya mas,” kata Ari manggut-manggut.
“Sing penting obah, tidak usah mikir hasil. Kita di pondok ini kurang apa to ? semua sudah tercukupi. Kalau kita merasa kurang itu ya kurang bersyukur,” tegas santri senior berbadan kurus itu.
“Bener juga ya,” gumam Ari. Dahinya berkerut, tanda dia sedang berpikir keras.
“Tapi capek mas,” kata Ari.
“Ari,tak kasih tahu ya, sesungguhnya capek akibat bekerja adalah suatu keberkahan. Karena ada dosa yang tidak hilang kecuali dengan lelahnya bekerja. Kalau kita taat pada pak kyai dan kita capek gotong royong seperti ini, insyaAlloh dosa-dosa kita berguguran. Makanya kita harus ikhlas, dan lakukan dengan senang hati. Secapek-capeknya kita, masih capek pak kyai dan pengasuh yang sering lembur, dan orang tua yang bekerja untuk anak-anaknya.Yaa…semoga dengan kita capek gotong royong seperti ini, kita bisa lebih menghargai orang lain dan orang tua kita,” kata mas Deni
Ari terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena semua perkataan mas Deni benar semua.
“Ayo kita balik ke pondok, sudah jam 23.00, makan lagi, sudah disiapin mie kuah panas dan teh panas sama santri putri.” Ajak mas Deni.
Ari terdiam merenung, terbayang pekerjaan bapaknya di rumah, ngangkut pasir, kerikil, panas-panas pula. Sambil berjalan dia manggut-manggut. Ada semangat yang tumbuh di hatinya. Apalagi mie kuah mengepul menambah semangatnya membara. Besok-besok kalau gotong royong pondok, aku harus ikut!. Bismillah, niat ibadah, dosa-dosaku rontok,” batin Ari. Dan malam itu anak-anak tidur pulas sekali saking capeknya. Ternyata capek itu juga nikmat.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?.***
(Mae ya)










