Korban Drakor

“Ya Allah…ya Allah…. Jam berapa ini?” Lia bangun sambil terkaget-kaget, bingung, dan bergegas menyingkap selimutnya.
“Astaghfirullah… sudah siang, jam berapa ini?” gumam Lia sembari mencari hp-nya, yang ternyata jatuh di lantai.
“Haaaaa? Jam 9?” Teriaknya sambil terbelalak melihat angka jam di hp-nya. Teman-teman sekamar pun kaget oleh teriakan Lia.
“Ada apa Lia… ganggu orang saja, berisik tahu!” kata Rena sambil bersungut-sungut. Sebab ia yang lagi asik main hp merasa sebal karena terkaget-kaget oleh teriakan Lia.
“Sudah jam 9 Ren…. aku belum salat subuh, aku kesiangan.” ujar Lia dengan suara kecil dan lemas.
Anak yang lain diam saja dan tetap meneruskan aktivitas mereka. Ada yang sedang merapikan tempat tidur, sisiran, menyeterika, mengaca, dan ada juga yang cuek rebahan main hp di kasur.
“Kalian sudah salat subuh?” Tanya Lia
“Sudaaaah….” Serempak teman-temanya menjawab.
“Lho, berarti aku sendiri yang belum? aku kok tidak dibangunkan? Tega kalian!” Lia merajuk.
Mbak Ita anak tertua di kamar pink itu mendekati Lia sambil berkata, “Tadi kami sudah membangunkanmu, tapi kamu tidak ada respon buat bangun. Diem kayak batu, ya sudah akhirnya kami biarkan kamu bangun sendiri.”

Lia masih diam saja. Neni yang tidur disampingnya menimpali, “Iya Lia…kamu tidurnya angler banget, kepati, ngorok lagi!” ujarnya sambil tertawa.
Lia yg masih lemas berkata, “Habis kalian salat subuh nggak ada yang bangunin aku!”
“Sudaaaah tuan putriku… tuh Rena sampai capek banguninnya, akhirnya tidur lagi.” ujar Neni.
“Yaaa trus gimana dong, aku belum salat subuh?” Lia merengek. Ada rasa bersalah pada wajahnya.
“Aku semalam tidur jam 2 karena lembur. Eee… malah jadi kesiangan.” sesalnya.
Mbak Ita yang sedari tadi diam, tersenyum dan berkata “Ya sudah, sekarang Lia bangun dan ambil wudhu dulu! nanti mbak jelasin”.
“Ya mbak…” ujar Lia.

Segera Lia menuju kamar mandi untuk gosok gigi dan kemudian wudhu. Dinginnya air membasahi wajah, membuat kantuk Lia hilang seketika. Tapi sesal dan sedih di hatinya belum hilang karena kehilangan salat subuh berjamaah di masjid pondok. Lia tahu bahwa salat subuh adalah salat yang sangat berkah waktunya. Salat subuh adalah salat yang disaksikan para malaikat. Ia pun merasa menyesal sekali atas perbuatannya yang membuat ia kesiangan bangun dan melewatkan waktu salat subuh berjamaah.

Setelah sampai dikamar, Lia mengambil mukena dan mengerjakan salat subuh qodho 2 rakaat. Lalu disteruskan dengan salat dhuha 2 rokaat. Lia termenung menyesali kejadian pagi itu. Rasa bersalah tidak juga hilang dari hatinya. Berkali-kali Lia istighfar dan mohon ampun kepada Alloh dalam doanya.

Tidak berapa lama kemudian, mbak Ita masuk ke kamar sambil membawa teko berisi teh panas. “Ayo kita ngobrol sebentar.” ujarnya. Tanpa dikomando lagi semua anak putri yang berada di kamar itu duduk berkeliling, sambil membawa gelas.
“Mbaaak… aku mau tehnya ya,” sahut anak-anak bergantian. “Hmm enaknya, sering-sering begini ya mbak” ujar anak-anak.
“Iya…. ayo silakan, dibagi rata ya. Biar semua dapat, biar melek matanya.” kata mbak Ita sambil tersenyum.
Maka, bergantian anak-anak menuang teh di gelas masing-masing.

Lia yang telah selesai melipat mukenanya, kemudian bergabung menuju mbak Ita dan teman-temannya.
“Lia, kenapa tadi susah banget bangunnya? Tidak biasanya lho Lia seperti itu?” Tanya mbak Ita.
“Anu mbak… emm… emm… Lia tidur jam 2.”
“Ngerjain tugas?” tebak mbak Ita.
“Emm… emm… iya mbak… awalnya… taapi, trus mulai jam 12 Lia nonton Drakor” ujar Lia sambil menunduk.
“Ooooooo, bwaha…ha…ha…ha…” anak-anak yang lain tertawa mendengar jawaban polos Lia.
“Korban drakor to?” Ujar Rena sambil terbahak. Suasana menjadi riuh gara-gara drakor.
“Sudah-sudah… untuk Lia dan semuanya, mencari hiburan itu boleh. Tapi yang bermanfaat dan tidak mengganggu ibadah kita. Bukankah rugi bagi kita jika kehilangan waktu salat fajar dan jamaah subuh hanya karena nonton Drakor?. Itupun juga Nggak ada keren-kerenya lagi.” kata mbak Ita.
“Iyaaa mbaak,” ujar anak-anak.
“Kalau kita kesiangan sholat subuh bagaimana mbak? Apa hangus kewajiban kita?” Tanya Eno, santri paling kecil di kamar itu yang baru kelas 5 SD.
“Yaa, nggak lah… enak saja!!!” Sahut Rena
“Iya nih Eno…. Jangan-jangan sering lewat salat Subuh ya?” sahut Dewi
Eno hanya cengar-cengir saja.
“Begini ya dek, kalau kita bangun kesiangan, dan kelewatan salat subuh. Misalnya bangun jam 8, maka kita tetap harus salat subuh. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا رَقَدَ أَحَدُكُمْ عَنِ الصَّلاَةِ أَوْ غَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى
yang artinya `Jika salah seorang di antara kalian tertidur atau lalai dari salat, maka hendaklah ia salat ketika ia ingat. Karena Allah berfirman (yang artinya), Kerjakanlah salat ketika ingat`
Riwayat lain juga menyebutkan,
مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا
`Barangsiapa yang lupa salat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia salat ketika ia ingat`. Jadi, tetep harus sholat ya. Begitu bangun, segera ambil wudhu kemudian sholat, jangan ditunda-tunda. Jangan ngopi-ngopi atau makan atau yang lainnya. Pokoknya segera sholat!!!” Tegas mbak Ita.
“Oooo… gitu ya mbak? Itu salat apapun ya mbak?” tanya Lia
“Ya iyalah… masak salat kok milih-milih!” ujar Rena.

Mbak Ita tersenyum dan berkata, “Pokoknya dalam keadaan apapun, jangan pernah tinggalkan salat!. Banyak aturan dan rukhsah/keringanan dalam agama kita. Tapi kita tidak boleh menyepelekan. Kita harus bersungguh-sungguh menjalankan kewajiban kita. Ingat ya, amalan yang pertama kali dihisab di akhirat nanti adalah….”
“Salaaaaat ,” sahut anak-anak berbarengan.
“Cakeep,” ujar mbak Ita tersenyum sambil mengacungkan jempol.***

( Maeya )