“Buat apa sih pake kerudung gede kaya gitu?”
“ketinggalan zaman banget pake baju kurung kaya gitu, nggak modis!”
Masih banyak lagi komentar-komentar orang mengenai pakaian muslim; gamis panjang dan kerudung besar. Tidak hanya dari kalangan orang non muslim, tetapi dari kalangan orang muslim saja masih ada yang berpendapat seperti itu. Tidak jarang dari mereka yang berfikir hanya dengan menggunakan kerudung, baju panjang dan jeans saja sudah menutup aurat. Namun mereka salah, dalam Islam aurat itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Mereka yang belum paham benar tentang itu, hanya menganggap sepele terhadap pakaian yang digunakannya. Padahal ada balasan yang sangat berat di akhirat kelak, yaitu mereka tidak akan dimasukan ke dalam surga.
Maka dari itu, aku berusaha untuk bisa menutup aurat ku. Meskipun di awal mungkin sulit dan banyak sekali rintangannya tapi aku harus tetap istiqomah. Semua itu untuk kebaikanku, orangtua dan suamiku kelak. Wanita itu istimewa, karena itu Islam mengajarkan wanita untuk menutup auratnya.
Aku sadar, jika tidak mudah untuk memulai semua itu. Aku butuh mental yang kuat untuk menyesuaikan lagi dengan lingkungan sekitar. Seperti awal aku menggunakan kerudung, yaitu ketika aku hendak keluar rumah untuk pergi ke warung. Ada salah satu tetanggaku berkata pada ku.
“Tumben pake kerudung Sel, biasanya aja pake celana pendek juga”. Saat itu, aku hanya tersenyum dan berkata “Iya Bu, sedang berusaha untuk menutup aurat ku, kan takutnya nanti Allah marah dan aku takut kalau sampai menyeret ayah dan suamiku nanti ke neraka.” Setelah itu, tetanggaku diam dan aku langsung pamit untuk melanjutkan pergi ke warung.
Aku tidak munafik. Namun terkadang, aku masih tergiur untuk berpakaian modis atau trend seperti temanku yang lain. Tetapi setelah aku berfikir lagi, apakah aku mendapatkan kenyamanan dengan semua itu? Apakah akan menjamin aku masuk surga? Tidak, aku tetap teringat lagi dengan aturan Islam yang mengatakan wanita itu istimewa sepertu berlian sehingga mereka harus menutup auratnya agar tetap menjadi barang yang berharga. Agar lebih bisa fokus dengan perubahan yang sedang dijalani, aku memutuskan untuk masuk ke pondok pesantren. Awalnya ragu, karena pasti banyak sekali aturan yang harus aku patuhi, dan pasti akan jauh dari orangtua. Dari dulu, aku selalu bergantung kepada orangtua dan sekarang harus belajar melakukan semuanya tanpa orangtua.
Setelah tahu kabar bahwa aku akan mondok, orang-orang di sekitarku tidak percaya. Aku yang mereka tau dulunya seorang remaja putri yang tergolong nakal, pergi main sampai pulang malam, jarang sekali sholat dan berpakaian terbuka. Sekarang, aku ingin membuktikan bahwa aku bisa berubah untuk lebih baik lagi hingga mengubah pandangan mereka untuk lebih menghargai ku.
Pada tahun 2018, tepat seminggu setelah lebaran aku berangkat ke Yogyakarta. Pukul 05.00 aku mulai perjalanan dari rumah bersama orangtua dan kedua adikku, dengan mengendari mobil. Selama perjalanan, sedikit sekali kami berbincang. Karena semua merasakan kesedihan. Orangtua yang ditinggal anaknya dan anak yang akan meninggalkan orangtua. Diam-diam aku menangis karna aku teringat semua kenangan-kenangan saat dirumah, candaan bersama kedua adikku, hingga bermain sampai lupa waktu dengan teman. Semua itu sulit untuk aku lupakan begitu saja.
Tetapi aku harus bangkit, melupakan semua kenangan- kenangan indah dan pahit sebelumnya. Sebagai anak pertama, aku harus bisa menjadi contoh untuk adik-adikku. Setelah sukses nanti harus bisa membanggakan kedua orangtua dan mengantar kedua adikku untuk menjadi orang sukses di dunia dan akhirat. Aku percaya suatu saat nanti, bisa mewujudkan semua impian dan membuat bangga orangtua. Serta membuktikan kepada mereka yang dulu mencemoohku bahwa aku bisa menjadi orang yang lebih baik lagi dan mengubah suara ejekan mereka menjadi tepuk tangan.***
( Selin )













