Antara Benci dan Sayang

   Di suatu sore, ada seorang anak perempuan berusia sembilan tahun tengah berjalan bersama ibunya. Anak tersebut bernama Manda. Ditengah perjalanan mereka, segerombolan anak seusia Manda menghadang jalan mereka.

“Hei Manda! Ibu kamu gila kan? Hahaha dasar orang gila. Rasain nih” kata salah seorang diantara mereka sambil melemparkan batu-batu kecil kearah Manda dan ibunya.

“Apa-apaan sih kalian tuh! Aku juga bisa! Sini maju, tak lempar nih batu kalau kalian nggak segera pergi!!!” Teriak Manda, sambil menarik sang ibu kebelakang tubuhnya seraya mengambil batu besar dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Cepetan pergi!!!” Bentak Manda.

“Apa, ha berani ya kamu! Tak panggilin bapakku kena pukul nangis we. Ayo temen-temen kita pergi aja dasar ibunya gila pasti anaknya juga bakal ikutan gila.” Balas gerombolan anak tersebut sambil beranjak pergi. Mungkin takut jikalau Manda benar-benar melempar batu itu kearah mereka.

Setelah gerombolan anak itu pergi, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Rencananya, Manda hendak menitipkan ibu di rumah nenek. Selama sisa perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka, yang ada hanyalah monolog sang ibu membicarakan sesuatu yang tidak begitu jelas.

Ya ibunya memang memiliki suatu penyakit tapi bukan gila. Mungkin lebih tepatnya disebut stress karena suatu keadaan yang menekan pikirannya. Berbicara sendiri, bertingkah semaunya dan marah-marah tak jelas tapi masih tetap dalam batas wajar. Tidak sampai berbuat hal-hal yang berbahaya. Yah paling parahnya ya kabur dari rumah. Untuk itu, sebelum ibunya memutuskan untuk kabur dari rumah, bapak meminta dirinya untuk mengantar ibu ke rumah nenek. Karena kalau bapak sendiri yang mengantar, sudah pasti ibu akan bertambah marah.

Sesampainya di rumah nenek, Manda langsung berbicara dan meminta pada nenek untuk sementara waktu menjaga ibu. Tak lupa ia, juga menjelaskan perihal ibunya yang penyakitnya kambuh lagi setelah bertengkar hebat dengan bapaknya. Tak mau berlama-lama, Manda pun bergegas pergi kembali ke rumahnya. Sebab ia harus bersiap-siap untuk mengikuti TPA (Tempat Pembelajaran Al-Qur’an) di pondok dekat rumahnya. Ia memang rutin mengikuti TPA. Selain ia bisa belajar agama, disana dia memiliki seorang ustadzah yang menyenangkan ketika bercerita dan diajak bicara.

Biasanya, setelah selesai mengaji Manda dan teman-teman lainnya akan mendengarkan cerita dari ustadzahnya itu. Menghabiskan waktu sembari menunggu adzan maghrib dikumandangkan dengan kisah Nabi, Rasul dan para sahabatnya atau anak-anak yang bercerita. Dan jadwal hari ini adalah giliran anak-anak bercerita tentang kisah mereka.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Sapa ustadzah.

“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhuh” jawab murid-murid TPA secara bersamaan.

“Anak-anak, hari ini giliran ustadzah yang mendengar cerita kalian ya. Emmm ustadzah pengen dengar cerita kalian tentang ibu.” Kata ustadzah.”sudah siap semuanya?” Lanjutnya.

Riuh sekali keadaannya. Ada yang menjawab sudah, belum dan bahkan ada juga yang memilih diam tak menjawab. Manda sendiri lebih memilih diam dan menyimak. Dalam benaknya, ia berpikir ‘huh apa sih istimewanya ibu. Cuma merepotkan’.

“Manda, sini nak kamu duluan ya yang bercerita.” Panggil ustadzah sambil melambaikan tangan pada Manda untuk maju kedepan.

“Hah aku? Aduh belum siap ustadzah.” Kata Manda, kaget ditunjuk untuk maju lebih dulu.

“Kan Manda dah besar masak iya belum siap. Kamu hanya tinggal menceritakan tentang ibu kamu Manda.” Bujuk ustadzah. “Sini deh nanti ustadzah kasih hadiah lho buat yang mau maju kedepan terus cerita tentang ibu kalian.” Sambung ustadzah.

Mendengar kata hadiah keadaan kembali riuh. Anak-anak yang tadinya kurang merespon kini mereka berebut untuk maju kedepan. Manda pun tak kalah ingin mendapatkan hadiah dari ustadzahnya. Karena memang sudah biasa ustadzahnya itu memberi hadiah yang tak tanggung-tanggung bagus dan mahal harganya. Seperti mukena, Al Qur’an baru, baju baru, tas dan lainnya.

“Diaaaammm!!!!” Teriak Manda dengan keras.” Aku duluan” Manda beranjak maju dan duduk disamping ustadzah menghadap teman-temannya.

“Nah gitu dong” kata ustadzah memberi senyuman pada Manda. “Ayo Manda silahkan bercerita” sambil menepuk lembut pundak Manda.

“Ibu sungguh wanita yang sangat menyebalkan. Hingga saat ini, aku belum pernah meraskan masakan ibu. Belum pernah melihat ibu mengurus rumah tangga dengan baik. Setiap harinya, ibu hanya mengomel dan memarahi aku untuk melakukan pekerjaan rumah. Hanya karena hal sepele ibu bisa marah besar. Terutama ketika menyangkut perihal bapak yang tidak mau memberinya uang. Dan jika ibu sudah kambuh dengan penyakitnya, orang-orang akan menghina dia sebagai orang gila. Sungguh merepotkan dan tak ada yang istimewa dari ibuku.” Cerita Manda.

“Astaghfirullah Manda, jangan kamu katakan ibu kamu seperti itu. Apa kamu dulu tau perjuangan seorang ibu sewaktu mengandung dan melahirkan kamu? Sembilan bulan sepuluh hari dalam kandungan, dibawa kemana-mana dan ketika melahirkan juga tidak semudah yang kamu bayangkan. Belum lagi menyusui dan merawat kamu. Coba kamu ingat kembali, tidak mungkin ibu kamu memarahi kamu dan menyuruhmu untuk melakukan tugas tersebut tanpa sebab. Pasti ada alasannya. Kalau untuk urusan rumah tangga seperti masak dan lainnya ibu kamu tak bisa melakukannya karena mungkin beliau memang memiliki kegerbatasan untuk melakukan hal tersebut.” Tegur ustadzah, menahan amarahnya.

“Ma.. maaf ustadzah, a..aku lelah dengan semua itu. Aku hanya ingin merasakan kasih sayang dari ibu.” Sesal Manda, meneteskan air matanya.

“Sudahlah Manda ustadzah tau bagaimana rasanya dalam kondisi kamu saat itu. Tapi ingat pesan Rasulullah Saw bahwa surga itu ada di telapak kaki ibu. Murka Allah ada pada murka kedua orang tua. Jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari. Jangan sampai Allah menimpakan adzab yang pedihh bagimu. Ini juga pembelajaran untuk kita semua anak-anakku. Selama kita masih memiliki kedua orang tua, jangan sampai kita sia-siakan. Rawat mereka, sayangi dan jaga mereka selalu. Kasih sayang mereka sungguh tiada bandingnya.” Nasehat ustadzah pada Manda dan semua anak-anak lainnya.

“Iya ustadzah.” Jawab murid-murid TPA.

“Nah, Alhamdulillah berhubung sudah waktunya untuk mendirikan sholat. Kita lanjut besok ya. Mari kita ambil wudhu. Kita tutup dahulu majelis ini dengan mengucap tahmid bersama-sama.” Ucap ustadzah.

“Alhamdulillahhi rabbil a’lamiin” jawab murid-murid TPA bersamaan.

“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Salam ustadzah menutup perjumpaan

“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Jawab murid-murid TPA bersamaandan beranjak mengambil air wudhu untuk mendirikan sholat.

“Manda, sebentar nak” cegah ustadzah ketika melihat Manda hendak berdiri.

“Iya ustadzah maafkan manda tadi sudah berkata hal yang tidak baik.” Kata Manda, menundukkan kepala tak berani menatap san ustadzah.

“Sudah-sudah sekarang saatnya Manda memohon ampun pada Allah ya nak, doa kan selalu kedua orangtuamu. Perbaiki pula perilaku dan pikiran buruk kamu. In sya Allah semua akan berubah menjadi lebih baik lagi ya nak.” Ucap ustadzah

“Baik ustadzah, aamiin” jawab Manda.

Seusai sholat Manda benar-benar meminta ampun pada Allah. Juga memohon kebaikan untuk kedua orangtuanya. Setelah itu, Manda bergegas pamit pulang pada ustadzah untuk meminta maaf pada ibunya. Sesampainya di rumah nenek, Manda tak kuat lagi membendung air matanya. Lihatlah ibunya kini tengah terlelap dengan kedua kakinya dirantai ke tiang rumah. Pakaiannya kotor berlumuran tanah karena mungkin ibu berusaha melepaskan diri dan memang lantai rumah nenek masih berupa tanah. Manda pun mendekat pada ibunya untuk mengucapkan kata maaf.

“Ibu, maafkan Manda yang sudah mengecewakanmu. Manda janji akan bersungguh-sungguh berbakti pada ibu. Manda janji akan menuruti semua yang ibu inginkan. Terimakasih ibu telah melahirkan aku. Sekali lagi maafkan manda ya buk.” Ucap Manda sambil memeluk ibunya.

Ternyata pelukan dan tangisan Manda telah membangunkan ibunya. Dan kata yang keluar dari mulut ibunya adalah

“Siapa kamu? Pergi! Nggak ada yang peduli sama aku, pergi! Cepat bunuh aku! Tak perlu di tali seperti ini kalau semua ingin aku mati, bunuh saja aku.” Teriak ibu Manda dan meronta-ronta ingin lepas dari ikatan rantai. Tapi perlahan ibu Manda kembali tenang dan menutup matanya. Mungkin kelelahan.

 Sakit rasanya ketika Manda mendengar ucapan ibunya tadi. Dan Manda juga semakin merasa bersalah. Manda pun bertekad akan selalu ada untuk menjaga dan merawat ibunya hingga ajal menjemput.***

( Isnawati )