Usia remaja, seringkali menjadi awal sebuah perjalanan serius dalam menggapai impian. Seperti halnya diriku saat ini. Di umurku yang sedang beranjak remaja, mulai bermunculan masalah yang membuatku labil dan kadang membuatku stres. Tak jarang setiap harinya permasalahan muncul terus menerus hingga menyangkut masa depanku. Disaat masa depanku menjadi permasalahan, aku memutuskan untuk merantau dan bersedia menempuh hidup baru jauh dari keluarga yaitu pondok pesantren.
Saat aku tiba dipondok pesantren, aku masih merasa malu pada teman-temanku. Akan tetapi, aku mulai memperkenalkan diri kepada mereka. Sebab dengan begitu aku bisa mempunyai teman dekat di pondok. Selang beberapa hari aku mulai mengenal semuanya. Hingga aku pun mulai bisa sedikit memahami teman –temanku dan begitu juga sebaliknya. Tak perlu waktu lama aku juga mulai bisa beradaptasi dengan hal-hal baru disekitarku
Memang rasa rindu itu terkadang datang menghimpit di dada. Semua yang aku lakukan semata-mata agar bisa membahagiakan kedua orangtuaku yang sangat menyayangiku. Mungkin saat ini aku belum bisa menjadi apa yang di inginkan oleh kedua orang tuaku. Namun aku yakin dan berjanji kepada diriku sendiri agar bisa membahagiakan mereka dan mengajak mereka ke rumah allah.
Aku sadar bahwa semua itu tak mungkin aku dapatkan hanya dengan berdiam diri saja. Jadi aku imbangi impianku itu dengan menghafal al’quran, menghafal hadist, mempelajari ilmu umum disekolah, dan mempelajari ilmu bahasa dipondok pesantren. Kini dengan usahaku itu aku yakin bahwa usaha yang tengah aku jalani akan berbuah manis dikeesokan harinya. Tetapi buah manis yang kunikmati diesok hari tidak semudah itu untuk dipetik. Butuh usaha extra dengan kekuatan penuh untuk meraihnya. Karena semua hal itu, butuh perjuangan dan pengorbanan. Lelah, letih, bingung, susah dan segudang keluhan sering kali ku ucapkan. Namun biarkan itu menjadi sedikit pahitnya buah yang akan manis kusantap di keesokan hari.***
(Yoo Chan)









