Nasi Goreng Sambut Santri Baru

Ada sebuah pondok pesantren/ panti asuhan yang bernama Sabilulhuda. Di  sore hari, Dirga mendaftarkan diri menjadi seorang santri di pondok tersebut. Hari pertama masuk pondok, Dirga masih malu-malu untuk melakukan kegiatan bersama teman-teman barunya. Maka, dihari pertamanya itu dia ditemani oleh seorang anak kecil dan seorang pemuda. Namanya Ridwan dan Munir. Mereka mengajak Dirga berkeliling sembari mengenalkan lingkungan yang ada di sekitar pondok.

   Selain mengenalkan sekitar pondok, Muner dan Ridwan juga mengajak Dirga ke kandang hewan. Sebelum ke kandang, mereka melewati sebuah pendopo. Di depan pendopo itu, ada banyak pohon anggur. Tetapi belum ada satupun yang berbuah. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju kandang. Sesampainya di kandang, Dirga melihat ada beberapa hewan ternak yang dipelihara pondok. Yaitu ada sapi, kambing, dan juga ayam. Ayamnya ada dua jenis, ayam kalkun dan ayam biasa. Sedangkan untuk jumlah sapinya ada 6, kambing 3, kalkun 4 dan ayamnya ada 3.

   Selain bertemu hewan-hewan peliharaan, Dirga juga bertemu dengan 3 orang yang tengah menyelesaikan tugas mereka. Maka, Dirga pun memperkenalkan dirinya kepada mereka. Orang yang pertama Dirga ajak berkenalan namanya Riyoko. Ia sedang memberi minum sapi. Orang kedua, sedang mengarit rumput didekat kandang sapi namanya Lutfi. Mengarit rumput itu dilakukan Lutfi untuk memberi makan hewan ternak. Sedangkan orang yang ketiga namanya Muri, dia sedang menimpal kotoran sapi. Kotoran tersebut akan di masukkan kedalam penampungan/bak besar yang nantinya diubah menjadi biogas.

   Sambil menunggu Dirga melihat sapi, Muner dan Ridwan mempersiapkan kambing untuk digembalakan. Mereka juga membersihkan kandang dan mempersiapkan minuman kambing untuk nanti setelah pulang dari menggembalakan kambing. Usai memperkenalkan diri, Dirga bergabung kembali kepada Ridwan dan Munir yang akan menggembala kambing di kebun jeruk. Mereka pun segera menuju kebun jeruk sambil menuntun kambing. Sesampai dikebun jeruk Dirga terkejut dengan banyaknya pohon jeruk yang sedang berbuah. Kemudian Ridwan memetik buah jeruk itu dan memberikannya pada Dirga. Dirga dengan senang hati menerima buah yang diberikan Ridwan dan menyimpannya. Selain pohon jeruk, ada juga pohon buah lainnya. Seperti pohon pisang, pohon alpukat,  dan pohon lemon. Agar tidak capek memegang tali kekang kambing, Munir mengikatkan tali tersebut ke pohon jeruk. Mereka dapat mengawasi kambing sambil beristirahat di bawah pohon jeruk dan memakan buah-buahan yang mereka petik.

   Beberapa jam kemudian, matahari mulai terbenam. Hari pun sudah petang, mereka memutuskan untuk pulang ke pondok dengan mengembalikan kambing ke kandang terkebih dahulu. Ketika sampai di kandang, Dirga melihat ada seseorang yang sedang berdiri di depan kandang sapi. Namun, Dirga merasa dirinya belum mengenal orang tersebut. Dengan memberanikan diri Dirga memperkenalkan dirinya pada orang tersebut. Namanya Ropip. Mereka pun bisa saling akrab mengobrol seputar pondok sembari menunggu Muner dan Ridwan memasukkan kambing ke kandang. Beberapa menit kemudian, Muner dan Ridwan telah selesai melakukan tugasnya. Begitupun dengan Muri, Lutfi, dan Riyoko juga telah selesai membereskan tugas mereka. Mereka pun berjalan kembali ke pondok bersama-sama.

   Sampai di pondok, mereka bergegas pergi mandi ke sungai. Beberapa menit kemudian mereka telah selesai mandi dan langsung menuju kamar untuk bersiap berganti pakaian bersih. Adzan Maghrib berkumandang, mereka pun bersegera mengambil air wudhu dan menuju masjid untuk mendirikan sholat bersama santri lainnya. Usai sholat Maghrib, mereka melakukan tadarus Al-Qur’an. Beberapa menit menjelang Isya Dirga, Muri dan Ropip telah selesai tadarus. Karena belum batal wudhunya, mereka pun berbincang-bincang dan berencana untuk membuat nasi goreng setelah sholat Isya. Sedang santri lainnya keluar dari masjid untuk memperbaiki wudhu mereka.

   Adzan Isya dikampung sebelah telah terdengar. Ropip pun juga segera mengumandangkan adzan di masjid pondok. Dirga dan Muri mendengarkan adzan Ropip dengan khidmat. Setelah adzan selesai, teman-teman santri lainnya berdatangan ke masjid. Imam pun datang dan tidak beberapa lama kemudian sholat Isya didirikan. Usai sholat Isya Dirga, Muri dan Ropip pergi ke kamar untuk ganti baju serta membawa piring dan sendok untuk membuat nasi goreng. kemudian mereka turun mengambil nasi  dan membawanya ke dapur. sesampainya di dapur, mereka menyiapkan bahan-bahan untuk memasak nasi goreng. bahan-bahannya meliputi:

  1. 1 piring nasi
  2. 5 siung bawang merah
  3. 3 buah cabe rawit
  4. garam secukupnya
  5. mecin secukupnya
  6. bisa ditambah sosis atau ayam suwir
  7. 1 telur
  8. minyak goreng secukupnya

   Setelah selesai menyiapkan bahan-bahannya, mereka langsung memasak nasi goreng. Cara pembuatanya yaitu:

   pertama Kupas bawang merah dan iris tipis-tipis. Kemudian iris cabe rawit, siapkan bahan pelengkap seperti sosis atau ayam suwir. Siapkan wajan dan panaskan minyak dengan api sedang. Setelah dirasa minyak sudah panas, masukkan telur lalu orek hingga matang dan tiriskan untuk taburan setelah nasi matang. Panaskan minyak lagi untuk menumis bawang merah dan cabe rawit sampai mengeluarkan bau harum bumbu. Lalu masukkan sosis atau ayam suwir, selanjutnya masukkan nasi dan aduk hingga mencampur. Serta tak lupa tambahkan garam dan micin, aduk sampai merata. Setelah matang, sajikan nasi goreng di piring, beri taburan telur orek di atas nasi goreng yang sudah disajikan di piring. Dan nasi goreng pun siap disantap.

   Setelah selesai membuat nasi goreng, mereka langsung pergi ke kamar untuk memakan nasi goreng buatan mereka. Sebelum ke kamar mereka membuat teh terlebih dahulu untuk diminum nanti setelah makan. Sesampainya di kamar, mereka bertiga langsung memakan nasi goreng bersama-sama. Setelah beberapa menit, nasi goreng itu ternyata belum habis mereka makan. Kemudian Munir dan Ridwan datang meminta nasi goreng buatan mereka bertiga. Pada saat Munir dan Ridwan mencoba memakan nasi goreng itu ternyata nasi goreng buatan mereka bertiga enak. Akhirnya mereka berlima menamakan nasi goreng tersebut menjadi Nasi Goreng SSB, panjangnya nasi goreng sambut santri baru. Karena mereka membuat nasi goreng tersebut diawal kedatangan Dirga sebagai santri baru di Sabilulhuda.***

( DIRGA )