Solidaritas Lupa Batas

Kata solidaritas, tentunya sudah tidak asing lagi bagi semua orang. Khususnya, kaum milenial zaman sekarang. Makna dari solidaritas sendiri yaitu, memperlihatkan sikap kesetiakawanan atau perasaan bersatu dalam mencapai tujuan demi terwujudnya keinginan yang sama. Begitu banyak orang yang berlomba-lomba memperlihatkan jiwa solidaritas tinggi, bukan karena paham betul akan makna solidaritas yang sesungguhnya. Akan tetapi, hanya karena ingin terlihat menarik dan dianggap “keren” di mata orang lain. Seperti halnya kisah di bawah ini.

Hari masih pagi, di sebuah Panti Asuhan Melati sudah terdengar suara anak-anak heboh mempersiapkan sesuatu.

“Girls..ingat kan, nanti sore kita ada acara memenuhi undangan ke hotel Bintang 5 ?” Ucap Rani memastikan.

“Ingat dong…” Jawab teman-teman Rani kompak

“Good, pokoknya kita harus berpenampilan semenarik mungkin ya, meskipun kita anak panti tetap harus memikirkan penampilan yang bagus, rapi pokoknya jangan sampai malu-maluin.” Timpal Rani lagi menegaskan.

“Oke, siap.” Jawab teman-teman bersamaan.

“Tapi baju yang ku punya cuma itu-itu saja kalau bepergian, rasanya bosan sama baju-baju sendiri.” Keluh Yana.

“Iya nih, bosan.” timpal yang lainnya juga saling bersahutan setuju dengan ucapan Yana.

“Hemm..bagimana ya, oh iya aku ada ide, bagaimana kalau kita tukar-tukaran baju. Biar tidak bosan dan terlihat tampil beda gitu..” sahut Rani memberi ide.

“Wah boleh juga tuh aku setuju.” Jawab Yana.

“Yang lain bagaimana girls, setuju tidak ?” Tanya Rani.

“Setuju..” jawab yang lainnya bersamaan.

Setelah mendapat jawaban banyak yang setuju dengan ide Rani, semuanya pun kembali ribut memilih dan memilah baju yang akan mereka saling pinjam. Namun, rupanya ada salah satu diantara mereka yang kurang setuju dengan ide Rani tersebut. Orang itu bernama Syifa, dan ia mencoba mengutarakan pendapatnya.

“Teman-teman, maaf sebelumnya. Apa tidak sebaiknya kita berpakaian seperti yang biasanya kita pakai, apa adanya yang kita punya sendiri saja yang kita pakai. Menurutku ini terlalu berlebihan.” Ucap Syifa dengan nada halus takut teman-temannya tersinggung.

“Ah enggak! Pokoknya kita harus tampil beda dan lain dari yang biasanya.” Timpal Rani dengan cepat tetap bersikukuh dengan ide nya.

“Iya Syifa, nggak apa-apa sekali-kali.” Sahut yang lainnya juga yang masih setuju dengan ide Rani.

” Ya sudah, terserah kalian saja, tapi aku lebih nyaman pakai baju aku sendiri, jadi maaf aku tidak ikut bertukaran baju.” Ucap Syifa.

Waktupun berjalan, kini sudah sore dan semua anak-anak sudah siap untuk berangkat kunjungan ke Hotel Bintang 5. Seluruh anak-anak dipersilahkan untuk ke luar dari Panti menuju bis yang sudah disediakan untuk segera berangkat ke Hotel. Rani bersama teman-temannya pun berjalan keluar, bagai para bidadari yang keluar dari singgasana nya. Mereka tampak cantik nan anggun dengan pakaian gamis lengkap dengan hijab syar’i yang mereka kenakan.

“Masya Allah, cantiknya anak-anak panti kita ya Bu hida, solid dan kompak lagi.” Ucap Bu Dina kagum.

“Iya Bu, ayu-ayu dan kompak anak-anak kita.” Jawab Bu hida.

Rani dan teman-temannya pun saling tersenyum merasa senang dengan pujian kedua ibu pengasuh di panti tersebut.

Seluruh keluarga besar Panti Asuhan Melati pun segera bergegas pergi dan menikmati acara yang diselenggarakan di Hotel Bintang 5. Anak-anak pun terlihat bahagia dan antusias dengan acara dan sajian yang diselenggarakan di sebuah hotel tersebut, karena pengalaman seperti ini sangat jarang dirasakan oleh anak-anak Panti.

Rasa bahagia dan senang masih mereka rasakan hingga mereka sudah kembali lagi ke Panti. Namun, tiba-tiba satu demi satu dari mereka mengeluh merasakan gatal-gatal ditangan bahkan menjalar hampir ke seluruh badan.

“Aduhh, kenapa ini kog tiba-tiba gatal-gatal begini badanku.” Ucapa Yana.

“Iya nih, aku juga..iya aku juga..sahut yang lainnya bergantian.

“Kenapa ya, aku juga nih?!”keluh Rani.

Sudah hampir tiga hari gatal-gatal mereka tak kunjung sembuh, padahal sudah diobati dengan salep. Merasa ada yang tidak beres, Bu hida mengumpulkan semua anak-anak untuk membahas perihal gatal-gatal yang sedang mereka alami.

“Hampir dari kalian semua gatal-gatal, tapi kenapa Syifa tidak ya ?” Tanya Bu hida heran merasakan ada yang tidak beres.

“Sebelumnya saya minta maaf Bu, jika dugaan saya ini salah. Mungkin karena teman-teman waktu ke acara tukar-tukaran baju Bu, tapi saya tidak.” Ujar Syifa.

“O ya bisa jadi ini, meskipun kalian tinggal satu atap selalu bersama bukan berarti apa-apa bisa dilakukan buat bareng-bareng ya anak-anakku. Kita ini memang sama-sama manusia, tapi tentunya kita mempunyai jenis kulit yang berbeda, ada yang kulit sensitif ada yang tidak. Apalagi ibu tahu, dari kalian semua ini jika ibu lihat untuk merawat dan menjaga barang-barang kalian sendiri saja masih minim kesadaran. Ada yang suka rapi, ada yang cuek berantakan, ada yang rajin bersih-bersih, ada juga yang malas bersih-bersih. Nah, mari kita jadikan pelajaran karena terserang gatal-gatal ini kita semua harus bisa lebih menjaga kebersihan. Ibu paham, jika kalian ingin selalu terlihat kompak, solid dan ingin terlihat rapi dan cantik. Akan tetapi, kalian juga harus sadar bahwa itu semua tidak ada gunanya jika hal itu membuat kalian lalai, mengabaikan kebersihan dan kesehatan kalian sendiri.Untuk itu, bagaimana jika besok kita semua kerjabakti membersihkan lingkungan Panti, terutama kamar-kamar kalian dulu. Semua kasur dijemur, baju-baju kotor dicuci, jika perlu baju yang kalian pake direbus biar kumannya hilang.” Ucap Bu Yayuk menasehati panjang lebar yang ditutup dengan candaan.

“Hahaha… siappp Bu.” Jawab anak-anak kompak sambil tertawa dan penuh semangat.”***

( Atanshine )