Sabilulhuda, Yogyakarta – Dalam keseharian, ayah dan anak memiliki hubungan yang sangat unik. Ada kekaguman, kehangatan, hingga rasa aman yang hanya bisa diberikan oleh sosok dari ayah. Namun tanpa kita sadari, ada sikap-sikap yang sepele dari sang ayah ayah yang dapat menimbulkan luka secara emosional bahkan trauma jika dilakukan secara terus-menerus.
Banyak ayah yang tidak bermaksud melukai, tetapi mereka itu hanya belum memahami bagaimana peran ayah dalam membesarkan anak yang seharusnya mereka jalankan dengan bijak dan penuh kesadaran.
Tindakan Ayah Yang Seperti Apa Sehingga Berdampak Pada Perkembangan Anak
1. Bersikap Kasar Saat Marah Sehingga Luka yang Tertinggal Lama
Salah satu kesalahan ayah dalam parenting yang paling banyak terjadi adalah meluapkan emosinya yang secara berlebihan. Seperti bentakan, tatapan tajam, nada tinggi, atau kalimat seperti “Kamu ini gimana sih?!” dapat membuat anak itu merasa tidak aman.
Anak mungkin terlihat diam, tetapi di dalam hatinya itu muncul rasa takut, tidak percaya diri, dan sulit percaya pada orang lain. Ketika ayah menjadi sosok yang ia takuti, maka hubungan antara ayah dengan anaknya akan menjadi renggang. Padahal, seorang anak membutuhkan ayah yang menjadi tempat untuk berlindung, bukan sebagai sumber kecemasan.
Apa yang seharusnya kita lakukan sebagai seorang ayah?
- Tarik napas 3–5 detik sebelum merespons.
- Beri jeda, jangan langsung kita memarahi.
- Kita bisa gunakan kalimat seperti “Ayah tidak suka perbuatannya, bukan kamu sebagai anak.”
- Mengubah gaya komunikasi yang membuat anak merasa dihargai tanpa kehilangan batasan.
2. Meremehkan Perasaan Anak
Banyak dari kita sebagai ayah yang mana mereka tumbuh di dalam budaya bahwa “anak harus kuat”, “jangan cengeng”, atau “hal kecil saja kok nangis”. Tanpa kita sadari, ungkapan ini justru dapat membuat anak itu merasa tidak layak untuk merasakan emosi.
Padahal, kemampuan dalam memahami emosi adalah pondasi penting dalam kecerdasan sosial anak. Jika ayah itu meremehkan atau mengabaikan perasaan dari anaknya, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit terbuka dan ia lebih memilih memendam masalahnya tersebut.
Cobalah respons seperti:
- “Ayah mengerti kamu sedih. Mau cerita?”
- “Wajar kok kamu marah. Yuk kita cari solusinya.”
- “Perasaanmu penting buat Ayah.”
Dengan cara ini, anak bisa memahami bahwa ayahnya hadir tidak hanya sebagai kepala keluarga, tetapi juga sebagai teman berbagi rasa.
Baca Juga:
3. Tidak Konsisten Memberikan Aturan
Sikap tidak konsisten adalah salah satu penyebab utama anak tumbuh menjadi bingung dan tidak disiplin. Misalnya, hari ini anak boleh bermain gadget 3 jam, tapi besok dimarahi karena hal yang sama. Atau pada satu waktu ayah memperbolehkan anak makan sambil menonton TV, namun keesokan harinya mereka di larang keras.
Ketidakpastian ini dapat menciptakan rasa ragu dalam diri anak tentang apa yang benar dan salah.
Dalam jangka panjang, anak bisa tumbuh manipulatif hanya karena mereka belajar “cari momen ketika ayah sedang mood nya baik”.
Agar tidak mengulang kesalahan ini, ayah bisa:
- Buat aturan sederhana dan tetap.
- Pastikan ayah dan ibu menerapkan peraturan yang sama.
- Jelaskan alasan aturan itu dibuat, bukan sekadar melarang.
Konsistensi ini bukan soal keras atau tegas, tapi soal kejelasan yang membuat anak itu merasa aman.
4. Terlalu Sibuk dan Tidak Hadir Secara Emosional
Banyak ayah yang berpikir: “Aku bekerja keras agar keluarga tercukupi.” Itu memang benar dan mulia. Tetapi ketika anak jarang mendapatkan waktu khusus dengan ayahnya, anak bisa merasa tidak dianggap penting.
Anak tidak membutuhkan ayah yang selalu ada 24 jam. Tetapi anak hanya membutuhkan ayah yang hadir secara menyeluruh ketika sedang bersama. Seperti tatapan mata, senyum, mendengar cerita, atau hanya duduk berdampingan sudah lebih dari cukup.
Tips supaya ayah lebih hadir:
- Sediakan waktu rutin 10–20 menit per hari khusus untuk anak.
- Letakkan ponsel saat bersama anak.
- Tanyakan tiga hal setiap malam: “Apa yang buat kamu senang hari ini? Apa yang buat sedih? Apa yang mau kamu ceritakan ke Ayah?”
Momen yang sederhana seperti ini dapat menciptakan kenangan yang dapat bertahan seumur hidup.
5. Menuntut Prestasi Berlebihan
Dorongan agar anak sukses itu baik, tetapi tuntutan yang berlebihan justru dapat membuat anak tertekan. Terutama jika ayah sering membandingkan:
- “Lihat tuh temanmu rangking 1.”
- “Kamu harus lebih baik dari sepupumu.”
- “Kok nilaimu begini?”
Tekanan yang semacam ini dapat membuat anak kehilangan rasa kepercayaan diri dan merasa bahwa cinta ayah hanya muncul jika ia berprestasi.
Padahal yang anak butuhkan bukan tekanan, tetapi dukungan.
- Berikan motivasi yang sehat
- Apresiasi proses, bukan hanya hasil.
- Katakan bahwa setiap anak unik dengan kecepatannya sendiri.
- Fokus pada kemajuan walaupun itu kecil.
Anak yang merasa dicintai tanpa syarat akan jauh lebih mudah meraih prestasi dengan cara yang positif.
Baca Juga:
6. Tidak Memberi Pelukan dan Sentuhan Hangat
Sentuhan ayah juga memiliki efek yang luar biasa. Anak yang sering dipeluk ayah akan tumbuh lebih percaya diri dan mampu mengelola stres dengan baik. Namun sebagian ayah merasa canggung menunjukkan kehangatannya secara fisik.
Jangan salah, pelukan bukan hanya milik ibu.
Pelukan ayah adalah sebagai kekuatan emosional bagi anak, yaitu sebuah perlindungan paling awal yang mereka kenal.
Jadi, jangan malu memeluk anak, mengusap kepala, atau menggandeng tangan mereka. Ini bukan tanda lemah, melainkan sebagai tanda cinta.
7. Mengancam Tanpa Maksud Menepati
Kalimat seperti:
- “Awas ya nanti Ayah hukum!”
- “Kalau kamu nakal, Ayah tinggalin!”
- “Jangan bikin Ayah marah, nanti Ayah pergi!”
Perkataan yang seperti ini adalah bentuk ancaman secara psikologis yang membuat anak tidak hanya takut, tapi merasa tidak dicintai. Jika sering kita lakukan, ini bisa menjadi trauma emosional yang membuat anak tumbuh tidak percaya diri dan takut mengambil keputusan.
Ancaman tidak pernah mendidik. Tetapi hanya akan menciptakan rasa ketakutan, bukan kesadaran.
Ayah Jangan Lakukan Ini
Dalam dunia parenting modern, peran ayah jauh lebih luas dari hanya sebatas mencari nafkah. Ayah adalah pelindung, teladan, dan teman belajar bagi anak. Karena itulah penting sekali untuk menyadari tindakan-tindakan sepele yang bisa menyakiti mental anak.
Sebagai pengingat:
- Jangan marah berlebihan
- Jangan meremehkan perasaan
- Jangan tidak konsisten
- Jangan absen secara emosional
- Jangan menuntut berlebihan
- Jangan memberi ancaman
- Jangan mengabaikan sentuhan hangat
Semua pesan di atas adalah bentuk rasa cinta dari ayah yang ingin menjadi lebih baik.
Jika ayah mampu menghindari semua ini, maka hubungan ayah dan anak akan tumbuh kuat, aman, dan penuh kepercayaan. Dan begitulah seharusnya peran ayah dalam membesarkan anak, sehingga mereka menjadi sosok yang
- Membimbing, bukan melukai.
- Menuntun, bukan menekan.
- Mencintai, bukan menakut-nakuti.
Karena itu, ingatlah selalu:
“Ayah jangan lakukan ini—anak bisa trauma!” Tapi kabar baiknya, ayah selalu punya kesempatan untuk berubah dan memperbaiki segalanya.
Baca Juga: PRINSIP DALAM MENDIDIK ANAK















