BAMBANG OEBAN: TANAH PUSAKA NEGERIKU YANG MULIA

Ilustrasi satir seorang seniman memprotes di depan balai kota sambil memegang poster bertuliskan “Seniman Bukan Pengemis” dan berbicara lantang meminta perhatian pemerintah.
Ilustrasi satir yang menggambarkan suara para seniman yang menuntut perhatian, ruang, dan dukungan dari pemerintah kota.

Sabilulhuda, Yogyakarta: BAMBANG OEBAN: TANAH PUSAKA NEGERIKU YANG MULIA

Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk s'lama-lamanya.
Indonesia, tanah pusaka,
P'saka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.
Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya,
Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.

Indonesia, tanah yang mulia,
konon katanya kaya raya, dari Sabang sampai Merauke,
yang miskin cuma … data statistiknya saja. Gunung menjulang, laut terhampar, tapi isi dompet rakyat, sering lebih tipis dari tissue warung kopi di pinggir jalan.

“Di sanalah aku berdiri…”
Iya, berdiri sih berdiri, pakde.
tapi seringnya kami berdiri, di antrean bantuan sosial, berdiri di perempatan menunggu lampu hijau kapan rejeki datang, dan berdiri bengong melihat harga kebutuhan melonjak seperti roket buatan negara tetangga.



Indonesia Raya bukan cuma lagu, tapi pengingat bahwa negara ini bukan panggung sandiwara. Kita boleh berdebat, bersuara keras, asal bukan malah banyak yang keras kepala, padahal …

Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
N'jaga ibu sejati.
Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.
S'lamatlah rakyatnya,
S'lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg'rinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.
Refrain
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg'riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Baca juga:

IMAM MA’ARIF: SURAT KEPADA WALIKOTA YANG MEWAKILI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Pak Wali yang kami hormati—

(ya, hormati dulu, biar suasananya adem, nanti setelah itu kita pedas-pedasin sedikit, nggak apa-apa, cuma malam ini saja …)

Kami datang bukan membawa proposal setebal skripsi, bukan pula membawa kwitansi yang siap ditandatangani, apalagi stempel palsu untuk cair-cairan misterius, di ruang siluman. Tidak, Pak.

Kami datang membawa suara:

suara serak yang sudah kebanyakan menyanyi di panggung tenda, suara seret yang kebanyakan pidato tanpa mikrofon, suara seretih kantong kami—yang kalau dibuka kadang hanya berisi doa, perlu rasa sabar dan tawakal sepanjang masa.

Pak Wali,

di negeri ini yang katanya menjunjung mulia seni budaya, nasib seniman sering kalah mulia dibanding nasib panci bolong di dapur umum. Panci bolong masih mungkin ditambal, tapi nasib seniman?

Kadang cuma bisa ditambah, ditambah sabar, ditambah diam, ditambah pasrah. Kami bukan pengemis, Pak.

Tolong garis bawahi itu.
Kalau perlu pakai spidol permanen,
warna merah menyala, tempel di pintu kantor Balai Kota:

BAMBANG OEBAN
SENIMAN BUKAN PENGEMIS, SENIMAN MENAWARKAN KARYA
BUKAN MEMINTA SISA-SISA ANGGARAN

Kami juga bukan buzzer yang bisa disuruh tepuk tangan

setiap kali Bapak potong pita, lalu kami dibayar dengan “terima kasih ya, Mas-mas Seniman …
akan kami kabari kalau ada acara lagi.”

(Kabarnya biasanya datang tiga tahun kemudian, setelah Bapak ganti staf protokol.)

Pak Wali yang bijak,

  • Kami ini pejuang yang kadang gagal disyukuri.
  • Kami yang membuat kota ini punya wajah lain selain beton, macet, dan baliho ukuran truk kontainer.
  • Kami yang menulis, menari, melukis, menyanyi, memahat, menembang, yang menjaga agar kota ini tetap punya ruang jiwa, bukan hanya ruang parkir.

Tapi hidup kami sering seperti slogan murahan:

“Bangga jadi seniman!”
tapi isi dompet berkata:
“Bangga boleh, lapar jangan.”

Pak Wali, kami mau bicara jujur, seniman di kota ini banyak yang hidupnya seperti modem rusak: nyala-mati, nyala-mati, sinyal penuh tapi kuota kosong.

  • Ada yang kerja serabutan demi membiayai latihan,
  • Ada yang jual gitar demi bayar kontrakan,
  • Ada yang menjual lukisan dengan harga

lebih murah dari parkir satu bulan, ada penyair yang puisinya viral tapi dia sendiri tak punya uang untuk naik ojek, makan pun nasi bungkus mau basi.

Baca Juga:

IMAM MA’ARIF

Padahal, Pak Walikota
yang mewakili Presiden Republik Indonesia!

Kalau kota ini mau jujur pada sejarahnya, yang membuat kota ini hidup bukan hanya bangunan megah, tapi jiwa-jiwa merdeka yang mengekspresikan hidup.

Tanpa seni, kota ini cuma mall besar tanpa lampu.
Tanpa seniman, kota ini cuma mesin fotokopi;
bunyinya keras, hasilnya sama semua.

  • Kami bukan minta disembah.
  • Kami bukan minta anggaran fantastis kayak proyek drainase.
  • Kami cuma ingin keteraturan, ruang berkarya,

perlindungan, akses, kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan seni.

Pak Wali,

  • kami ingin menyampaikan kritik. Tenang, ini bukan ancaman.
  • Kami tidak sedang menggalang massa dengan pentungan.
  • Kami hanya membawa kata-kata, yang tajam bila perlu,

tapi tetap dari hati, karena kritik sejati itu bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk membenahi.
Kritik kami sederhana, Pak:
tolong lihat nasib seniman, dengan mata yang sama
Bapak melihat potensi wisata dan investasi.
Karena seni adalah investasi paling halus, paling damai,
paling mendidik, paling tahan lama, bukan paling-paling!
Ketika bangunan runtuh, ketika jabatan berganti,
ketika plakat peresmian berkarat, karya seni masih bisa bicara. Tapi bagaimana karya seni bisa bicara
kalau senimannya kehabisan suara?

BAMBANG OEBAN

Pak Wali,

kami ingin perubahan kebijakan, bukan sekadar pencitraan.
Kebijakan yang bukan hanya unggahan Instagram,
atau liputan media dengan kalimat “Apresiasi Pemerintah Terhadap Seniman”.
Bukan, Pak.

Kami ingin perubahan nyata:

Ruang Berkesenian Gratis atau Terjangkau,

  • agar seniman tidak harus latihan di gudang kosong
  • atau meminjam halaman tetangga.

Dana Pembinaan yang Transparan,

  • bukan berdasarkan kedekatan atau sogokan kopi sachet.

Program Pelatihan, Residensi, dan Festival Tahunan,

  • yang jelas, rutin, dan bergengsi.

Fasilitas Dokumentasi dan Publikasi,

  • agar karya kami bisa hidup lebih lama dari masa jabatan siapapun.

Perlindungan Sosial untuk Seniman,

  • yang kadang lebih rentan dari petani,
  • lebih terabaikan dari pedagang kecil,
  • tapi justru sering jadi ikon kota.

Kerja Sama Internasional,

  • agar seniman kota ini tidak hanya tampil

di acara 17-an komplek perumahan, tapi bisa menembus panggung dunia.

Pak Wali, Izinkan kami agak pedas sedikit… Kami tahu anggaran sering bocor. Kami tahu proyek sering seperti drama Korea: penuh kejutan, penuh air mata, dan kadang penuh cinta-cintaan yang tak sehat.

Baca Juga:

IMAM MA’ARIF

Kami tahu ada yang lebih sibuk memikirkan tender
daripada mendengar tangisan para pekerja seni.
Tapi kami juga percaya:
dalam hati Bapak masih ada ruang yang lembut,
ruang yang ingin kota ini bukan hanya maju,
tapi berbudaya.
Bapak sering disebut “Bapak Kesenian”.
Julukan itu bukan sekadar pujian,
tapi tanggung jawab.
Bapak tahu sendiri:

namanya “bapak”,
kalau anaknya lapar,
ya diberi makan,
bukan disuruh nunggu
sampai ganti periode.
Kami datang bukan membawa ancaman,
bukan membawa poster demo,
bukan ingin jadi duri dalam kursi empuk pemerintahan.
Kami datang membawa harapan:
bahwa seni bisa hidup,
bahwa seniman bisa tegak,
bahwa kota ini bisa punya wajah
yang tidak hanya beton,
tapi juga warna-warni jiwa.

Pak Wali,

jangan biarkan seniman hidup di persimpangan:
“hidup segan mati tak mau.”
Kalau seniman mati,
kota ini akan kehilangan suara hatinya.
Kalau seniman padam, kota ini akan hilang arah.

BAMBANG OEBAN                       

Pak Walikota yang mewakili Presiden Republik Indonesia

  • dengan segala hormat,
  • dengan segala humor yang sengak,
  • dengan segala keberanian yang rapuh,
  • dengan segala kesedihan yang kami sembunyikan

di balik tawa dan pertunjukan,
kami menulis puisi pamflet ini
sebagai teguran,
bukan kemarahan.
Sebagai doa,
bukan kutukan.
Sebagai janji,
bahwa kami akan terus berkarya,
asal Bapak juga berjanji
untuk tidak menutup mata.
Akhir kata, Pak Wali,
kami hanya ingin kota ini jadi kota yang ramah seni.

  • Kota yang tidak hanya membangun trotoar, tetapi juga membangun ruang imajinasi.
  • Kota yang tidak hanya sibuk mengejar PAD, tetapi juga menjaga denyut kebudayaan.
  • Kota yang tidak hanya memotret seniman untuk laporan kegiatan, tetapi benar-benar merawat kehidupannya.

Karena seni bukan hiasan, seni adalah denyar kehidupan.

Dan seniman bukan pengemis, seniman adalah penjaga cahaya. Jika kami pedas, itu karena kami sayang pada kota ini. Kalau kami sengak, itu karena kami ingin kota ini terus hidup. Kalau kami satir, itu bukan untuk mempermalukan,

tapi untuk membangunkan.

IMAM MA’ARIF

Pak Wali, dengarkanlah.
Kami bicara bukan untuk diri kami sendiri,
tapi untuk masa depan kota ini.
Sebab bila seniman diberi ruang,
kota ini akan tumbuh.
Dan bila kota ini tumbuh,
nama Bapak akan harum
sepanjang sejarah.
Itulah pamflet kami pedas, sengak, tapi penuh cinta.

Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
N’jaga ibu sejati.
Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.
S’lamatlah rakyatnya,
S’lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg’rinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.
Refrain
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg’riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Baca Juga: Butet Dan Ucok : Cerita Rakyat Batak Karya Bambang Oeban