Tahukah Engkau, Pernikahan Itu untuk Ibadah?

Keluarga Muslim membangun pernikahan dalam Islam sebagai jalan beribadah kepada Allah
Keluarga Muslim bersama membangun rumah tangga berdasarkan ibadah, kasih sayang, dan ketaatan kepada Allah. (Gambar hasil AI)

Terakhir Diupdate: Senin 05 Oktober 2026

Pernikahan Adalah Bagian dari Ibadah kepada Allah

Wahai akhi/ukhti, Tahukah engkau? Bukankah Allah berfirman:

QS. Adz-Dzariyat 51:56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Maka urusan kita adalah beribadah kepada Allah. Termasuk dalam ikatan suci ini.

Maka sesungguhnya ikatan pernikahan ini adalah untuk menegakkan hukum-hukum Allah. Di dalam ikatan pernikahan, suami dan istri hanya berpikir, bertujuan, berlaku untuk menerapkan hukum-hukum Allah. Bukan tujuan selainnya.

Begitu pentingnya menerapkan hukum-hukum Allah. Bahkan, seandainya di dalamnya hukum Allah tidak dapat ditegakkan, maka perceraian itu lebih baik.

Baca Juga: 3 Alasan Utama Mengapa Banyak Orang Terjebak Dalam Pernikahan Yang Salah

Pernikahan untuk Ketenangan, Kasih Sayang, dan Rahmat

Pernikahan bukan hanya sebuah ikatan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga menjadi salah satu tanda kekuasaan Allah.

QS. Ar-Rum 30:21

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

Baca Juga: Kisah Horor Nyata: Pesta Pernikahan Misterius Dengan Tamu Berkaki Kambing

Menegakkan Hukum Allah dalam Pernikahan

QS. Al-Baqarah 2:229

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلَّا أَنْ يَخَافَا أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.

Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.

Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Baqarah: 229)

Tetapi perceraian tetaplah hal yang sangat dibenci Allah. Sisihkan jauh pikiran untuk itu.

Maka maksudnya adalah bersungguh-sungguhlah dalam menegakkan hukum Allah di dalam keluarga, karena itu hal yang sangat-sangat penting.

Baca Juga: Doa Pernikahan Islam: Panduan Lengkap Bacaan & Waktu Terbaik Membacanya

Suami dan Istri Saling Menjaga

Wahai akhi/ukhti, Ketahuilah bahwa suami dan istri memiliki kedudukan untuk saling menjaga dalam kehidupan rumah tangga.

QS. Al-Baqarah 2:187

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ

“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Wahai akhi/ukhti,

Pernikahan bukan hanya tentang kehidupan bersama, tetapi juga tentang saling menjaga, saling menutupi kekurangan, dan saling membantu dalam kebaikan.

Baca Juga: Menikah Cepat Atau Tepat 

Suami sebagai Imam bagi Keluarga

Wahai akhi/ukhti, Tahukah engkau?

Allah sudah menetapkan laki-laki sebagai imam bagi keluarganya.

QS. An-Nisaa 4:34

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
(QS. An-Nisaa: 34)

Tentu saja imam mesti ditaati oleh makmumnya.

Tetapi bukankah imam tidaklah selalu benar?

Jika terjadi kesalahan, maka wajib bagi makmum untuk mengingatkannya dan imam harus mengindahkan peringatan itu.

Dan bukankah seburuk-buruk imam adalah imam yang dibenci oleh makmumnya?

Maka semestinya imam berusaha menjadi sosok yang senantiasa dicintai sang makmum.

Baca Juga: Ketentuan Memberi Mahar untuk Menikah

Bergaul dengan Pasangan secara Patut

Allah juga mengingatkan agar pasangan diperlakukan dengan baik.

QS. An-Nisaa 4:19

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
(QS. An-Nisaa: 19)

Kewajiban Suami Menjaga Keluarga

Wahai akhi/ukhti,

Ketahuilah, ini yang menjadi kewajiban suamimu.

QS. At-Tahrim 66:6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Wahai ukhti,

Tolong bantulah imammu karena jika tidak, celakalah dia.

Dia akan diharamkan masuk surga.

Renungkan hadist ini:

“3 golongan yang Allah mengharamkan masuk surga, yaitu: peminum minuman keras, orang durhaka (terhadap ibu bapaknya), dan dayyuts yaitu orang yang membiarkan perbuatan dosa keluarganya.”
(HR. Ahmad)

Maka apa jadinya suami yang tidak ditaati istrinya?

Bukan barakah yang ada, tapi justru kecelakaan besar di akhirat yang kekal yang menunggunya.

Baca Juga: Bila Allah Mengizinkan Ku untuk Menikah

Istri dan Anak sebagai Ujian bagi Keluarga

Dan ketahuilah,

Wahai akhi/ukhti,

Bahwa Allah telah mengingatkan bahwa ada sebagian dari manusia yang istri/suami dan anak menjadi fitnah bagi anggota keluarga yang lain.

QS. At-Taghabun 64:14–17

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu (kadang-kadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama), maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. At-Taghabun: 14)

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
(QS. At-Taghabun: 15)

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. At-Taghabun: 16)

إِن تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ

“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.”
(QS. At-Taghabun: 17)

Maka jangan buru-buru marah ketika suami memarahimu.

Bisa jadi dia sedang melakukan tugasnya dari Allah untuk menyelamatkan keluarganya dari api neraka.

Bersabarlah, wahai akhi/ukhti.

Doa untuk Keluarga yang Saleh

Wahai akhi/ukhti,

Pernikahan juga merupakan jalan untuk membangun keluarga yang menjadi penyenang hati dan keluarga yang bertakwa.

QS. Al-Furqan 25:74

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’”
(QS. Al-Furqan: 74)

Keluarga yang Dipertemukan di Surga

Wahai akhi/ukhti,

Jika hal-hal itu sungguh kita tegakkan, InsyaAllah kita menjadi bagian dari mereka yang dipertemukan di surga pada keluarga-keluarga mereka dengan bahagia.

QS. Al-Insyiqaq 84:6–9

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.”
(QS. Al-Insyiqaq: 6)

فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ

“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya,”
(QS. Al-Insyiqaq: 7)

فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

“Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah,”
(QS. Al-Insyiqaq: 8)

وَيَنقَلِبُ إِلَىٰ أَهْلِهِ مَسْرُورًا

“Dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.”
(QS. Al-Insyiqaq: 9)

Wahai akhi/ukhti,

Tahukah engkau, …