Filosofi Ngelmu Pring, Sebuah Pesan Luhur Jawa yang Membumi

Ilustrasi laki-laki Jawa berbusana tradisional berdiri di samping rumpun bambu, menggambarkan filosofi Ngelmu Pring tentang kebijaksanaan dan kerendahan hati.
Ilustrasi bambu dan sosok laki-laki Jawa yang melambangkan ajaran luhur Ngelmu Pring: hidup yang lentur, rendah hati, dan selaras dengan alam.

Sabilulhuda, Yogyakarta: Filosofi Ngelmu Pring, Sebuah Pesan Luhur Jawa yang Membumi – Dalam kekayaan Budaya Jawa, bambu atau pring bukan hanya sebagai tanaman yang tumbuh secara bergerombol di pinggir desa. Bagi masyarakat Jawa, pring menyimpan nilai filosofis yang sangat dalam. Mulai dari bentuknya, cara tumbuhnya, hingga manfaatnya.

Sehingga tanaman bambu bagi orang jawa menganggapnya sebagai simbol kehidupan, kerendahan hati, sekaligus juga kebijaksanaan. Dari sini lahirlah sebuah ajaran yang sampai sekarang kita kenal sebagai Ngelmu Pring. Yaitu sebuah pandangan hidup yang mengajarkan bagaimana manusia itu seharusnya bersikap dalam menjalani kehidupan.

Apa Itu Ngelmu Pring?

Ngelmu Pring adalah ajaran filosofi yang mengambil pelajaran dari karakter tanaman bambu. Dalam kehidupan sehari harinya orang Jawa, bambu bukan hanya sebagai bahan bangunan atau alat keseharian. Tetapi  orang jawa menganggapnya sebagai guru kehidupan.

“Pring iku guru, wong urip kudu iso nyandhak ati kaya pring,” begitulah kira-kira pesan yang sering disampaikan para sesepuh kita. Artinya, orang hidup harus bisa meneladani seperti sifat dari tanaman bambu. Yaitu lentur, rendah hati, bermanfaat, dan mampu berdiri dengan teguh meskipun diterpa angin kencang.

Ajaran ini telah ada sejak lama, kemudian diwariskan secara turun-temurun dalam bentuk pitutur lisan, peribahasa, hingga praktek kehidupan sehari-hari terutama orang jawa itu sendiri.

Pring Sedapur Makna Kebersamaan yang Tak Terpisahkan

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa juga terdapat konsep Pring Sedapur, yaitu bambu yang tumbuh secara berdekatan dan memiliki akar yang saling terhubung. Secara alami, rumpun bambu hanya bisa hidup jika bergerombol, sehingga tidak bisa berdiri sendiri.

Baca Juga:

Dari sifat ini, lahirlah pelajaran bahwa:

  • Manusia tidak akan menjadi besar jika mereka hidup sendirian.
  • Kekuatan hidup itu terletak pada guyub rukun, kebersamaan, dan saling menopang satu sama lain.
  • Hubungan keluarga harus kita jaga seperti akar bambu yang saling menguatkan.

Konsep Pring Sedapur inilah yang menjadi salah satu kata kunci utama dalam Filosofi Jawa. Karena konsep ini mencerminkan nilai dasar terutama masyarakat Jawa, yaitu hidup rukun, harmonis, dan saling menjaga.

Di dalam dunia modern, ajaran ini masih sangat relevan sekali. Apalagi di tengah kehidupan yang serba cepat dan individualistis, sehingga manusia tetap membutuhkan ruang bersama. Yaitu sebuah keluarga, sahabat, atau komunitas yang memberi dukungan secara emosional maupun spiritual.

Sifat Lentur Bambu Sebagai Ajakan untuk Luwes Tanpa Kehilangan Jati Diri

Salah satu ciri yang paling terlihat dari bambu adalah kelenturannya. Saat angin kencang menerpanya, bambu tersebut tidak patah. Tetapi hanya mengikuti arah angin, kemudian akan kembali tegak setelahnya.

Inilah inti dari Ngelmu Pring:

“Luwes ing wewadi, teguh ing prinsip.”

Artinya, manusia harus mampu menyesuaikan dirinya dengan keadaan tanpa kehilangan prinsip yang dipegangnya.

Sikap lentur ini bukan berarti mereka itu lemah. Justru, hal ini merupakan sebuah kekuatan yang membuat seseorang itu mampu bertahan dalam situasi sesulit apapun.

Maka dalam Filosofi Jawa, kelenturan bambu menjadi simbol sebagai bentuk dari kebijaksanaan, kedewasaan, serta kemampuan mereka dalam mengelola emosi.

Di era modern yang seperti sekarang ini, kemampuan yang adaptif ini dikenal sebagai resilience, dan menjadi keterampilan hidup yang sangat penting.

Rongga Kosong di Dalam Bambu Sebagai Lambang Kerendahan Hati

Jika kita perhatikan, pada bagian dalam batang bambu pasti selalu berongga. Rongga inilah yang orang jawa menjadikan sebagai simbol dari sifat yang rendah hati dan lapang dada.

Dalam sudut pandang Budaya Jawa, jika seseorang yang mana mereka itu  sombong diibaratkan seperti bejana yang penuh dengan air. Yaitu mereka tidak bisa menerima pengetahuan baru. Sebaliknya, rongga pada bambu melambangkan:

  • Hati yang bersih
  • Pikiran yang terbuka
  • Kerendahan hati
  • Kemauan untuk terus belajar

Karena itu, Ngelmu Pring mengajarkan kepada kita bahwa orang yang tinggi ilmunya justru akan semakin rendah hati. Ia tidak mudah tersinggung, tidak ingin menonjol, dan tidak memandang rendah terhadap orang lain.

Pepatah Jawa berbunyi:

“Ilmu kuwi digawa sithik wae, sing akeh kuwi watak lan tata krama.”

Pengetahuan hanyalah sarana. Yang membesarkan seseorang itu adalah sikap dan budi pekertinya.

Bambu Selalu Tumbuh ke Atas Sebagai Simbol Harapan dan Semangat Hidup

Tidak seperti banyak tanaman yang merambat atau merunduk, tetapi tanaman bambu selalu tumbuh mengarah ke atas. Ini dimaknai sebagai simbol harapan, doa, dan semangat hidup.

Baca Juga:

Orang Jawa memaknai sifat ini sebagai ajakan untuk:

  • Tetap optimis
  • Memiliki cita-cita yang lurus
  • Terus memperbaiki diri
  • Tidak putus asa dalam menghadapi kehidupan

Ajakan ini selaras dengan prinsip spiritual orang Jawa yang kita kenal dengan manunggaling cipta, rasa, lan karsa. Yaitu penyatuan pikiran, perasaan, dan kehendak menuju tujuan yang luhur.

Bambu yang Multiguna Sebagai Ajakan untuk Menjadi Manusia Yang Bermanfaat

Dari dapur hingga sampai ke ladang, bambu selalu mempunyai fungsi. Mulai dari pagar, alat musik, perabot rumah, hingga bahan bangunan, semuanya berasal dari bambu.

Karena itu, bambu diibaratkan sebagai manusia yang migunani tumraping liyan, yaitu bermanfaat bagi orang lain. Inilah salah satu esensi tertinggi dalam Filosofi Jawa.

Bagi masyarakat Jawa, hidup tidak hanya soal diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana dengan kehadiran kita dapat memberi kemaslahatan bagi sekitarnya. Sebagaimana bambu juga memberikan manfaat tanpa meminta balasan, manusia pun diajak untuk melakukan kebaikan tanpa pamrih.

Relevansi Ngelmu Pring di Era Modern Sekarang Ini

Di tengah dunia yang penuh tuntutan, persaingan, dan ketidakpastian, ajaran kuno seperti Ngelmu Pring ini justru semakin menemukan tempatnya. Nilai-nilai seperti kebersamaan, kelenturan dalam berpikir, kerendahan hati, dan semangat hidup adalah prinsip universal yang tetap kita semua membutuhkannya.

  • Ngelmu Pring mengajarkan manusia untuk tetap sederhana di tengah kemajuan.
  • Mengajarkan keseimbangan antara bekerja keras dan menjaga hubungan sosial.
  • Mengajarkan bagaimana kita dalam menghadapi tekanan hidup tanpa kehilangan arah yang benar.

Filosofi Jawa ini bukan hanya wasiat dari sesepuh yang di wariskan kepada kita. tetapi merupakan sebuah panduan yang masih bisa kita gunakan untuk menjalani hidup dengan lebih tenang dan juga bijaksana.

Nah itulah beberapa penjelasan tentang makna filosofi Ngelmu Pring.  Mulai dari Pring Sedapur yang mengajarkan kebersamaan, kelenturan bambu yang mencerminkan adaptabilitas.

Kemudian rongga bambu yang melambangkan kerendahan hati, hingga manfaat bambu bagi kehidupan manusia. Semuanya itu memberikan pelajaran yang penting bagi kita semua bagaimana manusia itu seharusnya menjalani hidup yang benar.

Baca Juga: Filosofi Bambu: Keteguhan, Kesederhanaan, dan Harmoni Kehidupan