Qorin (Cerbung Misteri Bab 43)

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Sabilulhuda, Yogyakarta: Angin lembut dini hari berhembus lembut, menyapu dedaunan bambu di halaman belakang langgar kecil milik Kyai Rasyid. Setelah pertemuan menegangkan dengan sosok jin bertanduk yang muncul dengan wujud mengerikan, suasana kembali sunyi — tetapi bukan ketenangan yang menggantung di udara. Ada sesuatu yang berat, gelap, dan tidak terlihat, seakan mengikuti langkah mereka dari jauh.

Kyai Rasyid menarik napas perlahan dengan dada yang masih terasa panas akibat serangan api ghaib tadi. Ia menepuk bahu Hanan yang masih terlihat pucat.

“Hanan, ayo… kita pulang. Kita perlu berdzikir dan berpikir untuk memecahkan masalah ini,” ucapnya lembut, namun mantap.

Hanan langsung menundukkan kepala.

“Sami’na wa atho’na, Kyai.”

Jawaban itu keluar penuh hormat, penuh adab — sesuatu yang selalu ditekankan pada dirinya sejak mulai nyantri. Baginya, seorang santri bukan hanya dituntut untuk cerdas, tapi juga beradab. Dan malam ini, adab itulah yang membuatnya mampu menjaga jasadnya tetap tegak setelah menyaksikan secara langsung makhluk dari alam lain.

Mereka berjalan menuju rumah Kyai Rasyid yang berada persis di samping mushola. Langkah Kyai Rasyid tenang, namun Hanan sesekali melihat ke belakang karena perasaan tidak enak masih menempel, seolah api merah itu sewaktu-waktu akan menyambar lagi.

Di rumah Burhan dan Maisaroh

Sementara itu, di sisi lain desa, Maisaroh duduk di pinggir ranjang. Matanya bengkak, rambutnya kusut tergelung sembarangan. Burhan berdiri di sudut kamar, memegangi kepala dengan kedua tangan, berkali-kali menghela napas panjang.

Keheningan rumah itu mencekik. Setelah sekian lama hidup dalam ketakutan karena kehilangan anak kandung, kini kenyataan terkuak dengan cara yang nyaris tak dapat dipercaya.

“Jadi… anak kita yang sebenarnya masih hidup,” gumam Maisaroh lirih, nadanya bercampur antara lega dan luka.

“Ya,” jawab Burhan pelan. “Arsyita… bukan anak orang lain. Dia anak kita. Dan Alisa—”

Burhan tak mampu melanjutkan. Kata itu terasa seperti batu besar di tenggorokan.

Baca Juga:

Maisaroh menunduk.

“Anisa yang meninggal… bukan anak kita…”

Matanya berkaca-kaca. “Tapi aku merawatnya seperti anak kandungku sendiri, Bur.”

Burhan duduk di sebelah istrinya. “Kamu ibu yang baik, Mais. Allah tahu itu.”

Keheningan kembali berlama-lama menggantung.

Maisaroh memandang dinding kosong.

“Tapi bagaimana dengan Arsyita? Anak itu sekarang yang syok. Dia sudah kehilangan pegangan. Dan Alisa…”

Pria paruh baya itu mengusap wajahnya.

“Allah pasti menolong mereka semua. Tapi kita harus kuat, Mai.”

Tiba-tiba Maisaroh menutup wajahnya dan menangis.

“Aku takut… aku takut semuanya tidak bisa diperbaiki… aku takut semua ini tidak termaafkan…”

Burhan memeluknya, meski hatinya sendiri penuh ketakutan. Kebenaran yang mereka temukan adalah anugerah, namun juga kutukan yang membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Arsyita — Gadis yang Kehilangan Dua Dunia

Di rumah lain, Arsyita duduk di sudut kamarnya. Kedua tangannya memegang ujung selimut, sementara matanya tidak fokus. Nafasnya tersengal, dadanya sesak.

Dibenaknya hanya ada satu kalimat:

“Aku bukan anak mereka… aku bukan siapa-siapa…”

Seumur hidup Arsyita merasa iba pada Alisa, sahabatnya, yang kehilangan sosok ibu kandung karena penukaran bayi. Tapi kini… ia sendiri berada di posisi itu. Dunia seakan membalik begitu cepat.

Dalam kepalanya berputar mimpi buruk: dirinya menangis di sebuah ruangan gelap, dikelilingi cahaya lilin dan suara lantunan mantra asing. Entah mimpi atau ingatan samar yang terkubur.

Air matanya jatuh satu per satu.

“Bu… Pak… siapa sebenarnya aku…?”

Ia menatap jendela. Malam seperti ikut memandangnya — diam, pekat, tak memberi jawaban.

Kembali ke rumah Kyai Rasyid

Setibanya di rumah, Kyai Rasyid mempersilakan Hanan masuk ke ruang tamu kecil. Di ruangan itu ada tikar pandan, rak kayu penuh kitab kuning, dan sebuah lampu minyak yang redup.

Keduanya duduk bersila. Tanpa banyak berkata-kata, Kyai Rasyid mulai berdzikir. Hanan mengikutinya. Suasana menjadi sangat hening, hanya suara napas dan bisikan lembut pujian kepada Allah yang terdengar.

Mereka berdzikir lama — mungkin setengah jam, mungkin lebih. Hingga pada satu titik, Kyai Rasyid membuka mata perlahan.

“Hanan,” ucapnya dengan suara berat namun teratur. “Ketika berdzikir, ada sesuatu yang terlintas dalam batinku. Tentang kasus penukaran bayi itu… dan juga gangguan jin tadi.”

Hanan menelan ludah. “Apa itu, Kyai?”

Kyai Rasyid menatapnya dalam-dalam.

“Kamu pernah mendengar tentang aliran Bhairawa Tantra Nusantara?”

Hanan seketika tersentak, seperti tersambar angin dingin.

“Pernah, Kyai… tapi hanya sekilas. Saya belum memahami betul.”

“Aliran itu bukan sekadar legenda,” kata Kyai Rasyid. “Dulu, pada masa kerajaan, ada kelompok gelap yang menyimpang dari ajaran agama dan moral. Mereka percaya kekuatan hidup berasal dari lima unsur ritual yang mereka sebut Pancamakarapuja. Itu adalah ritual memuaskan hawa nafsu dan darah… sebuah penyembahan yang sangat sesat.”

Baca Juga:

Hanan merinding.

Pancamakarapuja…

Sebuah ritual kuno yang menuntut korban manusia — sering kali gadis kecil — sebagai persembahan bagi kekuatan gaib yang mereka puja.

“Tapi Kyai…” Hanan bersuara gemetar. “Aliran itu… bukankah sudah punah ratusan tahun lalu?”

Kyai Rasyid menggeleng perlahan.

“Tidak pernah benar-benar punah, Hanan. Kegelapan tidak hilang… ia hanya menunggu orang yang membangunkannya kembali.”

Hanan memeluk kedua tangannya. Rambut di tengkuknya berdiri satu per satu.

“Jadi… penukaran bayi itu… berkaitan dengan mereka?”

“Saya belum bisa memastikan,” jawab Kyai Rasyid. “Tapi firasatku kuat ke arah sana. Terlebih setelah kita bertemu makhluk tadi.”

Hanan menunduk. “Makhluk itu… menyebut bahwa manusia yang memujanya membuatnya kuat. Jangan-jangan…” ia berhenti, suaranya bergetar. “…ada kelompok manusia yang memuja makhluk itu untuk mendapatkan kekayaan… lalu menggunakan anak kecil sebagai alat ritual?”

Kyai Rasyid mengangguk perlahan. “…dan keluarga Bayu sedang berada di tengah badai itu.”

Hanan terdiam. Ia menutup muka dengan kedua telapak tangannya.

“Ya Allah… berarti penukaran bayi itu bukan sekadar kesalahan rumah sakit… tapi direncanakan… untuk sebuah ritual?”

“Belum tentu,” potong Kyai Rasyid. “Bisa jadi sebagian orang menggunakannya untuk kepentingan duniawi seperti harta, tidak sadar sedang menjadi alat dari golongan jin.”

“Tapi Kyai…” suara Hanan makin pelan. “Aliran Bhairawa Tantra… tidak mungkin muncul tanpa seorang pemimpin… atau guru besar.”

Kyai Rasyid menatapnya, lalu berkata lirih:

“Dan guru besar itu biasanya adalah manusia — bukan jin.”

Sekujur tubuh Hanan terasa lemas.

Kyai Rasyid Menjelaskan Jejak Kuno

Kyai Rasyid membuka lemari tua dan mengeluarkan sebuah kitab lusuh dengan kulit kayu jati. Ia meletakkannya di antara mereka.

“Ini adalah terjemahan naskah tua yang pernah ditulis ulama abad ke-17. Di dalamnya dicatat bagaimana aliran Bhairawa di Nusantara memadukan ilmu kebatinan, tantra India, dan pemujaan jin untuk tujuan keji.”

Ia membuka halaman tertentu.

“Lihat ini. Ada bagian yang menjelaskan bahwa untuk mendapatkan kekuatan dan harta, mereka harus mengikat jin penjaga. Jin itu diberi persembahan — kadang berupa darah, kadang berupa anak kecil.”

Hanan memejamkan mata, mual.

“Kyai… jangan bilang keluarga Bayu dulu terlibat—”

“Tidak,” jawab Kyai Rasyid cepat. “Bukan mereka. Tapi…”

Beliau menghela napas panjang.

“…aset kekayaan keluarga Bayu diincar oleh seseorang yang mempraktikkan ritual itu.”

“Karena harta itu dulu…” lanjutnya pelan,

“…terkait dengan seseorang yang pernah memuja makhluk tadi.”

Hanan terpaku, tubuhnya membeku.

“Berarti…”

Suaranya tercekat.

“Masalah ini lebih besar daripada yang saya pikir.”

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA

Benang Merah yang Mulai Terlihat

Hanan menatap Kyai Rasyid dengan napas tak teratur.

“Kalau begitu, Kyai… apa kita dalam bahaya?”

Kyai Rasyid tersenyum kecil. “Setiap orang dalam perjuangan kebenaran pasti akan berhadapan dengan kebatilan. Tapi Allah selalu bersama mereka yang bertawakkal.”

“Yang harus kita lakukan sekarang,” lanjutnya,

“adalah menata hati. Kita harus gabungkan antara dzikir dan pikir. Dzikir menghubungkan kita pada cahaya. Pikir memberi kita arah.”

Hanan mengangguk pelan, walau tubuhnya masih gemetar.

“Tapi Kyai…” ia menelan ludah,

“…kalau aliran itu benar-benar hidup kembali… mereka pasti tidak akan diam…”

Kyai Rasyid menghela napas panjang.

“Itu sebabnya kita harus bersiap.”

Di tempat lain — mata yang mengawasi

Di luar rumah Kyai Rasyid, di balik bayang-bayang pohon jati, seekor burung hitam hinggap di dahan. Namun matanya bukan mata burung biasa. Merah… menyala… dan bergerak seperti mata manusia.

Burung itu berputar sekali, menatap jendela tempat Kyai Rasyid dan Hanan duduk berdiskusi.

Kemudian…

Sosok itu terbang perlahan, menghilang ke langit malam.

Dan dari kejauhan…

Terdengar bisikan halus:

“Belum selesai… belum… selesai…”

Kembali terdengar suara seperti sebelumnya. Hanan da Kyai Rasyid hanya saling pandang. Kyai Rasyid paham betul mereka diawasi makhluk astral. kemungkinan adalah khodam yang diperintahkan untuk mengawasi gerak geriknya.