Sabilulhuda, Yogyakarta: Menjaga Anak Di Era Digital! Ketika Dunia Dewasa Terlalu Dekat – Di era yang serba digital seperti sekarang ini, banyak orang tua merasa itu kaget ketika melihat anak-anaknya sudah begitu paham dengan hal-hal yang bersifat dewasa. Dari cara berbicaranya, gaya pergaulan, bahkan topik yang mereka bahas, seolah olah jauh melampaui dari usia mereka.
Fenomena ini memang nyata di zaman sekarang ini. Baru baru ini saja ada kasus Bocah 13 tahun di Kabupaten Jepara ajukan dispensasi nikah kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Jepara. Karena mereka itu sudah sering tidur bersama layaknya orang yang sudah berumah tangga.
Dunia maya telah membuka pintu informasi selebar-lebarnya. Melalui gawai kecil yang ada di tangannya, anak bisa melihat apa pun, tanpa batas waktu dan usia. Di satu sisi, teknologi tersebut juga membawa kemudahan. Tapi di sisi lain, ia menghadirkan tantangan dan masalah baru bagi para orang tuanya.
Lalu, bagaimana cara kita dalam menghadapi kondisi ini dengan bijak dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam?
1. Jadikan Rumah Sebagai Sekolah Pertama
Segala sesuatu itu dimulai dari rumah. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang membentuknya menjadi baik atau sebaliknya.
Maka, ketika anak itu terlalu cepat memahami dunia dewasa, jangan langsung orang tua menyalahkannya. Bisa jadi karena ia belajar dari apa yang ia lihat di rumah, bisa dari televisi, media sosial, atau bahkan percakapan orang tuanya sendiri.
Baca Juga:

Memahami Fase Tumbuh Anak & Cara Mendidik Sesuai Usia Dengan Santun https://sabilulhuda.org/memahami-fase-tumbuh-anak-cara-mendidik-sesuai-usia-dengan-santun/
Anak itu belajar bukan dari nasihat orang tua yang panjang, tapi dari teladan. Jika ayah dan ibunya menjaga pandangan, berbicara sopan, dan memperlakukan orang lain dengan hormat, anak pun akan meniru hal itu tanpa kita suruh.
2. Dampingi Anak di Dunia Digital
Kita tak bisa lagi menutup akses anak dari teknologi. Yang perlu kita lakukan adalah dengan mendampinginya, bukan memarahi.
Ajak anak berbicara tentang apa yang ia lihat di internet. Jelaskan dengan bahasa yang halus, mana yang baik dan mana yang sebaiknya di hindari. Gunakan kontrol perangkat, tetapi yang lebih penting adalah tanamkan kesadaran kepada anaknya. Bahwa menjaga diri itu bukan karena takut dimarahi orang tua, melainkan karena ingin dicintai Allah.
Dengan pendekatan seperti ini, anak akan belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri.
3. Ajarkan Nilai Agama Dengan Bahasa Yang halus
Pendidikan seks dan moral Islami tidak harus kita sampaikan dengan nada yang keras. Cukup dengan cara yang lemah lembut dan sesuai usia anaknya. Misalnya, ketika anak bertanya soal hubungan laki-laki dan perempuan, jelaskan bahwa Allah menciptakan cinta agar manusia saling menghormati, bukan untuk disalahgunakan.
Baca Juga:
Gunakan contoh yang dekat dengan kehidupan mereka. Katakan, “Kalau kamu menjaga diri, Allah akan jaga kamu dari hal-hal yang tidak baik.” Kalimat yang seperti ini akan sangat membekas di hati anak.
4. Perkuat Iman, Bukan Hanya Sebatas Larangan
Menjaga anak di era modern bukan berarti menjauhkan mereka dari dunia, tapi menanamkan iman agar mereka kuat menghadapinya.
Ajak anak shalat berjamaah, dengarkan ceramah bersama, atau buat waktu khusus untuk berbincang dari hati ke hati. Anak yang hatinya terisi dengan iman akan tahu arah meski berada di tengah hiruk pikuk dunia digital.
5. Bangun Kerjasama Antara Keluarga, Sekolah, Dan Masyarakat
Pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama. Guru, lingkungan, dan masyarakat perlu satu suara yaitu membimbingnya, bukan menghakimi. Karena pada dasarnya, anak zaman sekarang bukan rusak, tapi mereka hanya butuh bimbingan dan perhatian yang lebih tulus.
Baca Juga: PRINSIP DALAM MENDIDIK ANAK














