Oleh: Ki Pekathik
Sabilulhuda, Yogyakarta: Semakin Pandai Merawat Diri, Tetapi Lupa Dalam Menjaga Diri – Perempuan masa kini tampak semakin berdaya dan terampil. Mereka belajar banyak hal: dari seni rias wajah, gaya berpakaian, hingga teknik menjaga bentuk tubuh. Media sosial penuh dengan tutorial “self-care” dan tips kecantikan; dari masker wajah alami sampai skincare berlapis-lapis.
Namun, di balik kemajuan itu, ada ironi yang kian menganga: banyak wanita masa kini pandai merawat diri, tetapi bodoh dalam menjaga diri.
Ungkapan ini untuk menggugah kesadaran bukan untuk merendahkan. Karena di balik kemilau pencitraan diri yang tampak sempurna di layar kaca dan media sosial. Banyak perempuan justru kehilangan makna sejati dari “menjaga diri” — baik dalam arti moral, spiritual, maupun psikologis.
1. Antara “Cantik Luar” Dan “Luruhnya Diri Dalam”
Kecantikan kini dijual di mana-mana. Dari iklan sabun hingga algoritma media sosial, semua menanamkan pesan yang sama: “cantik adalah tampak sempurna.” Maka, perempuan pun berlomba tampil menarik.
Tidak salah, karena merawat diri adalah bagian dari menghargai karunia Tuhan. Tapi yang berbahaya adalah ketika merawat diri berubah menjadi menyembah tampilan diri.
Kita menyaksikan banyak perempuan muda menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin, tetapi melupakan waktu untuk merenung atau berdoa. Melihat banyak yang rela berutang demi produk kecantikan, tapi pelit untuk berderma kepada sesama. Kita melihat tubuh menjadi pusat perhatian, tetapi hati dibiarkan kosong dan haus makna.
Padahal, kecantikan sejati dari jiwa yang jernih erta pikiran yang cerdas, bukan hanya dari kulit yang mulus. Rasulullah ﷺ bersabda:
“إِنَّ اللَّهَ لا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ”
“Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa dan harta kalian, tetapi Allah memandang hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Kecantikan hati inilah yang kini mulai langka. Wanita pandai menyamarkan noda di wajah, tetapi tidak berusaha menghapus noda di batin. Mereka tahu krim untuk kulit kusam, tetapi tidak tahu obat bagi luka jiwa yang kian dalam.
Baca Juga:

Smart Casual Pria vs Wanita: Panduan Gaya Stylish & Nyaman Di Berbagai Kesempatan https://sabilulhuda.org/smart-casual-pria-vs-wanita-panduan-gaya-stylish-nyaman-di-berbagai-kesempatan/
2. Menjaga Diri Ilmu Yang Terlupakan
Menjaga diri di samping menutup aurat, meski itu bagian penting juga kemampuan menjaga diri untuk menyadari nilai diri dan melindunginya dari hal-hal yang merendahkan martabat batin dan mencegah kerusakan jasmani secara cerdas.
Sayangnya, banyak perempuan masa kini terperangkap dalam jebakan gaya hidup modern yang menyamar sebagai kebebasan. Mereka mengira “bebas mengekspresikan diri” berarti bebas tanpa batas — padahal kebebasan tanpa kendali adalah bentuk perbudakan baru. Di perbudak oleh pandangan orang lain, oleh “likes”, oleh validasi virtual.
Banyak wanita yang rela membuka privasinya di media sosial hanya untuk dianggap menarik. Padahal, setiap potongan tubuh, setiap sisi kehidupan pribadi adalah wilayah suci yang seharusnya dijaga.
Menjaga diri berarti tahu kapan harus menolak, tahu apa yang pantas dibagikan, tahu bahwa harga diri tidak ditentukan oleh sorotan mata orang, melainkan oleh kemuliaan di hadapan Allah dan diri sendiri.
Dalam bahasa Jawa klasik, menjaga diri disebut ngajeni awak lan budi — menghormati tubuh dan budi. Tubuh adalah amanah, bukan alat pamer. Budi adalah cahaya, bukan sekadar perasaan. Ketika dua hal ini terjaga, maka perempuan akan berdiri anggun tanpa perlu membuktikan apa pun kepada dunia.
3. Budaya Visual dan Hilangnya Rasa Malu
Kita hidup di zaman yang menyanjung visual dan menyingkirkan nilai. Aplikasi kamera bisa mengubah wajah, memperindah kulit, memanjangkan bulu mata, dan meniruskan pipi. Tetapi tidak ada aplikasi yang bisa memperindah hati yang gelap, atau meniruskan ego yang besar.
Rasa malu — yang dahulu menjadi mahkota wanita — kini dianggap kuno. Padahal, dalam Islam, rasa malu adalah cabang dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda:
“الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ”
“Malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika rasa malu hilang, maka batas-batas moral pun memudar. Banyak wanita yang tidak lagi segan berpakaian minim di ruang publik atau berbicara kasar di depan umum. Mereka merasa modern, padahal sejatinya kehilangan keanggunan kodratinya.
Menjaga diri bukan berarti mengekang ekspresi, melainkan menyadari bahwa setiap perilaku adalah cerminan kehormatan. Kelembutan dan kesantunan bukan tanda lemah, tapi tanda kedewasaan spiritual.
Sayangnya, dalam arus globalisasi, nilai-nilai luhur seperti ini justru dipinggirkan oleh budaya konsumtif yang menilai manusia dari kulit, bukan isi.
4. Pandai Menarik Perhatian, Lupa Menarik Rahmat
Banyak wanita masa kini pandai menarik perhatian manusia — lewat gaya, suara, dan penampilan. Tapi sedikit yang berusaha menarik rahmat Allah melalui akhlaknya.
Mereka tahu cara memikat pandangan, tapi tidak tahu cara menenangkan hati. Mereka pandai memoles foto, tapi tidak tahu cara menata doa. Dia juga tekun mengurus penampilan luar, tapi lalai membangun benteng dalam: iman, harga diri, dan akhlak.
Baca Juga:

Relevansi Asramawasika Parwa! Gaya Hidup Back To Nature https://sabilulhuda.org/relevansi-asramawasika-parwa-gaya-hidup-back-to-nature/
Padahal, seorang wanita yang menjaga dirinya akan dihormati oleh alam semesta. Dalam setiap budaya luhur, perempuan dipandang sebagai sumber kehidupan dan penjaga kesucian moral masyarakat. Ketika perempuan rusak, maka generasi ikut rapuh. Maka benar pepatah Arab yang berkata:
“Wanita adalah tiang negara; jika baik wanitanya, maka baiklah bangsa itu.”
Seperti pepatah lama mengatakan, “Wanita adalah tiang negara; jika baik wanitanya, maka baiklah bangsa itu.” Ungkapan ini menegaskan pentingnya peran wanita dalam membangun peradaban dan kemajuan bangsa.
5. Menjaga Diri Adalah Bentuk Cinta Tertinggi pada Diri Sendiri
Kita sering mendengar slogan self-love — mencintai diri sendiri. Sayangnya, makna ini sering disalahartikan sebagai memanjakan diri: berbelanja tanpa batas, berlibur tanpa arah, memamerkan diri tanpa malu. Padahal, mencintai diri sejati berarti melindungi diri dari hal-hal yang akan menghancurkannya.
Menjaga diri berarti menolak hubungan yang tidak sehat, menolak eksploitasi, menolak menjadi objek pandangan rendah. Menjaga diri berarti berani berkata “tidak” pada sesuatu yang menggoda tapi menyesatkan.
Seorang wanita yang benar-benar mencintai dirinya tidak akan membiarkan dirinya dijadikan mainan, baik oleh laki-laki, oleh sistem, maupun oleh egonya sendiri. Ia tahu bahwa tubuhnya bukan alat, pikirannya bukan pajangan, dan hatinya bukan tempat singgah yang murah.
Menjaga diri juga berarti membatasi energi agar tidak habis pada hal-hal yang sia-sia: gosip, drama, dan persaingan dangkal. Wanita yang menjaga diri akan memilih diam daripada menjatuhkan, menunduk daripada menyombongkan, menenangkan daripada menegangkan.
6. Membangun Kecantikan Sejati Dari Dalam ke Luar
Kecantikan sejati adalah keseimbangan antara raga yang terawat dan jiwa yang tenang. Sebab, wajah yang indah tanpa kedamaian hanya seperti bunga plastik: cantik tapi tak beraroma, mekar tapi tak hidup.
Menjaga diri berarti merawat tiga hal:
- Fisik, agar sehat dan bugar — bukan untuk dipamerkan, tetapi agar mampu beribadah dan beramal dengan optimal.
- Akal, agar cerdas dalam berpikir dan tidak mudah terperdaya oleh rayuan dunia.
- Hati, agar tetap lembut, bersih, dan tahu arah pulang.
Seorang wanita yang menjaga diri akan belajar mengenal batas dan tujuan. Ia tahu kapan berbicara dan kapan diam, kapan berpenampilan menarik dan kapan menundukkan pandangan. Ia tahu bahwa kecantikan sejati tumbuh dari keimanan, bukan dari sorotan lampu.
7. Dari Merawat Menuju Menjaga
Merawat diri adalah tahap awal; menjaga diri adalah puncak kesadaran. Merawat membuatmu tampak menarik di mata manusia, menjaga membuatmu mulia di hadapan Tuhan.
Keduanya tidak harus dipertentangkan. Justru harus disatukan dalam keseimbangan. Wanita modern yang sejati adalah ia yang paham kosmetik tapi juga paham etika; ia yang bisa menata wajah tapi juga menata hati; ia yang kuat di depan dunia tapi lembut di hadapan Tuhannya.
Baca Juga: Memelihara Kehidupan Manusia
Kembali pada Jati Diri
Dunia boleh berubah, mode boleh berganti, teknologi boleh melesat. Tapi nilai luhur perempuan tetap abadi: kelembutan, kesucian, dan kebijaksanaan. Wanita yang menjaga dirinya adalah cahaya di tengah kegelapan zaman. Ia mungkin tidak viral, tidak punya jutaan pengikut, tapi keberadaannya membawa kesejukan bagi keluarga, masyarakat, dan bumi.
Maka, wahai wanita, teruslah merawat dirimu — tetapi jangan lupa menjaga dirimu.
Karena wajah yang cantik bisa memikat sesaat,
tapi hati yang terjaga akan memuliakan selamanya.













