Opini  

Ponpes al-Khoziny Musholla Ambruk: Saat Akal Sehat Diuji!

Bangunan musholla empat lantai di Ponpes al-Khoziny Sidoarjo ambruk, puing-puing berserakan, warga dan santri berkumpul menyaksikan lokasi kejadian.
Musholla empat lantai di Pondok Pesantren al-Khoziny, Sidoarjo, ambruk pada Senin (29/9/2025) sore saat salat Ashar berjamaah, meninggalkan puing-puing dan duka mendalam.

Ponpes al-Khoziny Musholla Ambruk: Saat Akal Sehat Diuji! – Pada hari senin sore, 29 September 2025, musholla empat lantai di Pondok Pesantren al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, tiba tiba ambruk. Pada saat itu para santri sedang melaksanakan salat Ashar secara berjamaah, tiba-tiba bangunan rubuh.

Duka tentu terasa, tapi yang lebih bikin geleng geleng kepala saya adalah banjirnya komentar yang ngawur dari netizen.

Mulai dari tuduhan korupsi, fitnah soal bisnis agama, sampai tuduhan keji yang tidak ada hubungannya sama sekali. Bahkan ada netizen yang nyeletuk bangunan itu mirip arsitektur Minecraft. Lah, ini tragedi, bukan forum lawak.

Pepatah Jawa bilang: ngono yo ngono, ning ojo ngono. Mau komentar boleh, bebas beropini juga boleh. Tapi jangan sampai kebablasan sampai merusak akal sehat kita.

Bangunan musholla empat lantai di Ponpes al-Khoziny Sidoarjo ambruk, puing-puing berserakan, warga dan santri berkumpul menyaksikan lokasi kejadian.
Musholla empat lantai di Pondok Pesantren al-Khoziny, Sidoarjo, ambruk pada Senin (29/9/2025) sore saat salat Ashar berjamaah, meninggalkan puing-puing dan duka mendalam.

Netizen Dan Hobi Menyalahkan

Fenomena ini memang sudah sering terjadi. Begitu ada musibah, yang pertama kali muncul justru tuduhan. Seakan-akan semua kiyai dan pengurus pondok tersebut bersekongkol untuk bikin bangunan yang rapuh supaya santri bisa tertimbun ramai-ramai. Logika macam apa ini?

Kalau mereka kita tanya, apa bukti konkritnya? Nol besar. Yang ada cuma prasangka. Padahal jelas, tidak ada orang waras yang mau mengorbankan santri-santrinya sendiri.

Ingat kata filsuf Stoikisme, Epictetus: “Some things are up to us, some things are not up to us.”

Artinya: “Ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, dan ada hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita.

Merencanakan dan membangun musholla itu ada dalam kendali manusia. Tapi hasil akhirnya, termasuk takdir ambruk atau tidaknya, sepenuhnya itu berada di luar kendali kita.

Atau kalau kita mau pakai dari kearifan Jawa: manungsa mung sak derma nglakoni, Gusti sing maringi hasil. Manusia hanya bisa berusaha, hasil akhir tetap hak prerogatif dari Tuhan.

Api Tidak Bisa Dipadamkan Dengan Api

Kiyai di Al-Khoziny selalu mengajarkan, masalah tidak akan selesai dengan marah-marah. Api tidak bisa dipadamkan dengan api, tapi bisa padam dengan air. Begitu juga dengan tragedi ini. Dengan menambah fitnah sama saja kita menuang bensin ke bara api.

Baca Juga: Filosofi Urip Iku Urup: Menggali Hikmah Ummu Jamil Untuk Pemimpin Bangsa

Yang dibutuhkan sekarang ini adalah pendinginan kepala:

Dengan cara mengevaluasi konstruksinya, cari fakta objektif, lalu perbaiki sistem agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Itu baru solusi nyata, bukan hanya caci maki di kolom komentar.

Orang Jawa bilang: alon-alon waton kelakon. Pelan tapi pasti, asal dikerjakan dengan tenang dan sungguh-sungguh, masalah bisa selesai.

Opini Irasional = Cermin Kualitas Diri

Mari kita jujur. Komentar kita di media sosial adalah cermin dari kualitas diri kita sendiri. Kalau yang keluar cuma tuduhan tanpa bukti, berarti otak kita sedang malas berpikir. Kalau yang muncul doa, empati, dan dorongan perbaikan, berarti kita masih punya hati.

Tragedi musholla yang ambruk ini seharusnya menjadi ajang untu refleksi diri, bukan sebagai panggung untuk spekulasi. Musibah bisa menimpa siapa saja, dan kapan saja. Hari ini Ponpes al-Khoziny, tetapi besok bisa saja sekolah, rumah, atau gedung tempat kita bekerja.

Ada pepatah Jawa lain yang mengingatkan: becik ketitik ala ketara. Cepat atau lambat, yang benar akan terbukti benar, dan yang salah akan tampak salah. Maka kita tidak perlu buru-buru dalam menghakiminya.

Think Sebelum Respon

Satu hal yang perlu kita ingat adalah think sebelum respon. Maka jangan sampai kita terburu-buru ikut arus komentar yang liar. Tanyakan dulu: apakah ini fakta? Apakah bermanfaat? Atau Cuma untuk melampiaskan emosi kita?

Bangsa ini tidak butuh penonton yang gemar menyalahkan, tetapi membutuhkan masyarakat yang kritis sekaligus juga empatik. Tragedi besar seperti ini hanya bisa kita hadapi dengan kepala dingin, hati yang jernih, dan tindakan secara nyata.

Kesimpulannya sederhana: dengan tragedi ambruknya musholla Ponpes al-Khoziny ini adalah musibah, bukan sebagai bahan untuk bergosip. Kita boleh prihatin, boleh ikut bersuara, tapi jangan sampai kebablasan. Sebab, semakin irasional opini kita, semakin rapuh pula fondasi akal sehat bangsa ini.

Orang Jawa sudah lama berpesan: urip iku sawang-sinawang. Cara kita melihat peristiwa menentukan kualitas kita sendiri. Maka, lihatlah dengan jernih, bukan dengan kacamata prasangka.