Hal Yang Melalaikan Di Dunia Hingga Menyebabkan Siksa Kubur – Setiap manusia pasti akan kembali kepada Allah. Hidup di dunia ini hanyalah persinggahan, sementara tujuan akhir kita adalah akhirat. Namun sayangnya, banyak orang yang terlena dengan urusan dunia hingga mereka lupa untuk menyiapkan bekal pulang.
Padahal, sebagaimana Allah tegaskan di dalam Al-Qur’an, setiap orang akan merasakan kematian dan menunggu di alam kubur sebelum dibangkitkan.

Harta Yang Melalaikan
Salah satu penyebab terbesar bagi manusia sehingga ia lalai adalah karena harta. Allah berfirman dalam QS. At-Takatsur:
اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُۙ ١
حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَۗ ٢
Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
Harta sejatinya bukanlah larangan. Bahkan kita di perintahkan untuk mencari rezeki yang halal. Namun, masalahnya muncul ketika hati kita itu terlalu terikat dengan harta. Kita hanya sibuk menumpuk, pamer, atau merasa bangga tanpa memikirkan kegunaan hartanya untuk beribadah kepada Allah.
Padahal, harta tersebut bisa menjadi bekal akhirat jika kita gunakan untuk kebaikan. Misalnya dengan menafkahi keluarga dengan halal, menyekolahkan anak agar mengenal Allah, membangun rumah yang nyaman untuk ibadah, membantu kerabat, menyantuni anak yatim, berinfak, berhaji, dan berumrah. Semua itu menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Sebaliknya, jika harta itu hanya kita timbun atau dipakai untuk sebatas kesenangan saat di dunia saja, maka ia akan berubah menjadi penyesalan yang besar. Di alam kubur, pemiliknya akan melihat harta itu tidak lagi bisa menolong, bahkan bisa menjadi sebab azab.
Baca Juga:

Jangan Pernah Berhenti Berdoa: Kekuatan Doa Bersama (Part-2) https://sabilulhuda.org/jangan-pernah-berhenti-berdoa-kekuatan-doa-bersama-part-2/
Maksiat yang Ditutupi Dan yang Terang-terangan
Selain harta, maksiat juga menjadi penyebab siksa kubur. Ada dua tipe pelaku maksiat yang dijelaskan oleh para ulama:
1. Pelaku maksiat yang menutupi dosanya tapi tidak bertaubat.
Dia berusaha menutup aibnya sendiri dari manusia, tapi tidak pernah menyesali atau memohon ampun kepada Allah. Maka di alam kubur, dosa-dosanya akan diungkap dan menjadi awal dari azab.
2. Pelaku maksiat yang terang-terangan.
Ia merasa kuat dengan kedudukan atau hartanya, sehingga ia berani berbuat dosa secara terbuka. Orang seperti ini akan di tampakkan neraka sejak ia masuk ke alam kubur, pagi dan petang.
Kedua golongan ini sama-sama terancam, kecuali jika semasa hidup ia segera kembali dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Persiapan Menghadapi Alam Kubur
Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan agar manusia tidak lalai. Salah satunya dalam QS. ‘Abasa ayat 21:
ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ ٢١
Artinya: “Kemudian dia mati dan dikuburkan.”
Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia pasti melewati fase alam kubur, tidak ada manusia pun yang terkecuali.
Karena itu, kita perlu mempersiapkan diri dengan beberapa hal:
Membina keluarga yang baik.
- Jadikan rumah sebagai itu sebagai tempat kebaikan, saling mengingatkan agar taat pada Allah.
Memilih teman yang saleh.
- Teman sangat berpengaruh. Jangan sampai kita bergaul dengan orang yang malah justru menyeret kepada maksiat.
Menggunakan kedudukan untuk taat.
- Jika kita diberi jabatan atau wewenang, maka gunakanlah wewenang itu untuk menegakkan keadilan dan kebenaran.
Memperbanyak amal shalih.
- Shalat, sedekah, doa, membaca Qur’an, dan amal kebaikan lainnya akan menjadi penolong ketika jasad sudah terkubur.
Jangan Sampai Lalai
Allah begitu sayang kepada hamba hamba-Nya. Peringatan demi peringatan sudah di berikan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar manusia itu sadar. Alam kubur bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai pintu untuk menuju kehidupan yang abadi.
Jika di dunia kita sibuk dengan menumpuk harta tanpa arah, lalu kita tenggelam dalam maksiat tanpa taubat, atau lalai dari mengingat Allah, maka semua itu akan menjadi sebab azab di alam kubur.
Namun, jika kita gunakan hidup ini untuk taat dan mempersiapkan bekal, insya Allah alam kubur akan menjadi taman dari taman-taman surga.
Mari kita renungkan, sudahkah bekal kita cukup untuk perjalanan yang panjang setelah kematian? Jangan sampai terlambat, karena penyesalan di alam kubur tidak lagi berguna.
Baca Juga: Integritas: Fondasi Kinerja di Kementerian Keuangan













