Menuntut Ilmu Adalah Jalan Tanpa Akhir Menuju Cahaya

Ilustrasi seorang Muslim sedang membaca kitab dengan cahaya terang sebagai simbol ilmu dalam Islam.
Menuntut ilmu adalah perjalanan tanpa akhir menuju cahaya kebenaran dan kerendahan hati.

Oleh: Ki Pekathik

Menuntut Ilmu Adalah Jalan Tanpa Akhir Menuju Cahaya – Perjalanan seorang Muslim di dunia tidak pernah terlepas dari kewajiban menuntut ilmu. Ibnu Mubarak, seorang ulama besar pada abad kedua Hijriah, memberikan nasihat berharga:

وقال ابن المبارك

«لَا يَزَالُ الرَّجُلُ عَالِمًا مَا طَلَبَ الْعِلْمَ، فَإِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ عَلِمَ فَقَدْ جَهِلَ».

Artinya: “Seorang manusia akan senantiasa dianggap berilmu selama dia terus menuntut ilmu. Jika dia mengira bahwa dirinya sudah berilmu maka sesungguhnya dia telah bodoh.”

Ungkapan ini mengandung makna mendalam tentang kerendahan hati, kesungguhan dalam mencari kebenaran, serta bahaya merasa puas dengan sedikit ilmu.

Ilustrasi seorang Muslim sedang membaca kitab dengan cahaya terang sebagai simbol ilmu dalam Islam.
Menuntut ilmu adalah perjalanan tanpa akhir menuju cahaya kebenaran dan kerendahan hati.

Dalam pandangan Islam, ilmu adalah cahaya yang tidak pernah habis di pelajari. Dan setiap manusia senantiasa di tuntut untuk mengembangkan pengetahuan hingga ajal menjemput.

Dalil Al-Qur’an tentang Kewajiban Menuntut Ilmu

Al-Qur’an banyak menekankan pentingnya menuntut ilmu sebagai jalan untuk memahami ayat-ayat Allah. Allah ﷻ berfirman:

1. Ilmu Mengangkat Derajat

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu adalah sebab mulianya derajat manusia. Semakin seseorang belajar, semakin Allah meninggikan kedudukannya.

2. Perintah Bertanya Jika Tidak Tahu

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia di tuntut untuk terus belajar. Tidak ada batas usia maupun kondisi yang membatasi seorang Muslim untuk mencari ilmu.

Dalil Hadis tentang Menuntut Ilmu

Rasulullah ﷺ sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, beliau bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.”

Hadis ini menegaskan bahwa mencari ilmu adalah kewajiban agama, baik ilmu duniawi yang bermanfaat maupun ilmu agama yang menjadi cahaya bagi kehidupan.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang bahaya merasa cukup dengan sedikit ilmu. Dalam sebuah hadis:

مَنْ قَالَ أَنَا عَالِمٌ فَهُوَ جَاهِلٌ

Artinya: “Barangsiapa berkata: ‘Aku sudah berilmu’, maka ia sebenarnya adalah orang yang bodoh.” (HR. Al-Baihaqi)

Hadis ini selaras dengan perkataan Ibnu Mubarak, yaitu bahwa ilmu sejati hanya akan dimiliki oleh orang yang rendah hati dan tidak pernah merasa cukup.

Baca Juga:

Ilustrasi islami tentang tujuan hidup manusia dalam Al-Qur’an dengan seorang pria berdoa mengenakan pakaian putih dan kopiah, dilengkapi kutipan ayat suci dan penjelasan singkat.

Tujuan Hidup Manusia Dalam Al-Qur’an: Renungan Islam https://sabilulhuda.org/tujuan-hidup-manusia-dalam-al-quran-renungan-islam/

Pendapat Para Ulama tentang Ilmu

1. Imam Syafi’i

Beliau berkata:

كُلَّمَا ازْدَدْتُ عِلْمًا ازْدَدْتُ عِلْمًا بِجَهْلِي

“Setiap kali aku bertambah ilmu, aku semakin tahu betapa bodohnya diriku.”

Ucapan ini menunjukkan bahwa semakin banyak ilmu yang di pelajari, semakin besar kesadaran manusia tentang keterbatasannya.

2. Imam Ahmad bin Hanbal

Ketika beliau ditanya: “Sampai kapan engkau menuntut ilmu?” beliau menjawab:

مَعَ الْمِحْبَرَةِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ

“Dengan tinta (untuk menulis ilmu) sampai ke liang lahad.”

Pernyataan ini menggambarkan bahwa menuntut ilmu adalah perjalanan yang berlangsung sepanjang hayat.

3. Hasan al-Bashri

Beliau berkata:

“Ilmu itu tidak akan bisa digapai oleh tubuh yang bersantai.”

Artinya, menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan, ketekunan, dan kerendahan hati untuk terus belajar.

Bahaya Merasa Cukup Dengan Ilmu

Perasaan puas diri dan mengira sudah berilmu adalah pintu kesombongan. Dalam Islam, kesombongan adalah penyakit hati yang berbahaya. Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim)

Kesombongan dalam ilmu membuat seseorang menolak kebenaran, menyepelekan orang lain, dan merasa sudah sempurna. Padahal sejatinya ilmu Allah tidak terbatas, sementara ilmu manusia sangat sedikit. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

 Artinya: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)

Hikmah dari Perkataan Ibnu Mubarak

  • Ilmu adalah perjalanan tanpa akhir. Seorang Muslim tidak pernah berhenti belajar sampai ajal menjemputnya.
  • Kerendahan hati adalah kunci keberkahan ilmu. Semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin besar rasa tawadhu’ kepada Allah.
  • Bahaya merasa cukup dengan ilmu. Orang yang merasa sudah cukup akan berhenti belajar, padahal berhenti belajar berarti menutup pintu kebenaran.
  • Ilmu harus diamalkan. Menuntut ilmu bukan hanya untuk memperbanyak hafalan, melainkan juga untuk memperbaiki amal dan akhlak.

Perkataan Ibnu Mubarak adalah pengingat bagi setiap penuntut ilmu agar tidak terjebak dalam kesombongan. Ilmu adalah cahaya yang Allah anugerahkan, dan cahaya itu hanya akan terus bersinar bagi mereka yang rendah hati serta terus belajar.

Menuntut ilmu adalah ibadah sepanjang hayat. Setiap Muslim hendaknya menyadari bahwa ilmu Allah sangat luas, sementara akal manusia terbatas.

Maka sikap yang benar adalah terus menimba ilmu, merendahkan hati, dan berdoa agar Allah ﷻ selalu menambahkan pemahaman.

Sebagaimana doa yang di ajarkan Allah dalam Al-Qur’an:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

 Artinya: “Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha: 114)

Baca Juga: 20 Akhlak Pribadi seorang Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari