Filosofi & Sejarah Pohon Beringin Di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta – Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta bukan hanya alun alun terbuka luas yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan rakyat maupun upacara kerajaan.
Di tengah alun-alun ini terdapat sepasang pohon beringin yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa.
Khususnya dalam filosofi Keraton Yogyakarta. Sepasang pohon beringin tersebut di kenal dengan nama Ringin Kurung, karena masing-masing di pagari berbentuk persegi.

Filosofi Ringin Kurung
Ringin Kurung terletak tepat di tengah alun-alun, mengapit garis imajiner utara-selatan yang menjadi sumbu utama tata ruang Keraton Yogyakarta. Pohon di sisi barat di sebut Kyai Dewa Daru, sedangkan yang di sisi timur di kenal sebagai Kyai Jannah Daru.
Nama Kyai Dewa Daru berasal dari kata Dewayang bermakna sifat-sifat ketuhanan, dan Daruyang berarti cahaya ketuhanan. Sementara itu, Kyai Jannah Daru berasal dari kata Jannah yang berarti manusia, dan Daru yang bermakna cahaya kemanusiaan.
Filosofi ini menunjukkan bahwa pohon beringin tidak hanya sebagai tumbuhan saja, melainkan sebagai simbol keseimbangan antara sifat ketuhanan dan sifat kemanusiaan.
Penempatan keduanya pun sarat makna. Kyai Dewa Daru berada di sisi barat, searah dengan Masjid Gede Kauman sebagai pusat keagamaan. Sedangkan Kyai Jannah Daru berada di sisi timur, berdekatan dengan Pasar Beringharjo sebagai pusat ekonomi.
Hal ini melambangkan harmoni antara agama dan kehidupan sosial-ekonomi.
Baca Juga:

Kosmologi Yogyakarta: Filosofi Sumbu Imajiner Dari Gunung Merapi Hingga Laut Selatan https://sabilulhuda.org/kosmologi-yogyakarta-filosofi-sumbu-imajiner-dari-gunung-merapi-hingga-laut-selatan/
Simbol Manunggaling Kawula Gusti
Kehadiran sepasang beringin ini juga erat kaitannya dengan konsep Manunggaling Kawula Gusti, yaitu persatuan antara raja dengan rakyat, serta kedekatan manusia dengan Tuhan.
Dengan kata lain, alun-alun dan pohon beringin di dalamnya menjadi ruang simbolis yang menghubungkan dimensi spiritual, sosial, dan kekuasaan.
Tak heran, setiap bulan Suro, kedua beringin pusaka ini turut menjalani upacara jamasan, yakni ritual penyucian pusaka Keraton. Hal tersebut menandakan betapa pohon beringin ini dianggap sebagai bagian penting dari warisan budaya Jawa.
Sejarah Panjang Pohon Beringin
Kedua beringin utama di Alun-Alun Utara bukanlah pohon biasa. Konon, bibit Kyai Dewa Daru berasal dari Majapahit, sementara bibit Kyai Jannah Daru berasal dari Pajajaran. Meski demikian, keduanya beberapa kali diganti karena roboh atau tersambar petir.
Misalnya, Kyai Dewa Daru pernah diganti pada tahun 1988 saat pohonnya mati. Kyai Jannah Daru lebih sering mengalami pergantian, salah satunya pada 1926 yang dicatat dalam Serat Saloka Patra.
Dalam catatan tersebut di sebutkan bahwa pohon yang sudah rapuh diganti dengan bibit hasil cangkokannya sendiri. Dalam sebuah upacara khusus yang dipimpin Patih Danureja VII.
Saat ini, Kyai Jannah Daru lebih di kenal dengan sebutan Kyai Jaya Daru atau Kyai Wijaya Daru, sementara Kyai Dewa Daru kadang disebut Kyai Dewa Tadaru. Walaupun namanya berbeda, tetapi makna filosofis keduanya tetap sama.
Pohon Beringin Lain Di Alun-Alun
Selain dua beringin utama, Alun-Alun Utara juga dikelilingi oleh 62 pohon beringin lainnya, sehingga total jumlahnya ada 64pohon. Jumlah ini di percaya melambangkan usia Nabi Muhammad SAW jika dihitung menurut penanggalan Jawa.
Beberapa beringin juga memiliki nama khusus, seperti Kyai Wok dan Kyai Jenggot di sisi utara, serta Gunggung dan Binatur Agung di sisi selatan.
Nama-nama tersebut tak lepas dari simbolisasi kehidupan, mulai dari rambut yang tumbuh di tubuh hingga peran antara penguasa dan rakyat.
Pohon Beringin Dalam Pandangan Jawa
Dalam tradisi Jawa, beringin di kenal sebagai pohon hayat, atau pohon yang memberi kehidupan, perlindungan, dan pengayoman. Pohon ini dianggap suci dan sering di kaitkan dengan kekuasaan serta kebesaran Keraton.
Bahkan pada masa Mataram Islam, pohon beringin termasuk dalam pusaka yang di pindahkan ketika pusat kerajaan berpindah dari Kartasura ke Surakarta. Filosofi ini kemudian tetap di wariskan hingga ke Kesultanan Yogyakarta.
Dengan demikian maka, alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta kalau kita simpulkan tempat tersebut bukan hanya alun alaun terbuka yang luas. Tetapi juga sebagai sebuah simbol budaya yang menyimpan filosofi mendalam.
Tak heran jika hingga kini pohon beringin tetap dihormati sebagai bagian penting dari warisan budaya Jawa yang sarat makna spiritual.
Baca Juga Artikel Berikut: Blangkon Jogja : Filosofi dan Makna yang Tersirat













