Qorin (Cerbung Misteri Bab 31)

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Pergolakan Hati Hanan

Malam itu terasa lebih hening daripada biasanya. Angin yang masuk lewat jendela rumah Bayu seperti membawa bisikan rahasia, membuat hati setiap orang yang berada di dalamnya diliputi rasa sesak.

Sejak kebenaran soal penukaran bayi itu terbongkar, suasana di antara keluarga Burhan dan keluarga Bayu seakan berjalan di atas bara.

Hanan duduk di serambi rumah, menatap langit yang penuh bintang. Di kejauhan terdengar suara jangkrik bersahut-sahutan. Namun, pikirannya justru jauh melayang pada sosok Alisa. Wajahnya yang pucat sejak mendengar kenyataan pahit itu terus terbayang.

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

“Alisa… betapa besar bebanmu. Di satu sisi kehilangan identitasmu sebagai anak kandung, di sisi lain kehilangan cintamu pada Bayu….”

Hanan memejamkan mata. Ada pergolakan batin yang begitu kuat dalam dirinya.

“Rasanya tak pantas aku berpikir egois. Saat ini Alisa sedang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan,” gumam Hanan lirih, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri.

Namun, bisikan hati lain menyelinap: bukankah ini kesempatan baginya? Bukankah kini Bayu tidak lagi bisa bersama Alisa karena mereka kakak beradik kandung? Bukankah cinta yang selama ini ia pendam, akhirnya memiliki celah untuk diwujudkan?

Hanan menghela napas panjang.

“Tidak, bukan sekarang… bukan dengan cara ini. Cinta tidak boleh lahir dari luka orang lain.”

Ia mencoba menguatkan hatinya, meski jauh di lubuk hati, ada bara cinta yang semakin menyala untuk Alisa. Logika Bayu masih digunakan, jika saat itu tidak mungkin membahas hal itu. Apalagi dia mendapat tugas untuk mengungkap kasus masa lalu keluarga Dewi dan Arya.

Hanan pun fokus dengan tugas yang dibebankan padanya. Bagaimanapun sisi kemanusiaan Hanan lebih dominan dibanding kepentingannya sendiri.

Kesedihan Keluarga Burhan

Sementara itu, di ruang tamu rumah Bayu, Burhan dan istrinya, Maisaroh, duduk termenung. Wajah keduanya tampak letih, mata sembab karena terlalu banyak meneteskan air mata. Sejak siang tadi, mereka belum banyak bicara, hanya saling menggenggam tangan seolah tak ingin kehilangan pegangan.

“Mas…,” suara Maisaroh pecah, “aku masih tidak percaya kalau Anisa adalah anak kita yang sebenarnya. Selama ini aku begitu menyayangi Alisa, aku merasa dia darah dagingku…”

Burhan meremas tangan istrinya lebih erat. “Aku pun sama, May. Aku sudah menganggap Alisa seperti anak kandung kita sendiri. Tapi… bagaimanapun juga, kenyataan ini tidak bisa kita tolak. Darah kita ada pada Anisa, gadis yang sudah tiada…”

Air mata kembali mengalir di wajah Maisaroh. Ia membayangkan wajah Anisa yang pernah menemui lewat mimpi ataupun di alam nyata. Betapa sakitnya mengetahui bahwa anak yang seharusnya tumbuh di pelukannya, kini hanya tinggal nisan di pemakaman.

“Jadi ini kenapa sosok Bu Dewi melarang Bayu dan Alisa menikah. Bahkan—” Maisaroh tidak mampu menyebut sosok Anisa juga ikut melarang hubungan Bayu dan Alisa.

Mungkin Anisa juga baru tahu jika bukan anak kandung Dewi dan Arya setelah tiada. Semua baru tahu kebenaran yang nyata. Fakta yang sangat mengejutkan bagi semua. Akan tetapi dibalik itu, sebuah musibah bisa terhindar. Tidak bisa dibayangkan jika Bayu dan Alisa sudah terlanjur menikah.

Baca Juga:

Qorin (Cerbung Misteri)

Qorin (Cerbung Misteri Bab 30): Luka yang Terkuak https://sabilulhuda.org/qorin-cerbung-misteri-bab-30-luka-yang-terkuak/

Ziarah ke Makam Anisa

Pagi harinya, Burhan mengumpulkan semua keluarga. Wajahnya tegas, meski tersimpan getir di balik sorot matanya.

“Saya ingin ziarah ke anak kandung kami. Meskipun Alisa tetap kami anggap anak kandung kami, tapi sebagai orang tua, saya ingin menunaikan kewajiban terakhir, berdoa di hadapan pusara darah daging kami,” katanya dengan suara bergetar.

Bayu, Alisa, Nenek Lastri, Hanan, bahkan Arsyita ikut serta. Mereka berjalan menuju pemakaman yang berada di lereng bukit, ditemani Rasyid yang sejak awal setia mendampingi keluarga itu.

Langkah-langkah kaki terdengar lirih di jalan tanah yang masih basah sisa hujan semalam. Suasana begitu syahdu. Burung-burung kecil berkicau di pepohonan, seolah menyambut perjalanan mereka.

Sesampainya di makam Annisa, Maisaroh langsung tersungkur, meraba nisan dengan air mata yang tumpah deras. Isak tangisnya tak bisa terbendung lagi. Bahkan dia hampir pingsan tak kuasa menerima kenyataan.

“Anakku… maafkan ibu. Maafkan ibu yang tidak bisa menjagamu sejak lahir. Kau ditukar, dirampas dari pelukan ibu…”

Tangisan Maisaroh membuat semua yang hadir ikut terisak. Burhan memeluk bahu istrinya, mencoba menenangkan meski ia sendiri nyaris roboh oleh kesedihan.

“Anisa … secara darah mungkin kita ada hubungan. Namun, kamu adalah saudara batinku. Bahkan posisimu menggantikan aku. Seharusnya akulah yang tinggal di pemakamanmu!” seru Alisa. Spontan semua jadi ikut meneteskan air mata. Ucapan Alisa terdengar begitu tulus, jika tidak ditukar mungkin Alisa yang tewas dan dimakamkan di tempat tersebut.

Alisa menatap makam itu dengan pandangan kosong. Di dalam hatinya berkecamuk perasaan campur aduk: duka, kehilangan, dan kebingungan tentang siapa dirinya sebenarnya. Namun, ia tidak membenci Burhan dan Maisaroh. Justru kasih sayang mereka yang tulus membuat Alisa semakin merasa berhutang budi.

Arsyita meraih tangan Alisa, menggenggamnya erat. “Bersabarlah, Alis. Aku tahu hatimu hancur, tapi kamu tidak sendirian. Ada kami semua di sini,” kata Arsyita.

Alisa menoleh, tersenyum tipis di tengah air mata. “Aku titip Mas Bayu padamu, Sita. Aku tahu kamu sangat mencintainya… sedangkan aku hanya bisa mencintai sebagai adik kandungnya saja.” Alisa kembali mengulang ucapannya, seakan sangat berharap Arsyita menggantikan posisinya sebagai kekasih Bayu.

Kata-kata itu membuat dada Arsyita bergetar. Ia merasa seakan mendapatkan restu langsung dari Alisa. Sementara di kejauhan, Hanan yang menyaksikan adegan itu menggenggam erat tangannya sendiri. Ia berusaha menahan gejolak cintanya pada Alisa.

Harapan yang Tersisa

Doa-doa dipanjatkan di makam Anisa. Bau tanah basah bercampur harum bunga setaman menyelimuti suasana. Meski duka begitu dalam, semua merasakan bahwa ziarah ini menjadi momen pengikat: mereka harus saling menguatkan, bukan saling menyalahkan.

Namun, di balik doa-doa itu, bayangan wajah Hanggara masih membayangi. Semua tragedi ini berawal dari dirinya. Semua luka, semua air mata, semua kehilangan—akar utamanya ada pada lelaki itu.

Hanan menatap makam Anisa dengan tekad yang membara. “Bayu, Alisa… dan semua keluarga yang telah terluka. Aku berjanji, aku akan membantu Kyai Rasyid membongkar semua kejahatan Hanggara. Aku tidak akan membiarkan darah yang menetes ini sia-sia.”

Meskipun hatinya dipenuhi cinta pada Alisa, Hanan memilih untuk menahan diri. Saat ini ada hal yang jauh lebih besar daripada urusan cintanya: keadilan harus ditegakkan, kebenaran harus disingkap.

Bayu memandang Hanan, dia tahu jika Hanan sebenarnya menaruh hati pada Alisa. Namun, selama ini dia mengalah demi persahabatan dan persaudaraan.

“Terima kasih Hanan, sekalian aku titip adikku Alisa padamu! Aku tahu, kau lelaki yang pantas untuk adikku Alisa!” seru Bayu pelan.

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA

Diantara yang lain Bayu yang paling tegar. Karena dia hanya kehilangan kesempatan menikahi Alisa karena tidak mungkin. Bukan menerima musibah seperti yang dirasakan lainnya.

Mendengar kalimat Bayu, Hanan jadi tersipu. Dia malu ketika Bayu berkata dengan kalimat yang mengejutkan. Secara tidak langsung Bayu mengatakan jika dia tahu jika Hanan mencintai Alisa.