Oleh: Ki Pekathik
Bolehkah Anak Berselisih Dengan Orang Tua? – Hubungan antara anak dan orang tua adalah salah satu pilar terpenting dalam kehidupan manusia. Dari merekalah seorang anak memperoleh kehidupan, kasih sayang, pendidikan, serta doa dan harapan kebaikan.
Karena itu, kedudukan orang tua begitu tinggi dalam Islam, sampai Allah meletakkannya sejajar dengan perintah beribadah kepada-Nya. Firman Allah dalam Al-Qur’an menegaskan:
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ إِحْسَـٰنًۭا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًۭا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًۭا ۖ وَحَمْلُهُۥ وَفِصَـٰلُهُۥ ثَلَـٰثُونَ شَهْرًۭا ۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةًۭ قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَـٰلِحًۭا تَرْضَىٰهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِىٓ ۖ إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula. Mengandungnya hingga menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, dia berdoa:
‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu, dan sungguh aku termasuk orang yang berserah diri.’” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15)

Ayat ini memberi gambaran jelas bahwa bakti kepada orang tua adalah jalan menuju keridhaan Allah. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan klasik yang kerap diajukan dalam diskusi keilmuan: bolehkah seorang anak berselisih dengan orang tua?
Pandangan Imam Syafi’i tentang Perselisihan Anak Dan Orang Tua
سُئِلَ الإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ عَنْ ذَلِكَ، فَأَجَابَ بِكَلَامٍ وَاضِحٍ وَمُؤَثِّرٍ:
لَا يَجُوزُ، وَلَوْ خَاصَمْتَهُمَا فِي نَعْلِهِمَا، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى الْحَقِّ.
فَإِذَا خَفَضَ أَحَدُ وَالِدَيْكَ صَوْتَهُ مَخَافَةً مِنْكَ، فَاعْلَمْ أَنَّكَ قَدْ عَقَقْتَهُ.
Artinya
Imam Syafi’i رحمه الله pernah ditanya tentang hal itu, lalu beliau menjawab dengan tegas dan menyentuh:
“Tidak boleh, meskipun hanya mendebat sandalnya dan walaupun engkau dalam keadaan benar. Ketika orang tuamu merendahkan suaranya karena takut padamu, maka ketahuilah engkau telah durhaka kepadanya.”
Pernyataan ini memuat tiga pesan penting:
- Larangan berselisih dengan orang tua dalam bentuk apapun, meski urusan kecil.
- Kebenaran logis yang dimiliki anak tidak boleh disampaikan dengan cara yang melukai hati orang tua.
- Takutnya orang tua kepada anak menjadi indikator paling jelas bahwa telah terjadi kedurhakaan.
Mengapa Imam Syafi’i Sangat Tegas?
Ada beberapa alasan mengapa Imam Syafi’i menekankan hal ini.
1. Kedudukan orang tua sangat agung.
Dalam Islam, orang tua adalah pintu surga. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Artinya, hubungan anak dengan orang tua bukan hanya masalah sosial, tetapi juga menyangkut hubungan vertikal dengan Allah.
2. Adab lebih tinggi daripada logika.
Imam Syafi’i hidup di tengah tradisi ilmiah yang penuh dengan perdebatan. Walau begitu, beliau menempatkan adab di atas segalanya. Bagi beliau, memenangkan argumen di hadapan orang tua dengan mengorbankan rasa hormat adalah kekalahan besar.
3. Perasaan orang tua harus dijaga.
Orang tua yang merasa takut pada anaknya, entah karena suara tinggi atau sikap kasar, berarti mengalami luka batin. Itulah yang oleh Imam Syafi’i dianggap sebagai tanda kedurhakaan.
Baca Juga:

3 Amalan Pengangkat Derajat Hidup: Shalat, Al-Qur’an & Wudhu https://sabilulhuda.org/3-amalan-pengangkat-derajat-hidup-shalat-al-quran-wudhu/
Ketaatan yang Melampaui Logika
Dalam kehidupan modern, banyak anak merasa berhak menyampaikan pendapat kepada orang tuanya. Mereka berpegang pada logika, menilai bahwa kebenaran harus ditegakkan meskipun itu berarti menentang orang tua.
Padahal, dalam pandangan Imam Syafi’i, kebenaran dalam hubungan keluarga tidak semata-mata soal argumen, melainkan bagaimana sikap menjaga kehormatan dan kelembutan.
Analoginya tentang “mendebat sandal orang tua” memberi isyarat mendalam. Sandal adalah benda sederhana, seolah tidak penting untuk diperdebatkan. Akan tetapi, Imam Syafi’i mengingatkan bahwa bahkan dalam perkara sepele, perdebatan bisa melukai perasaan orang tua.
Dari situ kita belajar bahwa ukuran durhaka bukan hanya dari hal besar seperti menolak nafkah atau mengabaikan perintah wajib, melainkan juga dari cara kita berbicara, menatap, dan memperlakukan mereka.
Ketika Orang Tua Merasa Takut
Bagian paling menyentuh dari jawaban Imam Syafi’i adalah ungkapan tentang orang tua yang merendahkan suara karena takut pada anaknya. Takut yang dimaksud tidak selalu fisik. Bisa jadi orang tua takut dianggap tidak berguna, takut kehilangan wibawa, atau takut karena anak berbicara dengan kasar.
Dalam budaya Islam, rasa hormat kepada orang tua adalah fondasi. Apabila orang tua merasa takut, berarti terjadi pembalikan posisi: yang seharusnya anak tunduk justru membuat orang tua menahan diri. Di titik ini, Imam Syafi’i menilai anak telah terjerumus ke dalam kedurhakaan.
Perspektif Al-Qur’an dan Hadis
Al-Qur’an memberi pedoman sangat jelas dalam berinteraksi dengan orang tua. Allah berfirman:
**﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًاۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا ﴾
﴿وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا ﴾
(QS. الإسراء: ٢٣-٢٤)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu. Maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka. Tetapi ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (QS. Al-Isra [17]: 23–24)
Ayat ini menegaskan tiga larangan keras:
- Jangan berkata kasar walau hanya sekecil “ah”.
- Jangan membentak.
- Jangan meninggikan diri.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
رَغِمَ أَنْفُهُ، رَغِمَ أَنْفُهُ، رَغِمَ أَنْفُهُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ.
(رواه مسلم)
“Kerugian besar, kerugian besar, kerugian besar bagi orang yang mendapati salah satu dari kedua orang tuanya atau keduanya dalam usia lanjut, tetapi dia tidak masuk surga (karena gagal berbakti kepada mereka).” (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa keberadaan orang tua adalah peluang emas untuk memperoleh surga. Jika anak justru membuat orang tua takut atau sakit hati, berarti ia melewatkan peluang yang sangat berharga.
Batas Ketaatan Anak kepada Orang Tua
Meskipun ketaatan kepada orang tua sangat ditekankan, Islam juga mengajarkan bahwa ketaatan itu tidak berlaku dalam hal maksiat kepada Allah. Allah berfirman:
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman [31]: 15)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Seorang anak tidak boleh mengikuti perintah orang tua yang bertentangan dengan tauhid, tetapi tetap diwajibkan memperlakukan mereka dengan penuh kebaikan.
Jadi, perbedaan pendapat boleh saja terjadi, tetapi caranya harus penuh hormat, tanpa meninggikan suara atau menyakiti hati.
Dimensi Psikologis dan Sosial
Dalam realitas kehidupan, perselisihan antara anak dan orang tua kerap terjadi. Generasi muda membawa pandangan baru, sementara generasi tua cenderung berpegang pada tradisi. Ketika keduanya tidak saling memahami, konflik muncul. Imam Syafi’i mengingatkan agar konflik itu tidak sampai menjatuhkan wibawa orang tua.
Dari sisi psikologi, orang tua yang merasa dihargai akan lebih tenang dalam mendidik. Anak yang bersikap lembut akan mendapatkan doa tulus, sedangkan anak yang kasar bisa saja kehilangan keberkahan doa tersebut. Dari sisi sosial, keluarga yang penuh adab akan menjadi teladan bagi masyarakat.
Cara Menghindari Perselisihan yang Menyakiti
Beberapa langkah bisa ditempuh anak agar tidak tergelincir dalam kedurhakaan:
- Mengendalikan emosi. Jangan sampai suara lebih tinggi dari orang tua.
- Mendengar lebih banyak. Memberi ruang orang tua untuk berbicara, meski anak punya argumen kuat.
- Memilih kata yang lembut. Sampaikan pendapat dengan bahasa yang halus.
- Mengalah dalam perkara sepele. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan dengan logika.
- Mendoakan orang tua. Doa akan melembutkan hati dan menjaga hubungan tetap hangat.
Keteladanan Para Ulama
Banyak kisah teladan para ulama yang menunjukkan bakti luar biasa kepada orang tua. Imam Abu Hanifah, misalnya, tidak pernah menolak permintaan ibunya meskipun itu terasa berat. Ahmad bin Hanbal rela berjalan jauh hanya untuk memenuhi panggilan ibunya.
Imam Syafi’i sendiri dikenal sangat menghormati ibunya yang membesarkannya dalam kesulitan. Semua itu menunjukkan bahwa ilmu tinggi sekalipun tidak pernah membuat mereka merasa lebih dari orang tua.
Pertanyaan “bolehkah anak berselisih dengan orang tua?” terjawab dengan jelas melalui pandangan Imam Syafi’i. Jawabannya adalah tidak boleh jika perselisihan itu melukai hati, menurunkan wibawa, atau membuat orang tua takut kepada anak. Islam menuntut anak untuk menjaga adab, merendahkan suara, serta bersikap penuh kasih sayang.
Perbedaan pendapat boleh terjadi, tetapi sikap hormat harus tetap dijaga. Anak yang mampu menahan diri, mengalah, dan menjaga perasaan orang tuanya sesungguhnya sedang menjaga pintu surga. Sebaliknya, anak yang membuat orang tua takut, walaupun merasa benar, telah kehilangan inti ketaatan.
Di sinilah letak kebijaksanaan Imam Syafi’i: beliau mengajarkan bahwa kebenaran logika harus selalu berjalan seiring dengan kebenaran adab. Menjadi benar tidak berarti boleh meninggikan diri di hadapan orang tua. Menang dalam argumen tidak sebanding nilainya dengan ridha orang tua.
Maka, marilah kita renungkan sabda Rasulullah ﷺ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ
Artinya: “Keridhaan Allah tergantung pada keridhaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan keduanya.” (HR. Tirmiżī, no. 1899)
Kalimat itu cukup untuk menjadi kompas hidup. Sebab keridhaan orang tua adalah jalan paling dekat menuju ridha Allah.
Demikian pula hendaknya kita bersikap pada para guru kita sebagai penghormatan dan rasa berterimaksih atas kasih saying orang tua dan guru kita.
Baca Juga: 20 Akhlak Pribadi seorang Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari













