Opini  

Dari Aksi Demo Ke Darurat Militer: Rakyat Harus Waspada!

"Karikatur politik kerusuhan demo Indonesia 25 Agustus 2025 dengan bayangan darurat militer dan dalang tersembunyi di balik layar."
Ilustrasi karikatur menggambarkan kerusuhan demo 25 Agustus 2025 yang sarat kejanggalan, dengan bayangan darurat militer dan figur dalang misterius di baliknya.

Dari Aksi Demo Ke Darurat Militer: Rakyat Harus Waspada! – Indonesia kembali di guncang dengan demonstrasi besar. Jalan-jalan dipenuhi massa, bentrokan pecah, korban jatuh, dan media sibuk menyorot api yang membakar fasilitas umum.

Namun, pertanyaan besar muncul: apakah semua ini murni suara rakyat? Atau sekadar panggung rekayasa yang disiapkan dengan rapi?

"Karikatur politik kerusuhan demo Indonesia 25 Agustus 2025 dengan bayangan darurat militer dan dalang tersembunyi di balik layar."
Ilustrasi karikatur menggambarkan kerusuhan demo 25 Agustus 2025 yang sarat kejanggalan, dengan bayangan darurat militer dan figur dalang misterius di baliknya.

Aksi Bodong, Framing, Dan Narasi Satu Arah

Demo 25 Agustus 2025 terasa janggal. Tak ada posko medis, tak ada logistik, bahkan koordinasi pun nihil. Anehnya, baru tengah hari water canon sudah di tembakkan. Massa datang dari arah yang tak jelas, sebagian wajah asing, dan kerusuhan pun meletus.

Narasi di media sosial pun sudah siap. Akun-akun kosong, buzzer, hingga influencer pro pemerintah kompak menyebut pendemo anarkis, dibayar, dan tak tulus. Begitu ada bukti tandingan, akun-akun itu mendadak hilang.

Pertanyaannya sederhana: siapa yang mereka bela, siapa yang mereka serang, dan siapa yang sebenarnya diuntungkan?

Ucapan Pejabat Jadi Bensin

Belum reda, muncul ucapan kasar dari Ahmad Syahroni. Peserta demo, bahkan anak di bawah umur, dicaci. Dari seorang pejabat publik, kata-kata itu bukan hanya salah ucap, melainkan penghinaan. Dan seperti disiram bensin, aksi berikutnya pada 28 Agustus berubah drastis.

Buruh, mahasiswa, ojol, masyarakat sipil semua hadir dengan identitas yang jelas. Ada orasi, ada logistik, ada solidaritas. Mereka bercanda di sela ketegangan, saling berbagi makanan, saling menguatkan. Sayangnya, malam itu barakuda kembali beraksi. Ojol di giring, korban jiwa berjatuhan.

Baca Juga:

Karikatur politik kerusuhan dan darurat militer, menampilkan seorang orator dengan megafon dan tentara bersenjata di hadapan massa demonstran.

Kerusuhan & Bayang-Bayang Darurat Militer! Siapa Sebenarnya Dalangnya? https://sabilulhuda.org/kerusuhan-bayang-bayang-darurat-militer-siapa-sebenarnya-dalangnya/

Api, CCTV Mati, Dan Ingatan 2020

Hal lain yang mengusik: CCTV di lokasi di matikan, live TikTok di larang, siaran TV di batasi. Tetapi besoknya, justru kebakaran halte yang jadi headline besar-besaran. Logikanya apa gunanya pendemo membakar halte? Itu hanya merugikan mereka sendiri.

Api terlihat terkontrol, seakan akan bahan bakarnya sudah di siapkan. Deja vu. Tahun 2020, kasus pembakaran halte Sarinah terbongkar, pelakunya bukan mahasiswa, bukan buruh. Sejarah seolah berulang.

Tujuan Akhir Darurat Militer

Jika potongan puzzle ini di rangkai, ujungnya terlihat jelas: darurat militer.

Kenapa? Karena status itu dapat memberi ruang gerak yang luar biasa luas.

  • Siapapun bisa ditangkap tanpa proses hukum.
  • Kebebasan pers dan berkumpul lenyap.
  • Harta pribadi bisa disita atas nama keamanan.
  • Demokrasi runtuh, di gantikan rezim militer yang mengekang.

Kondisi chaos, pembakaran, penjarahan, kerusuhan menjadi legitimasi yang sempurna. Dan jika itu benar terjadi, Indonesia bisa saja menyusul Myanmar.

Rakyat Harus Cerdas

Inilah empat hal yang harus kita hindari bersama:

  • Jangan ikut aksi bodong yang sengaja di pasang untuk memancing kericuhan.
  • Jangan ikut membakar atau menjarah, karena itu hanya membuat rakyat rugi.
  • Jangan merusak fasilitas umum, sebab justru kita yang lumpuh.
  • Jangan mau di adu rakyat melawan rakyat, apalagi mengarah ke isolasi kelompok minoritas.

Musuh kita bukan sesama warga, bukan aparat di lapangan. Musuh kita ada di balik meja kekuasaan.

Antara Rakyat Dan Kekuasaan

Rakyat Indonesia tidak meminta hal muluk-muluk. Hanya keadilan, kebijakan yang berpihak, dan pejabat yang rendah hati. Namun yang kita lihat hari ini justru sebaliknya: ucapan arogan, kebijakan blunder, dan framing untuk membungkam suara rakyat.

Sejarah sudah berkali-kali membuktikan: ketika rakyat bersatu, istana pun bisa runtuh. Jangan remehkan suara rakyat. Jangan ulangi sejarah kelam darurat militer.

Indonesia masih bisa di selamatkan bukan dengan menakut-nakuti rakyat, tapi dengan keberanian pemimpin untuk berpihak pada rakyat.

Jika tidak, sejarah akan mencatat, kekuasaan yang rakus akan tumbang oleh akal sehat bangsanya sendiri.

Baca Juga: Presiden Prabowo, Demokrasi Indonesia Harus Khas