Opini  

Tantangan Debat! Sahroni Kena Sentil Diaspora, Tapi Pilih Diam

Kolase foto Salsa Erwina, diaspora Indonesia di Denmark, menantang debat terbuka Sahroni, anggota DPR RI, namun tidak diladeni
Salsa Erwina, diaspora Indonesia di Denmark, menantang Sahroni untuk debat terbuka soal kinerja DPR dan penggunaan uang rakyat. Tantangan ini ramai dibicarakan setelah Sahroni menyebut ide pembubaran DPR sebagai pemikiran “orang tolol sedunia”.

Tantangan Debat! Sahroni Kena Sentil Diaspora, Tapi Pilih Diam – Pernyataan pedas Anggota DPR RI Sahroni kembali menuai sorotan. Ia menyebut ide membubarkan DPR sebagai pemikiran “orang tolol sedunia”. Kalimat ini terdengar tegas, tapi juga menimbulkan rasa panas di telinga publik.

Sebab, siapa pun tahu, gaji dan tunjangan DPR bukan muncul dari langit, melainkan dari keringat rakyatnya sendiri.

Dan di tengah tengah  gaduh itu, muncul sosok yang tak terduga: Salsa Erwina Huta Galung, diaspora Indonesia yang kini bekerja di Denmark, tepatnya di perusahaan energi terbarukan raksasa dunia, Vestas. Dari negeri turbin angin itu, ia melempar tantangan berani: debat terbuka dengan Sahroni.

Kolase foto Salsa Erwina, diaspora Indonesia di Denmark, menantang debat terbuka Sahroni, anggota DPR RI, namun tidak diladeni
Salsa Erwina, diaspora Indonesia di Denmark, menantang Sahroni untuk debat terbuka soal kinerja DPR dan penggunaan uang rakyat. Tantangan ini ramai dibicarakan setelah Sahroni menyebut ide pembubaran DPR sebagai pemikiran “orang tolol sedunia”.

Uang Rakyat, Rasa Penasaran

Salsa menegaskan, debat bukan hanya sebatas adu mulut. Ia ingin tahu, apakah tunjangan dan gaji besar yang diterima DPR benar-benar sepadan dengan kontribusi terhadap kesejahteraan rakyat. Dengan bahasa sederhana, ia menyentil: “Uang sebanyak itu, masa tidak cukup memberi keberanian berargumen?”

Analogi sejarah pun ia angkat. Dari Revolusi Prancis yang menggulingkan feodalisme, hingga gerakan rakyat Indonesia 1998 yang melengserkan Soeharto. Pesannya jelas: suara rakyat tidak boleh dipandang remeh.

Klarifikasi Yang Setengah Hati

Merasa sorotan kian tajam, Sahroni buru-buru mengklarifikasi lewat Instagram. Ia bilang, istilah tolol bukan ditujukan kepada masyarakat luas, hanya untuk mereka yang serius ingin membubarkan DPR.

Namun klarifikasi ini tidak sepenuhnya menutup celah. Sebab, kata-kata yang sudah telanjur meluncur tetap punya nyawa: ia bergaung, dipotret, lalu dikomentari.

Pepatah Jawa mengingatkan: ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana (harga diri seseorang ada pada lisannya). Di era digital, satu kalimat bisa jadi bumerang berkepanjangan.

Baca Juga:

Ribuan massa memenuhi jalan di depan gedung DPR/MPR RI saat demo 25 Agustus, berhadapan dengan aparat kepolisian.

Demo Ribuan Massa Di DPR Berujung Ricuh, Lalu Lintas Sempat Lumpuh https://sabilulhuda.org/demo-ribuan-massa-di-dpr-berujung-ricuh-lalu-lintas-sempat-lumpuh/

Debat Yang Tak Pernah Terjadi

Yang di sayangkan, tantangan Salsa tak berbuah jawaban. Debat terbuka yang seharusnya bisa jadi ruang elegan untuk menguji argumen, justru di biarkan menguap. DPR, lagi-lagi, terlihat enggan membuka diri di hadapan publik.

Padahal, debat seperti ini bisa memberi keuntungan ganda.

  • Pertama, memperlihatkan kualitas intelektual anggota dewan.
  • Kedua, membangun kembali kepercayaan rakyat yang belakangan terus menipis.

Antara Keberanian Dan Ketertutupan

Fenomena ini membuka pertanyaan mendasar: apakah DPR hanya berani bicara di ruang aman, tapi ciut ketika di tantang rakyat, bahkan oleh seorang diaspora di negeri jauh?

Di satu sisi, Sahroni benar bahwa demokrasi tanpa DPR berisiko besar. Tetapi di sisi lain, menyebut kritik sebagai tolol jelas kontraproduktif. Kritik seharusnya di rangkul, bukan di tertawakan.

Jalan Sunyi Demokrasi

Kasus Salsa vs Sahroni ibarat kaca pembesar. Ia memperlihatkan jarak yang makin lebar antara rakyat dan wakilnya. Demokrasi tidak tumbuh dari kursi empuk dan tunjangan, tapi dari dialog dan keberanian menatap rakyat mata ke mata.

Pepatah Jawa lain berkata: ngono yo ngono, ning ojo ngono (boleh keras, tapi jangan kebablasan). Kritik keras bisa di pahami, tapi menutup pintu debat hanya akan memperdalam jurang ketidakpercayaan.

Indonesia butuh wakil rakyat yang bukan hanya lihai bicara di podium, tetapi juga siap beradu argumen di ruang publik. Jika tidak, DPR hanya akan jadi gedung megah yang sunyi, jauh dari denyut rakyat yang katanya mereka wakili.

Baca Juga: Presiden Prabowo, Demokrasi Indonesia Harus Khas