Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 40

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8

Cara baca:

اليقينُ، والثَّباتُ في الدِّينِ لنا ولكافَّةِ المسلمينَ، إنَّه أرحمُ الرَّاحمينَ.

Keyakinan dan keteguhan dalam agama adalah milik kita dan seluruh kaum Muslimin; sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

(١) أقولُ: إنَّ من الفِتَنِ الفاضِحَةِ الَّتي أُصيبَ بها المسلمونَ: قديمًا وحديثًا، تَلَطُّخُهم فيما جَرَى بين بعضِ الصَّحابةِ من خِلافٍ، ثم التَّحيُّزُ لأحَدِ الجانِبَينِ، والطَّعنُ في الجانبِ الآخَر.

Aku berkata: Sesungguhnya di antara fitnah besar yang menimpa kaum Muslimin, baik di masa lalu maupun masa kini, adalah keterlibatan mereka dalam urusan perselisihan yang terjadi di antara sebagian sahabat, lalu berpihak kepada salah satu pihak, dan mencela pihak yang lain.

وقد عَلِمَ عليهِ الصَّلاةُ والسَّلامُ، بإعلامِ اللهِ لهُ، ما سيُحدِثُ بعدَهُ من أُمورٍ وفِتَنٍ، ولِذا حذَّر وأنذَر وقال:

Dan sungguh Nabi ﷺ telah mengetahui—dengan pemberitahuan dari Allah kepadanya—apa yang akan terjadi setelah beliau berupa berbagai urusan dan fitnah, maka beliau pun memperingatkan dan menasihati seraya bersabda:

«إذا ذُكِرَ أصحابي فأمسِكوا»، أي وُجوبًا عن الطَّعنِ فيهم، والخَوضِ عمّا شَجَرَ بينهم من الحُروبِ الدَّامِيَةِ. ولأنَّهم خَيرُ الأمَّةِ بالإجماعِ، وخَيرُ القُرونِ بالاتِّفاقِ.

“Apabila sahabat-sahabatku disebutkan, maka tahanlah lisanmu,” yaitu wajib menahan diri dari mencela mereka dan dari membicarakan pertikaian berdarah yang pernah terjadi di antara mereka. Sebab mereka adalah sebaik-baik umat dengan kesepakatan, dan sebaik-baik generasi dengan ijma‘ para ulama.

فهم كالنُّجومِ، بل كالنُّجومِ، بأيِّ نَجمٍ اقتُدِيَ اهتُدِيَ، ولِما جَرَى بينهم مُحتَمَلٌ، فالمُصيبُ يُؤجَرُ مرَّتينِ، والمُخطِئُ يُؤجَرُ مرَّةً، لأنَّهُم يَتَحرَّوْنَ الصَّوابَ، وقَصدُهم حَسَنٌ، وهو إعلاءُ كلمةِ اللهِ تعالى، ونَشرُ الإسلامِ.

Mereka bagaikan bintang-bintang—ya, bintang-bintang—dengan mengikuti siapa pun dari mereka, seseorang akan mendapat petunjuk. Apa yang terjadi di antara mereka masih bisa dimaklumi: yang benar mendapat dua pahala, sedangkan yang keliru tetap mendapat satu pahala, karena mereka semua berusaha mencari kebenaran. Niat mereka baik, yaitu meninggikan kalimat Allah Ta‘ala dan menyebarkan Islam.

ولِذا نَحذَرُ أبناءَنا عن الخَوضِ في مِثلِ هذهِ الأمورِ، بَل نَرضَى عن الجميعِ، ونَحمِلُ في قُلوبِنا تَعظيمَ الجميعِ. ولكِنْ فَضلُ عليٍّ على مُعاويةَ أمرٌ لا يَختَلِفُ فيهِ إنسانٌ، ولا يَتَطاوَلُ فيهِ عُرْفانٌ، وأنَّ دَرَجَةَ عليٍّ ومَنزِلَتَهُ الرَّفيعَةَ مُتَّفَقٌ عليها.

Maka dari itu, kami memperingatkan anak-anak kami agar tidak terlibat dalam perkara seperti ini. Justru kita harus ridha kepada seluruh sahabat, dan menyimpan penghormatan kepada mereka semua.

Namun keutamaan ‘Ali atas Mu‘awiyah adalah perkara yang tidak diperselisihkan seorang pun, dan kedudukan tinggi serta derajat mulia ‘Ali telah menjadi kesepakatan.

وأنَّ القُلوبَ تَحمِلُ من الحُبِّ المَكنونِ لِعَليٍّ ما لا تَحمَلُهُ لمُعاويةَ. ومعَ ذلكَ كُلِّه، لا يَحمِلُنا كُلُّ هذا على الحَطِّ من قَدرِ مُعاويةَ، والطَّعنِ في مَقامِه المُنيفِ العالِي. فَنَكُفُّ، لا وقد استأمَنهُ الرَّسولُ عليهِ الصَّلاةُ والسَّلامُ على كِتابَةِ الوَحيِ في بَعضِ الأحيانِ، وقد شَهِد.

Dan hati kaum Muslimin memang memendam cinta yang lebih besar kepada ‘Ali dibanding kepada Mu‘awiyah. Namun dengan semua itu, tidak boleh membuat kita merendahkan kedudukan Mu‘awiyah atau mencela martabatnya yang tinggi dan mulia.

Maka kita menahan diri. Bukankah Rasulullah ﷺ sendiri pernah mempercayakannya untuk menuliskan wahyu pada beberapa kesempatan, dan itu adalah suatu kesaksian baginya.

Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 39

Penjelasan:

Menghormati Sahabat Nabi ﷺ: Sikap Bijak dalam Menyikapi Perselisihan

Sejarah Islam tidak pernah lepas dari perjalanan mulia para sahabat Nabi ﷺ. Mereka adalah generasi yang menyaksikan langsung wahyu turun, berjuang bersama Rasulullah, dan menjadi pilar kokoh penyebaran agama.

Sejarah juga mencatat adanya perselisihan di antara sebagian sahabat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Perselisihan itu terkadang melibatkan konflik politik dan peperangan, seperti yang terjadi pada masa Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dan Mu‘awiyah bin Abi Sufyan.

Bagi sebagian kaum Muslimin, peristiwa tersebut menjadi fitnah besar. Ada yang berpihak kepada salah satu sahabat dan mencela yang lain, sehingga terjatuh dalam dosa besar: mencela generasi terbaik umat.

Padahal, Rasulullah ﷺ telah memperingatkan agar kita menahan diri dalam membicarakan urusan para sahabat. Artikel ini mencoba menelaah sikap Islam terhadap perbedaan sahabat, dengan berpijak pada teks klasik yang telah kita baca.

Sahabat Adalah Generasi Terbaik

Para sahabat adalah manusia yang dipilih oleh Allah untuk mendampingi Rasulullah ﷺ. Mereka beriman di saat banyak orang menolak, berkorban jiwa dan harta demi Islam, serta menyebarkan risalah ke seluruh penjuru dunia. Tidak heran jika Nabi ﷺ bersabda:

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa sahabat adalah teladan utama bagi umat Islam. Mereka adalah bintang-bintang petunjuk: siapa saja yang mengikuti jalan mereka akan memperoleh hidayah.

Latar Belakang Sejarah Fitnah di Antara Sahabat

Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, umat Islam menghadapi ujian besar berupa perbedaan politik dan kepemimpinan. Salah satu yang paling mencolok adalah perselisihan antara Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dengan Gubernur Syam, Mu‘awiyah bin Abi Sufyan.

Perselisihan ini terjadi karena  perbedaan ijtihad dalam menyelesaikan kasus terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan dan  bukanlah karena keraguan mereka terhadap agama.

‘Ali mengutamakan stabilitas negara dan penegakan hukum bertahap, sementara Mu‘awiyah menuntut penegakan hukum segera terhadap para pembunuh Utsman. Perbedaan pandangan politik inilah yang kemudian berujung pada peperangan.

Di sinilah banyak kaum Muslimin tergelincir. Mereka terjebak dalam perdebatan siapa yang benar dan siapa yang salah, bahkan sampai mencela sahabat tertentu. Padahal, Rasulullah ﷺ sudah memperingatkan:

“إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِي فَأَمْسِكُوا”

“Apabila sahabat-sahabatku disebutkan, maka tahanlah lisanmu.”

Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama‘ah

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah telah sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil dan terjaga kehormatannya. Mereka tidaklah maksum seperti Nabi, tetapi niat mereka selalu tulus demi meninggikan kalimat Allah.

Dalam pandangan Ahlus Sunnah:

  • Yang benar di antara mereka mendapat dua pahala.
  • Yang keliru tetap mendapat satu pahala, karena mereka berijtihad dengan niat mencari kebenaran.

Maka, kewajiban kita adalah menahan lisan dari mencela mereka, meridhai seluruh sahabat, dan mendoakan mereka.

Keutamaan ‘Ali dan Kedudukan Mu‘awiyah

Tidak ada seorang pun yang meragukan bahwa keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib lebih tinggi daripada Mu‘awiyah. ‘Ali adalah sepupu sekaligus menantu Rasulullah, termasuk al-khulafā’ ar-rāsyidūn, dan dijanjikan surga. Keutamaannya disepakati oleh semua ulama.

Namun, fakta itu tidak boleh menjadikan kita merendahkan Mu‘awiyah. Ia tetap seorang sahabat mulia, penulis wahyu Nabi ﷺ, dan memiliki jasa besar dalam sejarah Islam. Menjaga kehormatannya adalah bagian dari menjaga kehormatan sahabat secara keseluruhan.

Cinta dan Keadilan dalam Menyikapi

Teks yang kita kaji tadi menegaskan:

  • Hati kaum Muslimin memang lebih condong mencintai ‘Ali.
  • Akan tetapi, cinta itu tidak boleh membuat kita mengurangi penghormatan kepada Mu‘awiyah.
  • Keduanya tetap sahabat Nabi, dan keduanya berjuang demi meninggikan kalimat Allah.

Sikap yang benar adalah mencintai seluruh sahabat, mengakui keutamaan mereka, serta menahan diri dari membicarakan konflik yang terjadi di antara mereka.

Pelajaran bagi Umat Islam Masa Kini

Ada beberapa hikmah penting yang bisa kita ambil:

1. Menghargai Perbedaan Ijtihad

Perbedaan di antara sahabat menunjukkan bahwa perbedaan ijtihad adalah hal yang wajar. Selama niatnya lurus dan tujuannya menegakkan agama, perbedaan itu tetap berpahala.

2. Menahan Lisan

Fitnah terbesar justru muncul ketika umat setelah mereka mencela sahabat. Padahal Allah dan Rasul-Nya telah memuliakan sahabat. Maka menahan lisan lebih selamat daripada membuka aib sejarah yang samar.

3. Mengutamakan Ukhuwah Islamiyah

Perselisihan politik jangan sampai mengoyak ukhuwah dan menimbulkan kebencian abadi. Umat Islam seharusnya belajar dari perselisihan sahabat, bukan mewarisi permusuhan mereka.

4. Menjaga Kehormatan Generasi Awal

Jika generasi terbaik saja kita cela, maka bagaimana mungkin kita berharap memperoleh keberkahan dari Allah? Mencintai sahabat adalah bagian dari iman.

Relevansi dengan Kondisi Umat Sekarang

Umat Islam di era modern sering kali terpecah karena masalah politik, organisasi, bahkan perbedaan kecil dalam fikih. Kadang, satu kelompok mencela kelompok lain dengan keras, seolah mereka bukan lagi bagian dari Islam. Padahal, perbedaan adalah sunnatullah, sebagaimana terjadi pada sahabat.

Jika kita benar-benar mencintai sahabat, maka kita harus meneladani akhlak mereka: tulus dalam niat, berijtihad untuk kebenaran, dan tetap menjaga ukhuwah.

Penutup

Para sahabat Nabi ﷺ adalah generasi terbaik yang dipilih Allah. Perselisihan yang terjadi di antara mereka adalah hasil ijtihad, bukan karena cinta dunia atau kebencian pribadi. Yang benar mendapat dua pahala, yang keliru tetap mendapat satu pahala.

Kita sebagai umat Islam wajib menahan lisan, meridhai seluruh sahabat, mencintai mereka, dan meneladani perjuangan mereka. Cinta kita kepada ‘Ali tidak boleh mengurangi penghormatan kepada Mu‘awiyah. Sebaliknya, penghormatan kepada Mu‘awiyah tidak boleh membuat kita melupakan kedudukan agung ‘Ali.

Dengan demikian, sikap yang paling selamat adalah yang diajarkan Rasulullah ﷺ: “Apabila sahabat-sahabatku disebutkan, maka tahanlah lisanmu.”