Ajal Pasti Datang! Sudahkah Kita Siap Dengan Bekal Akhirat? – Hidup di dunia sering kali kita anggap panjang, padahal sejatinya singkat. Kita bekerja, mencari rezeki, membangun rumah, membeli kendaraan, hingga terkadang lupa bahwa semua itu hanyalah sementara.
Dalam Islam, kehidupan dunia ini adalah ladang untuk menanam amal. Apa yang kita lakukan hari ini akan menjadi bekal ketika kita pulang, yakni menuju akhirat.

Gaji Dunia Dan Gaji Akhirat
Saat bekerja di dunia, kita menerima upah atau gaji. Dalam bahasa Arab, gaji disebut ujrah. Bahkan di Timur Tengah, taksi diberi nama taksi ujrah karena setiap jasa yang di berikan ada bayarannya.
Begitu pula dalam kehidupan spiritual, setiap ibadah yang kita lakukan juga memiliki balasan. Bedanya, upah dari ibadah bukan berupa uang, melainkan pahala.
Al-Qur’an menyebut pahala dengan istilah ajrun. Allah menegaskan, siapa pun yang mengerjakan amal kebaikan, maka akan dibalas minimal sepuluh kali lipat (QS. Al-An’am: 160). Dengan kata lain, setiap amal saleh yang kita lakukan akan dikalkulasi menjadi poin untuk akhirat.
Amal Saleh Sebagai Investasi Abadi
Segala amal baik di sebut hasanah. Jika seseorang melakukan amal saleh dengan ikhlas karena Allah, maka setiap hasanah di catat sebagai poin kebaikan.
Misalnya, hanya dengan melangkahkan kaki ke masjid, kita sudah mendapat 25 pahala. Belum lagi ibadah puasa, sedekah, membaca Al-Qur’an, semuanya tidak akan sia-sia di sisi Allah.
Namun sayangnya, banyak orang justru meremehkan. Tidak sedikit yang meninggalkan salat, padahal setiap kali melalaikan kewajiban, pahala yang hilang begitu besar. Seandainya kita sadar, tentu kita akan berlomba-lomba menjadikan setiap aktivitas dunia bernilai akhirat.
Baca Juga:

Mau Ke Mana Hidup Kita? Renungan Dari Surah At-Takwir Ayat 26 https://sabilulhuda.org/mau-ke-mana-hidup-kita-renungan-dari-surah-at-takwir-ayat-26/
Waktu Yang Terbatas, Ajal Yang Pasti
Allah memberikan kita waktu yang disebut dengan ajal. Setiap manusia pasti memiliki batas hidup, tidak bisa di tambah atau dikurangi. Dalam QS. Al-A’raf ayat 34 di jelaskan bahwa setiap umat punya ajal yang sudah di tentukan.
Jika di pikirkan, betapa singkat sebenarnya hidup kita. Rata-rata manusia hidup 40 sampai 60 tahun. Dari usia itu, setengahnya habis untuk tidur. Artinya, jika kita hidup 40 tahun, sekitar 20 tahun kita habiskan hanya untuk tidur.
Dari sisa 20 tahun, sebagian besar di gunakan untuk aktivitas sehari-hari. Lalu berapa yang benar-benar di gunakan untuk ibadah dengan ikhlas?
Jika di hitung, tidak lebih dari beberapa tahun saja amal kita yang murni diterima oleh Allah. Sementara dosa kita bisa jauh lebih banyak. Inilah renungan yang seharusnya membuat kita sadar: hidup ini sebentar, bekal akhirat harus di persiapkan.
Tidur Sebagai Latihan Kematian
Setiap malam kita tidur, sejatinya itu adalah latihan kematian. Nabi mengajarkan doa sebelum tidur: Allahumma bismika amuutu wa ahyaa (“Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan hidup kembali”). Dan ketika bangun, kita mengucapkan hamdalah karena Allah masih memberi kesempatan hidup.
Namun suatu saat, kita akan tidur untuk terakhir kalinya tanpa bisa bangun kembali. Saat itu, malaikat maut akan datang menjemput. Maka pertanyaannya, apakah kita sudah siap dengan bekal amal saleh?
Sudahkah Kita Siap Pulang?
Banyak orang tahu bahwa kematian pasti datang, tahu adanya surga dan neraka, tahu adanya nikmat dan siksa kubur, tapi masih saja lalai. Padahal, kita tidak tahu kapan waktu pulang itu tiba.
Sungguh indah jika yang menyalatkan jenazah kita nanti adalah anak-anak kita sendiri yang saleh dan salehah, yang pernah kita didik dengan penuh kasih sayang. Namun bagaimana bila sebaliknya? Apakah mereka akan mendoakan, atau justru melupakan?
Renungan ini seharusnya membuat kita lebih serius. Bukan berarti tidak boleh bekerja atau bersenang-senang, tapi jangan sampai semua waktu habis tanpa nilai akhirat. Bukankah lebih baik jika pekerjaan kita di dunia juga bernilai ibadah di sisi Allah?
Hidup hanyalah sementara. Dunia bukan tempat tinggal abadi, melainkan tempat singgah untuk mengumpulkan bekal. Waktu yang tersisa semakin sedikit, dan ajal semakin dekat. Karena itu, mari kita berdoa sebagaimana di ajarkan dalam Al-Qur’an:
“Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-naar”
(Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka).
Semoga kita termasuk orang yang mampu menjadikan setiap langkah di dunia ini sebagai investasi untuk kehidupan abadi di akhirat.
Baca Juga: 20 Akhlak Pribadi seorang Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari













