Demo Di Depan DPR RI Ricuh, Ratusan Siswa SMA Turun Ke Jalan – Unjuk rasa kembali terjadi di depan Gedung DPR RI, Senin (25/8). Ratusan siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) terlihat memadati Jalan Gatot Subroto, tepat di depan gerbang utama DPR RI. Massa aksi mulai berkumpul sejak siang hari, sekitar pukul 12.00 WIB.
Para siswa yang masih mengenakan seragam celana abu-abu serta sweater tampak berbaur dengan kelompok ojek online (ojol) yang ikut serta dalam aksi. Mereka datang dengan membawa semangat protes terhadap kebijakan DPR RI yang dinilai tidak masuk akal di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sulit.
Namun, massa tidak bisa mendekat ke gerbang utama DPR karena sejumlah kendaraan taktis polisi, termasuk mobil barakuda, sudah terparkir rapat sebagai barikade penghalang. Situasi semakin memanas ketika aparat kepolisian menghalau massa dengan water canon.

Seruan Bubarkan DPR RI
Aksi ini berawal dari seruan demonstrasi yang sebelumnya ramai beredar di media sosial. Ajakan turun ke jalan muncul di platform X, Instagram, TikTok, hingga Facebook. Tuntutan utama demonstrasi kali ini adalah mendesak pembubaran DPR RI.
Masyarakat yang turun ke jalan menilai DPR tidak pantas mendapatkan tunjangan rumah senilai Rp50 juta per bulan. Kebijakan itu dianggap janggal, terutama karena kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang penuh tantangan.
Sementara itu, Presiden RI Prabowo Subianto baru-baru ini justru menyerukan efisiensi anggaran negara.
“Tidak logis jika DPR diberi tunjangan sebesar itu, sementara rakyat banyak yang kesulitan. Kami ingin DPR dibubarkan saja,” ujar salah seorang peserta aksi.
Baca Juga:

Ironi Negeri Pajak! Buruh Tercekik, Wakil Rakyat Panen Tunjangan https://sabilulhuda.org/ironi-negeri-pajak-buruh-tercekik-wakil-rakyat-panen-tunjangan/
Situasi Sempat Memanas
Dalam siaran langsung Facebook Warta Kota, ketegangan antara massa dan polisi terlihat semakin meningkat sekitar pukul 13.30 WIB. Massa yang tidak terima dihalau mencoba terus maju ke arah barikade. Polisi yang bersiaga kemudian memberikan peringatan keras.
“Pasukan water canon persiapan, tembak!” terdengar instruksi dari aparat di lapangan.
Water canon pun ditembakkan ke arah massa untuk membubarkan kerumunan. Massa berusaha bertahan, bahkan ada yang melempar batu ke arah barisan polisi. Aparat terus memberi imbauan agar peserta aksi tidak melempar benda karena bisa melukai sesama.
Meski begitu, kericuhan tetap berlangsung. Beberapa demonstran terlihat naik ke pagar pembatas gedung, sementara polisi menambah pasukan untuk mendorong massa mundur. “Maju, maju terus!” teriak aparat, diiringi suara peluit dan pengeras suara.
Gelombang Protes Terhadap DPR
Aksi unjuk rasa ini menjadi salah satu dari sekian banyak bentuk protes masyarakat terhadap kinerja DPR RI. Isu mengenai tunjangan fantastis sebesar Rp50 juta per bulan dinilai sebagai bentuk pemborosan anggaran.
Di tengah seruan efisiensi dari pemerintah, kebijakan DPR justru menimbulkan kecaman luas. Bagi para peserta aksi, langkah DPR tidak berpihak pada rakyat kecil yang sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi.
Demonstrasi yang melibatkan siswa SMA ini pun menambah sorotan publik. Banyak pihak menilai, keterlibatan pelajar dalam aksi massa menunjukkan betapa dalamnya rasa ketidakpuasan masyarakat terhadap DPR.
Hingga berita ini diterbitkan, polisi masih terus berjaga di sekitar lokasi untuk mengantisipasi gelombang massa tambahan. Situasi berangsur kondusif, meski ketegangan sempat membuat arus lalu lintas di Jalan Gatot Subroto lumpuh total.













