وأن نعتقد فضل الصحابة، ورتبتهم، وأن أفضل الناس بعد رسول الله ﷺ: أبو بكر، ثم عمر، ثم عثمان، ثم علي، رضي الله عنهم، وأن نحسن الظن بجميع الصحابة، ونثني عليهم، كما أثنى الله عليهم ورسوله أجمعين، فكل ذلك مما وردت به الأخبار، وشهدت به الآثار، فمن اعتقد جميع ذلك موقناً به، كان من أهل الحق، وعصابة السنة، وفارق(*) رقط الضلال وحزب البدعة، فنسأل الله كمال
قالوا: ابن الجدعاء، أو ابن أبي الجدعاء، رواه ابن حبان في صحيحه وابن ماجه.
إلا أنه قال: عن شقيق عن عبد الله بن أبي الجدعاء.
وعن أبي أمامة رضي الله تعالى عنه قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول:
«ليدخلن الجنة بشفاعة رجل ليس بنبي، مثل الحيين: ربيعة، ومضر».
فقال رجل: يا رسول الله أهو ما ربيعة من مضر؟ قال: «إنما أقول ما أقول». رواه أحمد بإسناد جيد.
(*) ربط الرجل: نومه وتبليته. والربط: ما دون العشرة من الرجال لا يكون فيهم امرأة. قال تعالى: ﴿وكانت في المدينة نسوةٌ﴾، وهو جمع لا واحد له من لفظه. اهـ مختار الصحاح.
٣٩
Cara bacanya:
وَأَنْ نَعْتَقِدَ فَضْلَ الصَّحَابَةِ وَرُتْبَتَهُمْ، وَأَنَّ أَفْضَلَ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ: أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، ثُمَّ عَلِيٌّ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، وَأَنْ نُحْسِنَ الظَّنَّ بِجَمِيعِ الصَّحَابَةِ، وَنُثْنِيَ عَلَيْهِمْ، كَمَا أَثْنَى اللهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ أَجْمَعِينَ، فَكُلُّ ذٰلِكَ مِمَّا وَرَدَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ، وَشَهِدَتْ بِهِ الْآثَارُ، فَمَنْ اعْتَقَدَ جَمِيعَ ذٰلِكَ مُوَقِّنًا بِهِ، كَانَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ، وَعِصَابَةِ السُّنَّةِ، وَفَارَقَ رَهْطَ الضَّلَالِ وَحِزْبَ الْبِدْعَةِ، فَنَسْأَلُ اللهَ كَمَالَ.
Terjemahan:
وَأَنْ نَعْتَقِدَ فَضْلَ الصَّحَابَةِ وَرُتْبَتَهُمْ
Dan bahwa kita meyakini keutamaan para sahabat serta kedudukan mereka.
وَأَنَّ أَفْضَلَ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ: أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، ثُمَّ عَلِيٌّ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ
Dan bahwa sebaik-baik manusia setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali, semoga Allah meridhai mereka semua.
وَأَنْ نُحْسِنَ الظَّنَّ بِجَمِيعِ الصَّحَابَةِ، وَنُثْنِيَ عَلَيْهِمْ
Dan hendaknya kita berbaik sangka terhadap seluruh sahabat, serta memuji mereka.
كَمَا أَثْنَى اللهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ أَجْمَعِينَ
Sebagaimana Allah dan Rasul-Nya telah memuji mereka seluruhnya.
فَكُلُّ ذٰلِكَ مِمَّا وَرَدَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ، وَشَهِدَتْ بِهِ الْآثَارُ
Karena semua itu telah datang dalam kabar-kabar (riwayat) dan disaksikan oleh atsar-atsar (peninggalan/riwayat sahabat).
فَمَنْ اعْتَقَدَ جَمِيعَ ذٰلِكَ مُوَقِّنًا بِهِ، كَانَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ، وَعِصَابَةِ السُّنَّةِ
Maka siapa yang meyakini semua itu dengan penuh keyakinan, dia termasuk golongan kebenaran dan barisan Ahlus Sunnah.
Baca Juga: Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 38 Part 2
وَفَارَقَ رَهْطَ الضَّلَالِ وَحِزْبَ الْبِدْعَةِ
Dan ia telah berpisah dari golongan kesesatan dan kelompok bid’ah.
فَنَسْأَلُ اللهَ كَمَالَ
Maka kami memohon kepada Allah kesempurnaan (iman dan keyakinan ini).
قالوا: ابنُ الجُدْعَاءِ، أو ابنُ أبي الجُدْعَاءِ، رواه ابنُ حِبَّانَ في صحيحه وابنُ ماجه.
إلَّا أنَّه قال: عن شَقيقٍ عن عبدِ اللهِ بنِ أبي الجُدْعَاءِ.
وعن أبي أُمَامَةَ رضي الله تعالى عنه قال:
سمعتُ رسولَ الله ﷺ يقول:
«لَيَدْخُلَنَّ الجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ رَجُلٍ لَيْسَ بِنَبِيٍّ، مِثْلَ الحَيَّيْنِ: رَبِيعَةَ وَمُضَرَ».
فقال رجلٌ: يا رسولَ الله، أهو ما رَبِيعَةُ من مُضَرَ؟
قال: «إِنَّمَا أَقُولُ مَا أَقُولُ».
رواه أحمدُ بإسنادٍ جيد.
(*) رَبَطَ الرَّجُلُ: نَوْمُهُ وَتَبْلِيَتُهُ.
والرِّبْطُ: ما دونَ العَشَرَةِ مِنَ الرِّجَالِ لَا يَكُونُ فِيهِمُ امْرَأَةٌ.
قال تعالى: ﴿وَكَانَتْ فِي الْمَدِينَةِ نِسْوَةٌ﴾، وهو جَمعٌ لا واحدَ له من لَفْظِه.
اهـ مختار الصحاح.
________________________________________
TERJEMAHAN INDONESIA
Mereka berkata: Ibnu al-Jud‘a, atau Ibnu Abi al-Jud‘a, hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dan oleh Ibnu Majah.
Hanya saja, ia (Ibnu Majah) meriwayatkan: dari Syaqiq, dari Abdullah bin Abi al-Jud‘a.
Dan dari Abu Umamah ra., ia berkata:
“Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh, akan masuk surga dengan syafaat seorang laki-laki yang bukan nabi, sejumlah besar manusia seperti dua kabilah besar: Rabi‘ah dan Mudhar.”
Lalu seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah, apakah itu Rabi‘ah dari Mudhar?”
Beliau menjawab: “Aku hanya mengatakan apa yang aku katakan.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang baik.
(*) Dalam bahasa Arab, rabat ar-rajul artinya: tidurnya dan kelemahannya. Sedangkan ribth berarti sekelompok laki-laki yang jumlahnya kurang dari sepuluh, dan tidak ada perempuan di dalamnya.
Allah Ta‘ala berfirman: “Dan di kota itu ada sekelompok perempuan (niswah).” (QS. Yusuf: 30). Kata niswah adalah bentuk jamak yang tidak memiliki bentuk tunggal dari lafaz itu sendiri.
Penjelasan:
Dalam ajaran Islam, keimanan tidak hanya menyangkut rukun iman yang enam, tetapi juga mencakup keyakinan terhadap kemuliaan generasi sahabat Nabi ﷺ. Mereka adalah orang-orang pilihan yang hidup bersama Rasulullah ﷺ, beriman, berjuang, dan menegakkan agama ini dengan pengorbanan jiwa dan raga.
Ahlus Sunnah wal Jama‘ah memiliki prinsip yang kokoh dalam memuliakan sahabat. Prinsip ini bukan sekadar sikap historis, melainkan bagian dari akidah yang menandakan lurusnya iman seseorang. Hal ini tercermin dalam teks para ulama, sebagaimana disebutkan:
وَأَنْ نَعْتَقِدَ فَضْلَ الصَّحَابَةِ، وَرُتْبَتَهُمْ، وَأَنَّ أَفْضَلَ النَّاسِ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ: أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ عُثْمَانُ، ثُمَّ عَلِيٌّ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ، وَأَنْ نُحْسِنَ الظَّنَّ بِجَمِيعِ الصَّحَابَةِ، وَنُثْنِيَ عَلَيْهِمْ، كَمَا أَثْنَى اللهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ أَجْمَعِينَ، فَكُلُّ ذَلِكَ مِمَّا وَرَدَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ، وَشَهِدَتْ بِهِ الْآثَارُ، فَمَنْ اعْتَقَدَ جَمِيعَ ذَلِكَ مُوقِنًا بِهِ، كَانَ مِنْ أَهْلِ الْحَقِّ، وَعِصَابَةِ السُّنَّةِ، وَفَارَقَ رُقْطَ الضَّلَالِ وَحِزْبَ الْبِدْعَةِ، فَنَسْأَلُ اللهَ كَمَالَ التَّوْفِيقِ.
Teks ini menegaskan: siapa yang beriman kepada keutamaan sahabat, serta menempatkan mereka dalam urutan yang benar, maka dia termasuk golongan Ahlus Sunnah wal Jama‘ah dan selamat dari kelompok bid‘ah.
1. Keutamaan Sahabat dalam al-Qur’an dan Sunnah
Al-Qur’an telah menegaskan bahwa sahabat adalah generasi terbaik. Allah ﷻ berfirman:
﴿مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ﴾
(محمد: ٢٩)
“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia keras terhadap orang kafir, tetapi penuh kasih sayang sesama mereka.”
Begitu pula, Rasulullah ﷺ bersabda:
«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»
(رواه البخاري ومسلم)
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya, lalu yang setelahnya.”
Hadis ini adalah dasar bahwa sahabat adalah generasi terbaik sepanjang sejarah.
2. Urutan Keutamaan Sahabat
Ahlus Sunnah wal Jama‘ah bersepakat bahwa urutan sahabat yang paling utama setelah Nabi ﷺ adalah:
Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه
Beliau adalah sahabat terdekat Nabi ﷺ, pendamping hijrah, khalifah pertama, dan orang yang paling cepat membenarkan risalah.
Sabda Nabi ﷺ:
«لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا»
(رواه البخاري ومسلم)
‘Umar bin al-Khattab رضي الله عنه
Khalifah kedua, dikenal dengan ketegasan dan keadilannya. Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرُ»
(رواه الترمذي)
‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه
Khalifah ketiga, dermawan besar yang membiayai pasukan dan memperluas Mushaf Utsmani.
Sabda Nabi ﷺ:
«أَلَا أَسْتَحْيِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحْيِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ»
(رواه مسلم)
‘Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه
Khalifah keempat, sepupu sekaligus menantu Nabi ﷺ, dikenal dengan keberanian dan ilmunya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي»
(رواه البخاري ومسلم)
Urutan ini bukan sekadar sejarah, melainkan bagian dari keyakinan akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah.
3. Prinsip Husnuzhan kepada Seluruh Sahabat
Ahlus Sunnah meyakini bahwa seluruh sahabat harus dihormati. Mereka bukan manusia yang maksum, tetapi kedudukan mereka tinggi karena menjadi pembawa agama ini. Allah ﷻ memuji mereka:
﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ﴾
(التوبة: ١٠٠)
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kaum Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
Maka, sikap mencela sahabat adalah tanda penyimpangan. Imam Abu Ja‘far ath-Thahawi (w. 321 H) menegaskan dalam Aqidah Thahawiyah:
“Kita mencintai seluruh sahabat Rasulullah ﷺ. Kita tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antara mereka, dan kita tidak berlepas diri dari salah seorang dari mereka. Kita membenci orang yang membenci mereka, dan hanya menyebut mereka dengan kebaikan.”
4. Kisah Hadis tentang Syafaat
Dalam riwayat yang mulia disebutkan:
قالوا: ابْنُ الْجُدْعَاءِ، أَوِ ابْنُ أَبِي الْجُدْعَاءِ، رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ وَابْنُ مَاجَهْ. إِلَّا أَنَّهُ قَالَ: عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي الْجُدْعَاءِ. وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ رَجُلٍ لَيْسَ بِنَبِيٍّ، مِثْلَ الْحَيَّيْنِ: رَبِيعَةَ وَمُضَرَ». فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ أَهُوَ مَا رَبِيعَةُ مِنْ مُضَرَ؟ قَالَ: «إِنَّمَا أَقُولُ مَا أَقُولُ». رَوَاهُ أَحْمَدُ بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ.
Hadis ini menunjukkan betapa besar kedudukan sebagian sahabat yang Allah karuniakan syafaat luar biasa. Mereka bukan nabi, namun Allah muliakan hingga mampu memberi syafaat kepada kaum sebanyak suku Rabi‘ah dan Mudhar.
5. Sikap Ahlus Sunnah terhadap Perselisihan Sahabat
Tidak dipungkiri bahwa dalam sejarah, para sahabat juga mengalami fitnah dan perbedaan, bahkan sampai terjadi peperangan. Namun, Ahlus Sunnah menetapkan kaidah:
- Kita mencintai semuanya, dan kita meyakini bahwa mereka berijtihad.
- Yang benar mendapat dua pahala, dan yang keliru tetap mendapat satu pahala ijtihad.
- Kita tidak mencela mereka, sebab mereka jauh lebih utama dari generasi setelahnya.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
“Jika engkau melihat seseorang menyebut sahabat dengan keburukan, maka ragukanlah keislamannya.”
6. Menjauhi Bid‘ah dan Jalan Sesat
Keyakinan terhadap kemuliaan sahabat merupakan pembeda antara Ahlus Sunnah dengan kelompok bid‘ah. Kelompok Syiah Rafidhah mencela sahabat, sementara Khawarij mengkafirkan sebagian mereka. Adapun Ahlus Sunnah tetap pada jalannya: mencintai, mendoakan, dan meneladani sahabat.
Oleh karena itu, siapa yang berpegang teguh pada prinsip ini, maka dia telah meninggalkan jalan bid‘ah dan berada dalam ‘Isabah as-Sunnah (kelompok pengikut sunnah).
7. Penutup
Keyakinan akan keutamaan sahabat merupakan fondasi aqidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Kita wajib:
- Mengakui urutan keutamaan mereka.
- Menghormati dan tidak mencela mereka.
- Mengikuti jalan mereka dalam beragama.
- Menjaga hati agar selalu husnuzhan kepada generasi mulia tersebut.
Semoga Allah ﷻ menghimpun kita bersama Rasulullah ﷺ dan para sahabat di surga-Nya yang luas.



