Filosofi Jawa “Nek Ngomong Ojo Dhuwur-Dhuwur, Ngko Lambemu Kesampluk Pesawat” Dan Maknanya

Seorang sesepuh Jawa memberi nasihat bijak kepada dua anak kecil dengan pakaian adat tradisional Jawa.
Pepatah Jawa 'Nek ngomong ojo dhuwur-dhuwur, ngko lambemu kesampluk pesawat' diajarkan turun-temurun sebagai pengingat pentingnya rendah hati dalam berbicara

Filosofi Jawa “Nek Ngomong Ojo Dhuwur-Dhuwur, Ngko Lambemu Kesampluk Pesawat” Dan Maknanya – Ungkapan Jawa selalu punya cara unik untuk menyampaikan sebuah nasihat. Salah satunya adalah pepatah yang terdengar jenaka ini:

“Nek ngomong ojo dhuwur-dhuwur, ngko lambemu kesampluk pesawat.” Kalau diterjemahkan, artinya: “Kalau bicara jangan terlalu tinggi-tinggi, nanti mulutmu bisa tertabrak pesawat.”

Sekilas ungkapan ini terdengar lucu, bahkan terasa tidak masuk akal. Namun, di balik kelucuan itu, tersimpan filosofi dalam tentang bagaimana orang Jawa memandang sikap rendah hati. Kehati-hatian dalam berkata, dan pentingnya menjaga keselarasan dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang sesepuh Jawa memberi nasihat bijak kepada dua anak kecil dengan pakaian adat tradisional Jawa.
Pepatah Jawa ‘Nek ngomong ojo dhuwur-dhuwur, ngko lambemu kesampluk pesawat’ diajarkan turun-temurun sebagai pengingat pentingnya rendah hati dalam berbicara

Tentang Bicara Rendah Hati

Dalam keseharian, kita sering menemui orang yang gemar berbicara berlebihan. Ada yang suka menyombongkan diri, ada pula yang terlalu muluk dalam berjanji. Bagi orang Jawa, sikap seperti ini ibarat bicara terlalu tinggi dan bisa berbahaya.

Pepatah tadi muncul sebagai sindiran halus. Kesampluk pesawat tidak benar-benar berarti tertabrak pesawat, tapi sebagai simbol bahwa ucapan yang kelewat tinggi bisa membawa masalah.

Bisa jadi janji tidak terpenuhi, bisa juga membuat orang lain merasa di rendahkan.

Intinya, orang Jawa ingin mengingatkan: lebih baik bicara sederhana tapi pasti, daripada berlebihan dan akhirnya memalukan diri sendiri.

Nilai Andhap Asor Sebagai Akar Filosofi Jawa Dalam Tutur Kata

Filosofi Jawa yang paling kuat di balik pepatah ini adalah nilai andhap asor, atau kerendahan hati. Orang Jawa dari kecil sudah di ajarkan untuk tidak meninggikan diri sendiri lewat ucapan maupun sikap.

Dalam pandangan Jawa, kata-kata bukan soal bunyi. Ucapan yang keluar dari mulut bisa membawa konsekuensi, baik secara sosial maupun spiritual. Karena itu, semakin rendah hati seseorang dalam berbicara, maka semakin tinggi pula penghargaan yang ia dapat dari orang lain.

Dengan kata lain, pepatah ini bukan melarang orang untuk punya mimpi besar atau cita-cita yang tinggi. Yang ditekankan disini adalah cara menyampaikannya: jangan sampai ucapan kita terdengar sombong, arogan, atau bahkan meremehkan orang lain.

Baca Juga:

Sejumlah pria Jawa mengenakan pakaian tradisional membungkuk dengan sikap hormat, menggambarkan tata krama dan unggah-ungguh dalam budaya Jawa.

Filosofi Jawa “Nuwun Sewu” Serta Makna Kesopanan Di Baliknya https://sabilulhuda.org/filosofi-jawa-nuwun-sewu-serta-makna-kesopanan-di-baliknya/

Tata Krama Dalam Berkata

Bagi masyarakat Jawa, tutur kata erat kaitannya dengan tata krama atau unggah-ungguh. Saat kita berbicara dengan orang tua, guru, atau tokoh masyarakat, bahasa yang di gunakan biasanya lebih halus.

Maka pepatah ojo dhuwur-dhuwur bisa di pahami sebagai ajakan untuk selalu menyesuaikan ucapan dengan situasi. Jika bicara terlalu tinggi di hadapan orang yang seharusnya dihormati, bisa dianggap tidak sopan. Maka, menjaga ucapan adalah bagian dari menjaga keharmonisan sosial.

Relevansi Pepatah Di Era Modern

Meski berasal dari budaya Jawa tradisional, makna pepatah ini tetap relevan di era modern. Lihat saja di media sosial, di mana banyak orang berlomba-lomba menunjukkan pencapaian, gaya hidup, atau harta.

Kalau tidak hati-hati, ucapan dan unggahan yang terlalu tinggi justru bisa memicu cibiran, bahkan merugikan diri sendiri. Di sinilah pepatah Jawa tadi terasa pas: jangan bicara terlalu tinggi, karena bisa saja kesampluk pesawat. Dalam bentuk komentar negatif, hilangnya kepercayaan, atau citra buruk di mata orang lain.

Bijak Dalam Ucapan

Pada akhirnya, pepatah “Nek ngomong ojo dhuwur-dhuwur, ngko lambemu kesampluk pesawat” mengajarkan kita untuk bijak dalam menggunakan kata. Tidak perlu muluk-muluk, tidak perlu menyombongkan diri.

Orang Jawa percaya, keindahan seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi ia berbicara, tapi dari seberapa tulus, sopan, dan rendah hati ia dalam bertutur. Itulah kearifan yang di wariskan secara turun-temurun: ucapan yang sederhana, rendah hati, tapi penuh makna, akan selalu lebih dihargai.

Baca Juga Artikel Berikut: Blangkon Jogja : Filosofi dan Makna yang Tersirat