Hikmah Besar di Balik Ketetapan Allah! Belajar Sabar & Syukur

Thumbnail bernuansa cokelat dengan tulisan “Hikmah Besar di Balik Ketetapan Allah – Belajar Sabar & Syukur” disertai hiasan daun minimalis di sisi kiri dan kanan.
Hikmah besar di balik setiap ketetapan Allah—belajar menghadapi hidup dengan sabar dan syukur.

Sabilulhuda, Yogyakarta – Dalam hidup, kita sering merasa bahagia ketika doa yang kita panjatkan seolah langsung terjawab. Kita mendengar banyak orang berkata, “Alhamdulillah, doa saya dikabulkan. Anak saya diterima di sekolah impian”, atau “Allah mengabulkan doa saya, akhirnya saya menjadi pegawai tetap”.

 Atau “Tahajud saya berhasil, mertua merestui pernikahan saya”. Kalimat-kalimat yang seperti ini terasa wajar dan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Namun sangat jarang kita mendengar seseorang berkata, “Alhamdulillah, mungkin kesulitan ini membawa kebaikan untuk keluarga saya”.  Atau “Alhamdulillah, saya punya banyak tantangan hari ini”. Padahal bisa jadi justru hikmah di balik ujian itu jauh lebih besar dibandingkan kesenangan yang kita terima.

Kita terbiasa dengan menilai bahwa sesuatu yang menyenangkan adalah yang terbaik bagi kita. Sementara Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, satu jam lagi, bahkan satu detik yang akan datang. Di sinilah ketetapan Allah bekerja dalam cara yang sering kali tidak kita pahami pada awalnya.

Ketika Kita Mengira yang Baik Menurut Kita Adalah yang Terbaik

Ada sebuah kisah sederhana. Seorang ayah datang berkonsultasi kepada seorang ustaz. Ia bertanya, apakah ia boleh memberikan sejumlah uang agar anaknya diterima sebagai pegawai negeri. Sang ustaz mengingatkan, “Apakah engkau ingin dilaknat Allah karena melakukan suap?”

Sang ayah pun menjadi gelisah. Ia khawatir jika tidak membayar, anaknya akan gagal diterima atau ditempatkan jauh dari rumah. Setelah mendengar nasihat ustaz dengan lebih tenang, akhirnya ia memilih mengikuti saran tersebut. Yaitu ia tidak akan membayar suap dan tetap bersabar menerima apa pun hasilnya.

Baca Juga:

Beberapa waktu kemudian, anaknya memang tidak diterima bekerja sebagai pegawai negeri. Namun beberapa bulan setelah itu, datang kabar mengejutkan, anaknya lolos mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Amerika. Sebuah kesempatan yang jauh lebih besar dari sekedar menjadi pegawai negeri.

Bayangkan, jika dulu sang ayah tetap membayar suap itu. Ia kehilangan uang, mendapat dosa, dan pada akhirnya sang anak tetap akan meninggalkan pekerjaannya karena ingin melanjutkan studi. Ia mendapatkan yang ia inginkan, tapi kehilangan yang lebih besar.

Di sini kita belajar bahwa apa yang kita inginkan terkadang bukan yang terbaik untuk kita. Sering kali kita berdoa dengan penuh semangat, tetapi tanpa sadar doa itu terasa seperti sedang mendikte Allah agar menjalankan takdir sesuai keinginan kita. Padahal Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Belajar dari Ayat Al-Qur’an tentang Hal yang Kita Tidak Ketahui

Allah mengingatkan:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini sering kita dengar, tetapi jarang benar-benar kita resapi. Ketika kita meyakini ayat ini sepenuh hati, kita akan melihat setiap kejadian dengan lebih tenang, penuh tawakal, dan tidak lagi mudah kecewa.

Begitu pula ketika Nabi Nuh AS meminta agar anaknya diselamatkan dari banjir besar. Allah menegur beliau:

 فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ 

“Janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui hakikatnya.” (QS. Hud: 46)

Ayat ini mengajarkan kita bahwa tidak semua yang terlihat “baik” di mata manusia benar-benar baik di sisi Allah.

Baca Juga:

Kunci Menjalani Hidup Dengan Sabar dan Syukur

Dunia ini sejatinya cukup kita menghadapinya dengan dua sikap yaitu sabar dan syukur. Inilah makna sabar dan syukur yang sesungguhnya:

Ketika mendapatkan kemudahan, kita bersyukur.

  • Makan, minum, bekerja, belajar, semua bisa menjadi bentuk syukur kita kepada Allah.

Ketika mendapatkan kesulitan, kita bersabar.

  • Bersabar atas kegagalan, penolakan, rezeki yang belum datang, atau sikap orang yang tidak sejalan dengan kita.

Kita boleh berdoa. Bahkan harus. Tetapi jangan sampai doa kita berbentuk “arah perintah” kepada Allah. Misalnya,

“Ya Allah, jadikan si A jodoh saya”, atau “Ya Allah, berikan saya pekerjaan di tempat itu”, atau “Ya Allah, lunaskan hutang saya saat ini juga”.

Doa yang baik adalah doa yang membuat hati kita menjadi tenang dan pasrah. Doa yang memohon perlindungan, rahmat, rezeki yang baik, jalan hidup yang diridhoi-Nya. Karena ketika kita memohon kebaikan yang Allah pilihkan, bukan kebaikan yang kita paksakan, maka kita akan lebih siap menerima apa pun hasilnya.

Tenanglah, Ketetapan Allah Selalu yang Terbaik

Ketetapan Allah akan tetap berjalan, baik kita bersyukur maupun tidak, baik kita bersabar atau tidak. Tetapi ketika kita menjalani hidup dengan sabar dan syukur, maka hati kita menjadi lebih lapang, pikiran lebih jernih, dan hidup terasa lebih ringan.

Allah selalu memberi yang terbaik kepada hamba-Nya, hanya saja sering kali kita belum melihatnya sekarang. Sebab kebaikan itu kadang hadir dalam bentuk kesulitan terlebih dahulu.

Semoga kita termasuk hamba yang mampu melihat hikmah di balik ujian, bukan hanya mencari doa yang dikabulkan sesuai keinginan kita.

Ya Allah, ampunilah kami. Berikan kami hati yang sabar, jiwa yang bersyukur, dan kemampuan untuk menerima setiap ketetapan-Mu dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga: 20 Akhlak Pribadi seorang Guru Menurut KH Hasyim Asy’ari