Stop Proyek IKN! Fokus Pada Pembangunan Yang Lebih Bermanfaat – Rencana pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur lewat proyek IKN (Ibu Kota Nusantara). Sejak awal memang menuai pro dan kontra.
Kini, setelah Presiden Joko Widodo lengser pada Oktober 2024, proyek ambisius ini mulai terlihat kehilangan arah. Bangunan-bangunan yang sudah berdiri seperti kota hantu, hanya dihuni segelintir aparatur sipil negara yang belum jelas tugasnya.
Padahal, hingga akhir 2024, anggaran negara yang sudah di gelontorkan untuk pembangunan IKN mencapai Rp89 triliun. Angka yang fantastis ini sebenarnya bisa di gunakan untuk hal-hal yang jauh lebih mendesak.

Seperti membangun 89.000 kilometer jalan desa, 300 rumah sakit, atau 17.000 sekolah dasar. Sayangnya, dana tersebut malah terkuras pada sebuah proyek yang manfaat langsungnya masih dipertanyakan.
Beban Besar Di Tengah Ekonomi Lesu
Pemerintah Prabowo Subianto kini mewarisi proyek ini. Tahun 2025, setidaknya Rp13,8 triliun kembali di anggarkan untuk infrastruktur dan gaji pegawai Otorita IKN. Pertanyaannya: apakah dana sebesar itu layak terus dikucurkan?
Di tengah kondisi ekonomi yang lesu, penerimaan pajak yang menurun, serta beban utang negara yang semakin besar, setiap rupiah anggaran seharusnya dialokasikan secara hati-hati. Menggelontorkan uang untuk proyek yang tidak jelas arah dan manfaatnya hanya akan menambah kerugian.
Sebaliknya, bila dana IKN di alihkan ke proyek padat karya seperti pembangunan jalan, jembatan, irigasi, hingga perbaikan fasilitas umum, efeknya akan lebih terasa. Masyarakat kecil bisa mendapat lapangan pekerjaan, daya beli kembali meningkat, dan ekonomi bergerak.
Baca Juga:

Adigang Adigung Utang Sekarung: Krisis Fiskal & Ancaman Ekonomi Indonesia 2025 https://sabilulhuda.org/adigang-adigung-utang-sekarung-krisis-fiskal-ancaman-ekonomi-indonesia-2025/
Cut Loss Adalah Pilihan Yang Bijak
Dalam dunia bisnis di kenal istilah cut loss, yaitu menghentikan investasi agar tidak merugi lebih besar. Prinsip ini semestinya juga bisa di terapkan pada proyek IKN. Bangunan yang sudah ada cukup di rawat dengan anggaran minimal, sementara proyek pembangunan besar-besaran sebaiknya di hentikan.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo yang sudah mulai memangkas pengeluaran pemerintah di banyak kementerian. Jika terus di lanjutkan, bukan hanya ekonomi yang terdampak, tetapi juga lingkungan, sosial, dan masa depan generasi mendatang.
Belajar Dari Jokowi
Kegigihan Jokowi membangun IKN jelas lahir dari ambisi politik dan warisan pribadi. Namun kenyataannya, klaim investor asing yang akan menanamkan modal tidak terbukti.
Justru, banyak pengusaha lokal yang di paksa membangun gedung dan fasilitas yang secara bisnis tidak menguntungkan. Kini, proyek tersebut berubah menjadi beban bagi negara.
Prabowo tidak perlu mengulang kesalahan yang sama. Cukup sudah ia membalas budi Jokowi dengan menerima Gibran sebagai wakil presiden. Selebihnya, fokus utama seharusnya pada kepentingan rakyat banyak.
Saatnya Fokus Pada Kemaslahatan Publik
Pembangunan bukanlah sekedar membangun gedung megah, tetapi juga menciptakan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Proyek-proyek sederhana, berbiaya lebih rendah, dan berdampak langsung justru lebih di butuhkan saat ini.
Jika Prabowo berani mengambil keputusan tegas untuk menghentikan IKN, ia tidak hanya menyelamatkan anggaran negara. Tetapi juga mencatatkan sejarah sebagai pemimpin yang mengutamakan kepentingan rakyat di atas ambisi pribadi.
Dengan menghentikan proyek IKN dan mengalihkan dana untuk pembangunan yang lebih bermanfaat, Prabowo bisa memperbaiki ekonomi sekaligus mengembalikan kepercayaan publik.













