Qorin (Cerbung Misteri Bab 25)

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Bayangan Yang Membongkar Rahasia

Malam itu hujan deras mengguyur kampung. Petir menyambar, cahaya kilat sesekali memperlihatkan wajah-wajah cemas warga yang bersembunyi di balik pintu rumah. Suasana mencekam sudah menjadi hal biasa sejak sosok Dewi dan Anisa sering menampakkan diri. Selepas maghrib, orang tidak ada yang berani keluar rumah.

Hal itu menyebabkan Bayu dan Nenek Lastri jadi gelisah. Bagaimanapun sosok yang muncul adalah Ibu dan adik Bayu. Sekaligus sebagai anak dan cucu Nenek Lastri. Mereka berdua tampak tegang dan menahan malu dan semua perasaan dalam hatinya.

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri Bab 25)

“Apakah benar anak dan cucuku menjadi hantu!” seru Lastri.

“Tidak Nek, Bayu yakin mereka orang baik tidak mungkin jadi hantu gentayangan. Pasti ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan!” seru Bayu optimis.

Kampung tersebut dilanda ketegangan. Suasana mencekam terjadi setiap malam. Namun kali ini, ketegangan memuncak. Ada faktor lain yang membuat suasana kampung semakin horor.

Di ladang tepi hutan, dua orang anak buah Hanggara, Sukri dan Manan, berjalan dengan langkah gelisah. Mereka baru pulang dari markas Hanggara setelah diperintahkan mengawasi rumah keluarga Bayu.

“Kenapa harus kita lagi, Sukri?” keluh Manan. “Aku sudah nggak kuat tiap malam melihat bayangan itu. Kemarin aku hampir gila, lihat Anisa berdiri di pojok rumahku.”

Sukri menarik napas dalam. “Diamlah. Kalau kita menolak, Pak Hanggara bisa bunuh kita. Kau masih ingat Joni? Dia sudah nggak pulang-pulang sejak berani bicara.”

Sosok Joni dihabisi Hanggara, tapi sosok Dewi lah yang dijadikan kambing hitam. Hanggara mengatakan jika arwah Dewi dan Anisa penasaran. Mereka ingin menghabisi seluruh kampung jika Bayu dan Alisa tidak mau berpisah.

Mereka terus berjalan, tapi tiba-tiba langkah mereka terhenti. Di bawah cahaya kilat, tampak sosok anak kecil berdiri di tengah jalan berlumpur. Rambutnya basah, baju putihnya kotor berlumpur, dan matanya kosong menatap mereka.

“Itu… itu Anisa!” Manan menjerit, wajahnya pucat pasi.

Sukri gemetar, mencoba mundur, namun dari arah lain, sosok Dewi muncul. Rambut panjangnya menutup wajah, tubuhnya menggantung seolah-olah masih diikat tali. Suara seraknya menggema:

“Hanggara… Hanggara… siapa yang akan kau bunuh lagi malam ini?” Suara Dewi berat dan terdengar mengerikan. Membuat yang melihat dan mendengar suaranya jadi ketakutan.

Sukri dan Manan sampai tidak bisa mengangkat kaki. Bahkan keduanya sampai ngompol karena saking takutnya.

Sukri dan Manan berteriak ketakutan, lalu berusaha berlari sekuat tenaga menuju kampung. Meskipun kaki berat untuk melangkah. Seakan kaki mereka terhunjam kedalam bumi.

Hingga akhirnya mereka mampu mengangkat dan berlari sekencang mungkin. Namun suara tangis Anisa terus membuntuti telinga mereka, seolah berlari di belakang.

Dugaan Muncul

Keesokan paginya, kabar tentang Sukri dan Manan yang pingsan di jalan menyebar ke seluruh kampung. Mereka ditemukan warga dengan tubuh menggigil, bibir membiru, dan terus mengigau menyebut nama Dewi serta Anisa.

Di balai desa, warga mulai berbisik-bisik.

“Kenapa Dewi cuma muncul pada anak buah Hanggara?” tanya seorang ibu.

“Jangan-jangan mereka ada hubungannya dengan kematian Dewi dulu…” sahut yang lain.

Hanggara yang mendengar kabar itu semakin resah. Ia tahu sosok Dewi benar-benar mengincarnya, bukan orang lain. Namun, di depan warga, ia menutupi ketakutannya dengan amarah.

Baca Juga:

“Ini semua gara-gara Bayu dan Alisa! Mereka pembawa sial. Arwah Dewi muncul karena mereka melanggar sesuatu. Kalau mereka dipisahkan, selesai sudah masalah ini!” teriak Hanggara di depan kerumunan.

Beberapa warga mengangguk setuju, namun sebagian lagi mulai ragu. Mereka merasa ada sesuatu yang lebih gelap di balik semua teror ini.

Investigasi Hanan Dan Arsyita

Di rumah Nenek Lastri, Hanan dan Arsyita duduk berdiskusi serius. Bayu dan Alisa mendengarkan dengan wajah tegang.

“Aku perhatikan,” kata Hanan, “Sosok Bu Dewi lebih sering muncul di sekitar Hanggara dan anak buahnya. Ini bukan kebetulan. Dia pasti ingin memberi tanda,” kata Hanan.

Arsyita menimpali, “Aku juga dengar dari beberapa warga tua. Dulu, sebelum Dewi ditemukan gantung diri, dia sempat bertengkar dengan seseorang. Tapi orang-orang bungkam. Seakan ada yang mengancam mereka,” sahut Dewi.

Lastri yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. “Aku juga mendengar. Waktu Arya dan Anisa, ayah dan adikmu Bayu, meninggal dalam kecelakaan… Dewi sempat curiga itu bukan kecelakaan biasa. Ada yang merekayasa. Tapi Dewi terlalu takut untuk bicara!” seru Nenek Lastri.

Kejadian satu keluarga kecelakaan waktu itu hanya Dewi yang selamat. Arya suami Dewi dan Anisa anaknya tewas dalam kecelakaan. Sementara Dewi luka parah tapi masih bisa diselamatkan.

Semua terdiam, Bayu mengepalkan tangan. “Kalau begitu, ada kemungkinan kematian ayahku dan Anisa adikku adalah sabotase bukan kecelakaan. Seseorang yang berkuasa di kampung ini pasti terlibat.”

Hanan menatap serius. “Dan orang itu besar kemungkinan adalah Hanggara!”

Hanggara Balik Menyerang

Namun, sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, Hanggara sudah lebih dulu menyusun rencana. Ia tahu orang-orang mulai curiga, sehingga ia harus mencari kambing hitam baru.

Dalam rapat desa darurat, Hanggara berdiri dengan lantang.

“Saudara-saudara! Jangan mau diprovokasi. Ada orang-orang yang ingin memfitnah saya. Mereka sengaja menyebar cerita bahwa saya terlibat dalam kematian keluarga Dewi. Padahal semua itu fitnah belaka!” seru Hanggara.

Warga mulai ribut. Seseorang bertanya, “Lalu siapa yang kau maksud, Hanggara?”

Hanggara menunjuk ke arah Hanan dan Arsyita yang hadir dalam rapat.

“Merekalah dalangnya! Hanan dan Arsyita. Mereka pura-pura membantu, padahal sebenarnya ingin menghancurkan saya dan kelompok saya. Mereka menebar fitnah, menuduh saya tanpa bukti.

Waspadalah, jangan sampai kita terpecah belah oleh mereka yang bukan warga sini!” gertak Hanggara, memanfaatkan fanatisme daerah.

Kerumunan gaduh. Ada yang percaya, ada yang menolak. Arsyita berdiri dengan wajah merah padam.

“Jangan sembarangan menuduh, Pak Hanggara! Kami hanya mencari kebenaran. Bukankah arwah Bu Dewi dan Anisa jelas-jelas mengincar Anda dan anak buah Anda!” protes Arsyita.

Namun, Hanggara tersenyum sinis. “Arwah tidak bisa bicara. Itu hanya ilusi yang kalian manfaatkan untuk menjatuhkan saya. Kalianlah yang mengatur semua ini dengan trik, supaya warga membenci saya.”

Situasi semakin panas. Hanan mencoba menenangkan, namun warga terbelah dua—sebagian membela Hanggara, sebagian mendukung Hanan.

Teror Kian Menjadi

Malam itu, serangan gaib kembali datang. Rumah Lastri diguncang angin kencang. Bayu melihat bayangan hitam mencoba masuk dari jendela. Alisa menjerit saat mendengar suara langkah kaki kecil berlari di dalam kamar meski tak ada siapa pun di sana. Sejak peristiwa teror, keluarga Alisa ikut tinggal bersama Bayu. Namun, dengan kedua orang tuanya.

Selain merencanakan pernikahan mereka juga mencoba mencari ada apa dibalik teror mistis yang terjadi. Bahkan Arsyita sahabat Alisa juga aktif membantu bersama Hanan.

Hanan yang sebenarnya menaruh hati pada Alisa tapi merasa kalah bersaing dengan Bayu. Sementara Arsyita juga menaruh hati pada Bayu, tapi merelakan Bayu bersama Alisa karena keduanya seperti tak dapat dipisahkan. Bahkan dengan teror mistis yang terjadi mereka tidak gentar.

“Aku merasa aneh, meskipun masih mencintai Bayu tapi tidak rela jika mereka berpisah dengan cara tak wajar!” kata Arsyita dalam hati.

Arsyita berharap jika Bayu menerima dirinya bukan sebagai pelampiasan putus dengan Alisa. Bahkan, dalam hati Arsyita ingin menunjukkan ketulusan cintanya pada Bayu. Begitu juga dengan Hanan, dia juga sama seperti yang dirasakan Arsyita.

Kegaduhan terjadi di rumah Bayu. Rumah itu seperti dihujani batu kerikil dan terdengar suara-suara yang tidak jelas sumbernya.

Lastri segera mengambil kendi berisi air yang sudah ia doakan dan didalamnya ada daun kelor. Ia memercikkan air itu ke setiap sudut rumah sambil melantunkan doa Jawa kuno. Sambil berjalan Nenek Lastri melantunkan sebuah tembang jawa.

“Rumeksa ingsun laku nisto ngoyo woro” yang berarti “Ku Jaga diriku dari berbuat nista ngelantur (sekehendak hati)”,

“Hameteg ingsun nyirep geni wiso murko” yang berarti “Kuatkan tekadku untuk memadamkan api, bisa (racun), murka”

Syair yang cukup panjang, bagi sebagian orang itu dijadikan semacam doa.  Karena keterbatasan pengetahuan tentang doa berbahasa arab dan lebih mantap dengan doa dalam bahasa daerah yang dimengerti maknanya.

Suara jeritan terdengar, bayangan hitam berhamburan keluar. Namun di sela-sela kekacauan itu, sosok Dewi muncul sebentar di ambang pintu. Matanya penuh air mata, tangannya menggenggam tangan Anisa.

“Cari kebenarannya… sebelum semuanya terlambat…”

Lalu mereka menghilang, meninggalkan udara dingin yang menusuk tulang.

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA

Benih Kecurigaan

Keesokan harinya, dua anak buah Hanggara ditemukan tewas di gubuk tua dekat hutan. Tubuh mereka kaku, wajah mereka penuh ketakutan, seakan melihat sesuatu yang mengerikan sebelum mati. Warga kembali geger.

“Ini ulah Dewi lagi!” seru beberapa orang.

Namun yang lain mulai berbisik: “Kenapa cuma anak buah Hanggara yang jadi korban? Jangan-jangan memang ada hubungan…”

Desas-desus itu makin meluas. Nama Hanggara kian sering disebut-sebut dalam percakapan diam-diam.

Hanan dan Arsyita mendengar semua kabar itu. Meski belum ada bukti nyata, mereka yakin jalan menuju kebenaran semakin terbuka.

Di beranda rumah Lastri, malam itu Hanan berkata dengan suara mantap.

“Kebenaran sudah di depan mata. Tinggal bagaimana kita menemukan bukti yang tak terbantahkan. Hanggara bisa menuduh kita sesuka hati, tapi arwah Dewi tidak mungkin salah menunjukkan.”

Arsyita menatap Bayu dan Alisa. “Kalian harus kuat. Semua ini akan berakhir… begitu kita tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga kalian.”

Bayu dan Alisa haru, mereka tahu perasaan Arsyita dan Hanan. Arsyita mencintai Bayu dan Hanan mencintai Alisa. Namun, mereka rela berkorban demi Bayu dan Hanan. Entah apa yang ada di dalam pikiran Hanan dan Arsyita.

Sekilas Bayu dan Alisa  berharap justru Hanan dan Arsyita berjodoh,keduanya orang baik menurut Bayu dan Alisa.

Di kejauhan, Hanggara berdiri dalam kegelapan, menatap rumah itu dengan sorot mata penuh dendam. Ia tahu waktunya semakin sempit. Dan jika kebenaran terungkap, habislah dia.

Bersambung ke Bab 26…