Qorin (Cerbung Misteri Bab 24)

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri)

Jerat Hanggara

Malam itu angin bertiup kencang. Langit mendung menggantung di atas kampung. Lampu-lampu jalan padam, menyisakan kegelapan pekat yang menyelimuti rumah-rumah kayu tua. Di sebuah gubuk terpencil di ujung desa, Hanggara duduk dengan wajah tegang.

Di hadapannya, seorang lelaki berperawakan kurus, berkulit legam dengan sorot mata tajam, duduk bersila. Dialah dukun Parmin, orang yang selama ini jadi pelindung rahasia Hanggara.

“Dewi semakin sering muncul,” suara Hanggara serak, “anak buahku ketakutan. Mereka mulai berani bicara. Kalau ada yang bocor, habis aku. Semua orang akan tahu siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kematian Arya, Anisa dan Dewi.”

Dukun Parmin menyipitkan mata. “Tenang. Arwah hanya kuat kalau ada yang percaya padanya. Kalau kau bisa mengalihkan kesalahan, membuat orang yakin Dewi sumber petaka, arwah itu akan kehilangan kekuatannya.” Dukun Parmin meyakinkan Hanggara.

Qorin (Cerbung Misteri)
Qorin (Cerbung Misteri Bab 24)

Hanggara mengangguk pelan. Itulah yang ia lakukan selama ini. Ia mengatur isu, menebar fitnah, bahkan menekan orang-orang supaya percaya bahwa Bayu dan Alisa adalah pembawa sial. Mereka dianggap pusat dari semua teror, meski tak seorang pun tahu alasan pastinya.

“Kalau ada anak buahmu yang goyah, habisi saja,” ujar Parmin dingin. “Dan biarkan semua orang menuduh arwah Dewi. Bukankah lebih mudah begitu?”

Hanggara meneguk ludah. “Aku sudah lakukan itu. Satu-dua orang yang mulai cerewet, aku singkirkan. Mereka bilang itu ulah hantu Dewi, dan aku biarkan cerita itu menyebar. Tapi Bayu dan Alisa… mereka keras kepala.

Meski semua orang menyuruh mereka menjauh, mereka malah makin dekat. Bahkan ada yang bilang mau menikah.” Hanggar berkata dengan menlen ludah yang terasa pahit.

Parmin terdiam sejenak, lalu tersenyum miring. “Kalau begitu, biar makhluk-makhlukku yang urus. Mereka tidak akan bisa tidur tenang lagi.”

Bayu dan Alisa di Tengah Tekanan

Sementara itu, di rumah keluarga Alisa, suasana mencekam. Bisikan-bisikan gaib sering terdengar di malam hari. Maisaroh tak bisa tidur, Burhan gelisah, sementara Alisa tampak semakin pucat. Namun meski begitu, ia tetap bersama Bayu.

“Aku tidak peduli apa kata orang,” ucap Bayu suatu malam, ketika ia datang diam-diam menjenguk Alisa. “Kita tetap harus bersama. Kalau mereka bilang ini kutukan, biarlah. Aku tahu perasaanku padamu nyata.” Ucaapan Bayu pada Alisa yang selalu terngiang.

Alisa menunduk, air mata menetes. “Bayu… semua orang menolak. Mereka bahkan menyebut kita sumber bencana. Aku takut…”

“Kalau kau takut, aku akan jadi pelindungmu. Kita nggak sendiri. Ada Hanan, ada Arsyita. Mereka dukung kita. Kau harus percaya,” kata Bayu.

Alisa menggenggam tangan Bayu erat. Di balik rasa takutnya, ia merasa lebih kuat saat Bayu ada di sisinya. Namun ia tak tahu, di luar sana Hanggara tengah menyiapkan teror yang lebih besar.

Pertemuan Rahasia Hanggara

Di sebuah gubuk tua yang sudah lama kosong, Hanggara mengumpulkan tiga orang anak buahnya. Wajah mereka pucat, mata gelisah.

“Pak, kami nggak kuat lagi. Sosok itu muncul tiap malam. Kadang kami lihat di cermin, kadang di jalan. Kami takut, Pak!” salah satu dari mereka berkata.

Hanggara mendengus kasar. “Bodoh! Itu cuma ilusi. Kau pikir arwah bisa lukai kita? Kalau kalian buka mulut, barulah kalian mati!” Ancam Hanggara.

Ketiga anak buahnya saling pandang. Ketakutan mereka semakin besar. Satu orang berani bersuara, “Pak… kalau begini terus, mending kita cerita saja. Biar orang-orang tahu…”

Baca Juga:

Belum sempat ia menyelesaikan kalimat, Hanggara menatap tajam, lalu mengeluarkan sebilah pisau. Dengan cepat, ia menikam leher anak buah yang dianggap pengkhianat itu. Darah muncrat, kedua lainnya menjerit ketakutan.

“Lihat baik-baik!” bentak Hanggara. “Siapa pun yang bicara, akan bernasib sama. Kalau orang-orang tanya, bilang saja Dewi yang menjemputnya!”

Kedua anak buah itu gemetar, mengangguk tanpa berani menatap mata Hanggara.

Teror Gaib di Rumah Bayu dan Alisa

Beberapa hari kemudian, gangguan aneh makin menjadi. Di rumah Alisa, piring-piring pecah sendiri. Di rumah Bayu, pintu terbuka dan tertutup tanpa sebab. Malam itu, Bayu mendengar suara langkah kaki di halaman. Saat ia keluar, dilihatnya bayangan hitam melintas cepat.

Alisa juga tak luput. Ia bermimpi didatangi sosok Anisa kecil yang menangis sambil berkata:

“Jangan bersama kakakku… nanti kalian mati.”

Maisaroh makin panik, Burhan gelisah. Warga kampung pun semakin yakin bahwa hubungan Bayu dan Alisa membawa celaka merupakan hubugan terkutuk. Desakan agar mereka berpisah makin keras.

Namun, Hanan berdiri teguh di pihak Bayu dan Alisa.

“Kalau mereka berpisah karena tekanan, itu artinya kita menyerahkan kemenangan pada makhluk gaib. Jangan mau tunduk. Justru kita harus melawan dengan doa dan keyakinan,” ujar Hanan tegas.

Arsyita yang mendengar pun mengangguk, meski hatinya terluka karena masih menyimpan cinta pada Bayu. “Aku akan mendukung kalian. Persahabatan lebih penting daripada perasaan yang kusimpan.” Arsyita berkata pelan dalam hati. Dia kini sudah bisa berdamai dengankeadaan. Teror puntidak lagi dia rasakan.

Hanggara Makin Nekat

Kabar bahwa Bayu dan Alisa tetap bersama membuat Hanggara murka. Ia meremas gelas hingga pecah di tangannya.

“Kalau begitu… aku akan buat mereka menyesal!” desisnya.

Ia menemui dukun Parmin lagi. “Kirim semua makhlukmu. Jangan biarkan mereka bisa tidur. Biar orang-orang semakin yakin mereka sumber bencana. Aku ingin mereka hancur!”

Parmin mengangguk. “Tapi ingat, semakin besar serangan, semakin besar pula bayaran.”

Hanggara mengangguk cepat. “Uang bukan masalah. Yang penting rahasiaku tidak pernah terbongkar.”

Pertarungan Doa

Malam itu, makhluk-makhluk astral dikirim ke rumah Bayu dan Alisa. Angin bertiup kencang, jendela terbuka dengan sendirinya, suara tangis perempuan menggema. Burhan jatuh sakit mendadak, tubuhnya panas dingin. Maisaroh menjerit melihat sosok bayangan berdiri di ujung ranjang Alisa.

Namun, di saat yang genting itu, Nenek Lastri—nenek Bayu—datang. Meski sudah tua, ia masih menyimpan kekuatan batin warisan leluhur. Dengan suara bergetar namun penuh wibawa, ia duduk bersila di tengah rumah.

Tangannya terangkat, bibirnya berkomat-kamit melantunkan doa dalam bahasa Jawa kuno. Suaranya berat, menggetarkan dinding rumah.

“Ya Gusti, lindungana putu-putuku. Sing ala bali maring panggonane, sing becik mulyo langgeng…”

Suasana rumah bergemuruh. Makhluk-makhluk hitam yang bergelayut di dinding tampak berteriak, lalu terbakar oleh cahaya putih yang muncul dari lantunan doa Lastri. Suara tangisan berubah jadi jeritan kesakitan, lalu satu per satu bayangan itu lenyap.

Alisa yang semula pucat perlahan bisa bernapas lega. Bayu memeluk neneknya erat. “Matur nuwun, Nek…”

Lastri mengusap kepala cucunya. “Kalian harus kuat. Ini baru permulaan. Musuh kita bukan hanya arwah, tapi manusia yang masih hidup,” kata Nenek Lastri kepada Bayu.

Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA

Hanggara Mulai Terbongkar

Keesokan harinya, kabar keberhasilan Lastri melawan teror gaib menyebar. Sebagian warga mulai ragu. Jika benar Bayu dan Alisa sumber bencana, kenapa justru mereka bisa diselamatkan oleh doa?

Kecurigaan pun mulai mengarah ke arah lain. Beberapa orang mengingat masa lalu, ketika Dewi ditemukan gantung diri di rumahnya. Ada bisik-bisik bahwa kematiannya tidak wajar.

Hanan yang mendengar kabar itu mulai menyusun kepingan misteri. Ia tahu ada seseorang yang sengaja mengatur semua ini.

Sementara itu, Hanggara semakin tertekan. Wajahnya pucat, tidur pun tak nyenyak. Dalam tidurnya, sosok Dewi muncul lagi. Kali ini tatapannya tajam, penuh amarah.

“Kau bisa bunuh anak buahmu, tapi tidak bisa bunuh kebenaran, Hanggara. Aku akan bongkar semua rahasiamu…”

Hanggara terbangun dengan keringat dingin. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar takut.

Malam kian larut. Bayu, Alisa, Hanan, dan Arsyita duduk bersama di rumah Lastri. Mereka bersepakat untuk tidak menyerah, meski ancaman datang dari segala arah.

“Kalau kita mundur, maka selama-lamanya arwah Dewi tidak akan tenang. Kita harus cari tahu siapa dalang sebenarnya,” kata Hanan tegas.

Bayu menggenggam tangan Alisa. “Aku janji, kita akan hadapi semua ini bersama.”

Di kejauhan, Hanggara berdiri di balik pohon besar, memperhatikan rumah Lastri dari jauh. Sorot matanya penuh kebencian.

“Selama aku hidup, kebenaran tidak akan pernah terungkap,” gumamnya. Namun jauh di lubuk hatinya, ia mulai sadar… bayangan Dewi semakin lama semakin sulit dikendalikan.

Bersambung ke Bab 25…