Sabilulhuda, Yogyakarta – Dalam kehidupan sehari-hari, hampir setiap orang tua pernah mengucapkan kalimat yang sama kepada anaknya: “Belajarlah yang rajin supaya nanti kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus.” Kalimat ini terdengar sederhana, bahkan terasa seperti wejangan umum yang baik dan penuh dengan harapan.
Banyak sekali anak yang tumbuh mendengarkan motivasi seperti itu, lalu mereka menjalani pendidikan dengan tekun, hingga pada akhirnya mereka meraih pekerjaan yang layak, penghasilan yang cukup, dan kehidupan keluarga yang juga stabil.
Secara sekilas, motivasi belajar untuk anak seperti itu memang tidaklah salah. Karena orang tua ingin melihat anaknya itu sukses, mandiri, dan hidup dengan rasa nyaman. Tetapi tanpa kita sadari, pola nasehat tersebut sering kali dapat menanamkan persepsi yang kurang tepat tentang tujuan utama dari belajar itu sendiri.
Anak pada akhirnya akan tumbuh dengan keyakinan bahwa belajar adalah jalan agar bisa mendapatkan penghasilan, dan bahwa harta adalah penentu kebahagiaan.
Padahal, dalam ajaran Islam, Allah SWT dan Rasulullah SAW tidak pernah menempatkan kekayaan sebagai ukuran keberhasilan hidup. Yang beliau tinggikan justru adalah ilmu, dan ketakwaan yang lahir dari ilmu itu. Di sinilah pentingnya bagi kita untuk memahami kembali makna belajar yang sesungguhnya.
Belajar dalam Islam: Lebih dari Sekedar Bekal Dunia
Al-Qur’an menegaskan bahwa orang-orang beriman dan berilmu maka mereka akan diberi derajat yang tinggi oleh Allah SWT:
وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ
“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Baca Juga:
Ayat ini sudah cukup menjelaskan bahwa pentingnya menuntut ilmu dalam Islam bukanlah untuk mengejar dunia, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ilmu bukanlah sekedar alat untuk mencari pekerjaan, melainkan sebagai cahaya yang dapat membimbing seseorang agar mereka bisa membedakan antara kebenaran dari kesalahan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari pengetahuan, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Hadis ini semakin menegaskan bahwa tujuan belajar adalah ibadah. Maka ketika seorang anak itu belajar, seharusnya ia diarahkan untuk belajar karena Allah, bukan demi sekedar meraih materi.
Ilmu Sebagai Cahaya Kehidupan
Anak-anak tumbuh dan belajar dari banyak hal entah itu di sekolah, keluarga, lingkungan, dan pengalaman yang mereka alami sehari-hari. Semua itu dapat membentuk karakter dan cara mereka dalam memaknai hidup ini.
Jika mereka itu kita besarkan dalam lingkungan yang kurang baik, maka pemahaman hidupnya pun bisa salah arah. Tetapi ketika seorang anak itu kita besarkan dalam keluarga yang memuliakan ilmu, insya Allah ia akan tumbuh dengan akhlak yang lebih baik.
Inilah yang dimaksud dengan ilmu sebagai cahaya kehidupan. Ilmu dapat membuat seseorang melihat dengan jelas mana jalan kebenaran, mana yang buruk, dan mana yang dapat membahayakan dirinya di dunia maupun akhirat.
Ada sebuah kisah menarik dalam hadis:
Syaitan enggan memasuki sebuah masjid karena di dekat pintu masjid tidur seorang lelaki yang berilmu dan ikhlas. Padahal di dalam masjid ada sekelompok orang yang sedang shalat berjamaah. Mengapa syaitan takut?
Karena seseorang yang berilmu dengan keikhlasan jauh lebih berbahaya bagi syaitan bila dibandingkan orang yang hanya sekedar beribadah tanpa pemahaman yang mendalam.
Ulama pun disebut sebagai pewaris para nabi. Mereka mewarisi ilmu, bukan harta. Dan siapa yang mendapatkan warisan itu akan mendapatkan keberuntungan yang besar.
Baca Juga:
Mengubah Cara Kita Memotivasi Anak
Sebagai orang tua atau calon orang tua, kita tentu tidak ingin menanamkan nilai yang keliru kepada anak. Kita tentu tidak ingin anak itu tumbuh dengan anggapan bahwa harta adalah segalanya. Karena itu, cara kita memberi motivasi pun perlu kita perbaiki.
Daripada kita hanya mengatakan, “Belajarlah supaya kamu dapat pekerjaan yang bagus,” lebih baik kita mengatakan:
- “Belajarlah supaya kamu menjadi orang yang berilmu.”
- “Belajarlah karena Allah, agar hidupmu di berkahi.”
- “Dengan ilmu kamu akan tahu jalan mana yang terbaik.”
Dengan cara ini, anak tidak hanya tumbuh sebagai pribadi yang cerdas, tapi juga berakhlak, rendah hati, dan memiliki tujuan hidup yang lebih benar.
Ketika Belajar Menjadi Ibadah
Jika kita mengajarkan kepada anak bahwa belajar adalah ibadah, maka cita-cita mereka pun akan lebih terarah. Mereka tidak akan terjebak dalam mengejar dunia semata. Dalam proses belajar, mereka akan lebih mudah memahami bahwa harta hanyalah resiko atau bonus, tetapi bukan sebagai tujuan utama.
Inilah makna belajar karena Allah, yaitu sebuah frasa yang perlu terus kita tanamkan. Dengan ilmu, seseorang akan lebih mudah meraih ridha Allah. Tanpa ilmu, seseorang bisa tersesat, membantah kebenaran, bahkan mengikuti bisikan syaitan.
Allah SWT mengingatkan:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطٰنٍ مَّرِيْدٍۙ
“Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan…” (QS. Al-Hajj: 3)
Karena itu, mengajarkan anak untuk menjadikan ilmu sebagai prioritas adalah bentuk kasih sayang terbesar kita kepada mereka.
Pada Akhirnya
Harta, jabatan, dan dunia hanyalah titipan. Semuanya bisa hilang dalam sekejap. Namun ilmu terutama ilmu agama akan menyelamatkan seseorang di dunia dan akhirat. Maka tugas kita adalah membimbing anak agar mereka mencintai ilmu, memahami tujuan hidup, dan menjadikan ridha Allah sebagai cita-cita tertinggi.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, luruskan niat kami, dan jadikan kami orang-orang yang selalu mendahulukan ilmu sebelum segala urusan…
Baca Juga: PRINSIP DALAM MENDIDIK ANAK















