Cinta Tanpa Restu Part 12

Cinta Tanpa Restu
Diangkat dari Kisah Nyata Oleh: Ki Pekathik

Diangkat dari kisah nyata

Menyeru Dengan Pena

Sore itu, langit mulai merona oranye, awan tipis melayang perlahan di ufuk barat. Di halaman pesantren Aditya, suara anak-anak santri bercampur antara tawa, bacaan iqra dan dentingan sendok dari dapur asrama.

Abu Alfin, seorang pria berusia lima puluhan dengan rambut yang mulai memutih di pelipisnya, melangkah masuk melalui gerbang sederhana pesantren itu.

Kunjungan ini sebenarnya tak di rencanakan. Abu Alfin sedang berada di tempat itu untuk urusan keluarga, dan kebetulan seorang saudara menyebutkan bahwa pesantren Aditya sedang berkembang pesat dalam kegiatan sosialnya. Tanpa tujuan khusus, ia memutuskan mampir.

Begitu memasuki area pesantren, pandangannya tertuju pada sekelompok anak yang duduk melingkar di bawah tanaman anggur. Mereka memegang buku-buku lusuh, beberapa menyalin sesuatu di buku tulis mereka, sementara yang lain sesekali menoleh ke arah Aditya, sang pengasuh pesantren, yang sedang mengajarkan mereka menulis cerita pendek.

Ada sesuatu di pemandangan itu yang membuat hati Abu Alfin bergetar.

Ia pernah merasakan duduk seperti mereka, di masa kecilnya di sebuah desa terpencil, menulis di kertas bekas bungkus semen yang sudah dibersihkan. Ia teringat pada almarhum ayahnya yang selalu mengatakan.

 “Nak, ilmu itu seperti mata air. Kalau kamu simpan sendiri ia akan basi, tapi kalau kamu alirkan, ia akan menyuburkan banyak tanah.”

Selama ini, Abu Alfin memang suka berbagi ilmu literasi secara online. Ia bukan penulis terkenal, bahkan bukunya pun belum banyak dikenal khalayak luas. Namun, di forum-forum penulis dan grup media sosial, ia rajin menulis catatan singkat—tentang teknik menulis, motivasi, dan pengalaman pribadinya.

Semua di lakukan bukan untuk mencari popularitas, melainkan untuk menumbuhkan semangat di kalangan penulis lain.

Cinta Tanpa Restu
Diangkat dari Kisah Nyata Oleh: Ki Pekathik

Pertemuan Yang Menggerakkan

Setelah memberi salam, ia di sambut hangat oleh Aditya.

“Wah, ini kejutan, Pak Abu,” ujar Aditya sambil menjabat tangan tamunya. “Saya sering baca tulisan Bapak di grup penulis itu. Kebetulan sekarang datang ke sini,” kata Aditya.

Abu Alfin tersenyum. “Saya juga tidak menyangka akan mampir. Kebetulan saja lewat. Tapi melihat anak-anak ini, rasanya hati saya tertarik untuk duduk bersama,” jawab Abu Alfin.

Aditya mengangguk. “Silakan. Anak-anak ini sedang belajar menulis. Banyak dari mereka yang baru pertama kali memegang buku tulis untuk menulis selain tugas sekolah,” sahut Aditya.

Mata Abu Alfin bergerak mengikuti gerak tangan para santri. Tulisan mereka masih kaku, tapi semangatnya terasa. Ada yang mencoba menulis cerita tentang ayam peliharaan, ada yang menulis tentang hujan di kampung, dan ada pula yang hanya menulis daftar cita-cita.

Tanpa sadar, ia tersenyum.

Selesai kegiatan sore itu, Abu Alfin dan Aditya duduk di beranda asrama. Aroma teh hangat buatan salah satu santri putri menguar di udara. Perbincangan mereka mengalir dari topik ringan hingga serius.

“Bagaimana kabarnya?” kata Aditya sambil menyeruput teh.

“Sekarang ini aktif di dunia literasi, katanya. Saya sebenarnya punya keinginan mengembangkan kemampuan menulis anak-anak asuh di sini. Tapi saya kurang punya pengalaman dalam mengajarkannya secara terstruktur,” kata Aditya.

Abu Alfin menatap Aditya, lalu memandang ke arah halaman pesantren yang mulai sepi.

“Saya ini bukan siapa-siapa, Dit. Penulis terkenal bukan, guru bahasa juga bukan. Saya hanya orang yang belajar sendiri. Tapi…” ia berhenti sejenak, menegakkan punggungnya,

Baca Juga:

“…saya percaya, kalau ada sedikit ilmu yang kita punya, dan kita mau berbagi, itu sudah cukup jadi alasan untuk bergerak,” lanjut Abu Alfin.

Aditya mengangguk pelan.

“Itu juga yang saya yakini. Dakwah tidak harus di mimbar. Bahkan menulis pun bisa jadi dakwah. Memberi pesan moral yang logis, bukan sekadar menggurui,” kata Aditya.

Menulis Sebagai Dakwah

Abu Alfin menatap Aditya dengan antusias. “Nah, itu dia! Saya selalu bilang, generasi sekarang lebih mudah menerima yang logis di banding yang sekadar moralis. Kalau kita hanya bilang ‘ini salah, ini benar’ tanpa alasan yang mereka pahami, mereka akan mengabaikannya.

Tapi kalau kita bisa mengemas pesan moral dalam cerita yang menyentuh logika dan hati, mereka akan mengingatnya,” lanjut Abu Alfin menimpali ucapan Aditya.

Diam-diam, dalam hati Abu Alfin berkata, “Pertemuan ini seperti potongan puzzle yang hilang dan kini di temukan.”

 Ia merasa ada panggilan untuk ikut terlibat dalam kegiatan positif.

“Kapan lagi hidup ini bisa bermanfaat, kalau tidak sekarang?” katanya tiba-tiba, menatap Aditya dengan tatapan mantap.

Aditya terkejut sejenak, lalu tersenyum lebar. “Berarti, mau ikut mengajar menulis untuk anak-anak  di sini!” seru Aditya.

“Kalau di izinkan, iya. Saya ingin berbagi pada anak-anak asuh di sini. Tidak muluk-muluk, saya hanya ingin mereka bisa menulis, berpikir kritis, dan memahami bahwa menulis itu bukan sekadar mencatat, tapi membentuk cara pandang,” jawab Abu Alfin.

Kelas Literasi Pertama

Beberapa minggu berikutnya, kelas literasi pertama Abu Alfin dimulai. Ia berdiri di depan 15 anak asuh pesantren, memegang sebuah buku tulis tebal yang penuh coretan. Di papan tulis, ia menulis kata: Cerita.

“Anak-anak,” suaranya berat tapi hangat, “cerita itu seperti jendela. Dari situ, kita bisa melihat dunia. Tapi, kita juga bisa membuat orang lain melihat dunia lewat jendela kita.”

Seorang anak mengangkat tangan. “Pak, kalau saya nggak pernah keluar kota, apa saya bisa nulis cerita?” tanya polos seorang anak.

Abu Alfin tersenyum. “Bisa. Karena cerita tidak hanya datang dari tempat yang jauh. Cerita bisa datang dari apa yang kamu lihat setiap hari. Dari suara ayam berkokok di pagi hari, dari aroma nasi yang dimasak ibu, atau dari mimpi yang kamu punya.”

Ia kemudian mengajarkan teknik sederhana: mulai dari apa yang diketahui, menulis dengan panca indra, dan mencoba membuat pembaca merasa ada di dalam cerita. Belum masuk pada istilah-istilah kepenulisan apalagi teknik menulisnya.

Pelajaran itu berlangsung santai. Ada tawa ketika salah satu santri menulis cerita tentang sandal yang hilang di masjid. Ada pula keheningan ketika seorang anak menulis tentang rindu pada ibunya yang sudah tiada.

Menulis Bukan Untuk Terkenal

Di akhir kelas, Abu Alfin memberikan satu pesan yang akan menjadi prinsip belajar mereka:

“Menulis bukan tentang menjadi terkenal. Menulis adalah tentang meninggalkan jejak. Kalau jejak itu baik, orang akan mengingatmu bahkan setelah kamu tiada. Itulah yang disebut jariyah,” kata Abu Alfin.

Malam harinya, Abu Alfin dan Aditya kembali berbincang di teras.

“Pak Abu,” kata Aditya, “saya rasa anak-anak sangat antusias. Tapi, saya juga ingin mereka paham bahwa menulis bisa menjadi alat untuk berdakwah. Tidak harus menulis ceramah, tapi menulis cerita yang punya nilai kebaikan,” kata Aditya.

Abu Alfin mengangguk. “Itu akan kita latih perlahan. Saya akan ajarkan mereka bagaimana memasukkan pesan tanpa membuat pembaca merasa di gurui. Karena kalau pesan itu masuk ke hati, pembaca akan mengubah perilakunya tanpa merasa dipaksa atau di gurui,” jawab Abu Alfin.

Aditya tersenyum puas. “Saya bersyukur Bapak mau datang ke sini hari itu. Kalau tidak, saya mungkin masih bingung bagaimana memulai.” Aditya berkata dengan menatap ramah kepada Abu Alfin.

Abu Alfin menatap langit malam, bintang-bintang kecil bersinar malu-malu di balik awan tipis.

“Saya juga bersyukur, Pa Aditya. Karena saya sadar, selama ini saya hanya berbagi di dunia maya. Tapi disini, saya bisa melihat langsung mata anak-anak itu berbinar ketika mereka menemukan kata-kata. Itu rasanya… luar biasa,” ucap Abu Alfin.

Malam itu, yang awalnya hanya kunjungan biasa, menjadi awal dari perjalanan panjang dua orang yang berbeda latar belakang, tapi punya satu tujuan: mempersiapkan generasi yang baik. Bukan hanya dari hafalan atau ceramah, tapi dari kata-kata yang membangun logika, menyentuh hati, dan meninggalkan jejak kebaikan yang tak lekang oleh waktu.

Bersambung…

Baca Juga: Kemensos dan Kementerian PPPA Bentuk Tim Lindungi Perempuan dan Anak