Perjalanan Panjang Soeharto: Dari Supersemar Hingga Lengser Dari Jabatan Presiden

Perjalanan Panjang Soeharto Dari Supersemar Hingga Lengser Dari Jabatan Presiden
Perjalanan Panjang Soeharto Dari Supersemar Hingga Lengser Dari Jabatan Presiden

Perjalanan Panjang Soeharto: Dari Supersemar Hingga Lengser Dari Jabatan Presiden – Bulan Mei memiliki catatan sejarah penting bagi Indonesia. Salah satunya adalah tumbangnya kekuasaan Presiden Soeharto pada Mei 1998, setelah memimpin selama lebih dari 30 tahun.

Sosok yang di juluki Bapak Pembangunan ini menjadi presiden kedua Indonesia menggantikan Soekarno pada tahun 1967, dan tercatat sebagai pemimpin terlama dalam sejarah negeri ini.

Awal Mula Kekuasaan Soeharto

Perjalanan Soeharto menuju kursi kepresidenan tidak terlepas dari peristiwa politik besar di tahun 1965, yaitu Gerakan 30 September (G30S). Situasi yang kacau kala itu membuat Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) pada 1966. Yang memberikan mandat kepada Soeharto (saat itu Panglima Kostrad) untuk mengamankan keadaan.

Setahun kemudian, MPRS menunjuk Soeharto sebagai pejabat presiden pada 12 Maret 1967. Lalu, pada 27 Maret 1968, ia resmi dilantik sebagai presiden berdasarkan Ketetapan MPRS Nomor 44/MPRS/1968. Sejak saat itu, Soeharto terpilih kembali dalam setiap pemilu mulai 1971 hingga 1997.

Baca juga:

Mengapa Soeharto Bisa Memimpin Selama 3 Dekade?

Ada beberapa faktor yang membuat Soeharto mampu bertahan di kursi presiden begitu lama.

Aturan Masa Jabatan Yang Tanpa Batasan Periode

Pada masa Orde Baru, UUD 1945 Pasal 7 menyatakan bahwa presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan dapat dipilih kembali, tanpa batas maksimal periode. Ini memberi peluang bagi Soeharto untuk terpilih berkali-kali.

Penyederhanaan Partai Politik

UU Nomor 3 Tahun 1975 mengatur bahwa hanya ada dua partai politik yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), serta satu Golongan Karya (Golkar). Dalam setiap pemilu, Golkar selalu menang, sehingga memperkuat posisi Soeharto.

Dukungan Dari Aparatur Negara

Peraturan seperti Permendagri No. 12 Tahun 1969 dan Keppres No. 82 Tahun 1971 mendorong pegawai negeri sipil (PNS) menyalurkan aspirasi politiknya melalui Golkar. PNS yang tidak mendukung Golkar bisa mendapat sanksi, bahkan di berhentikan.

Kebijakan Dan Prestasi Soeharto

Di awal pemerintahannya, Soeharto fokus pada stabilisasi ekonomi nasional. Ia membentuk Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) dari tahap I hingga VI. Konsep Trilogi Pembangunan yang mencakup pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional menjadi pedoman pembangunan.

Beberapa pencapaian penting di era Soeharto antara lain:

  • Swasembada Pangan (1984), di mana Indonesia mampu memenuhi kebutuhan beras sendiri.
  • Penurunan Angka Kemiskinan, dari 60% pada 1970 menjadi 24,2% pada 1998.
  • Pendidikan, melalui pembangunan SD Inpres dan program wajib belajar 9 tahun.
  • Program Keluarga Berencana (KB) yang sukses menekan laju pertumbuhan penduduk dan diakui dunia.
Perjalanan Panjang Soeharto Dari Supersemar Hingga Lengser Dari Jabatan Presiden
Perjalanan Panjang Soeharto Dari Supersemar Hingga Lengser Dari Jabatan Presiden

Sisi Gelap Orde Baru

Meski mencatat banyak prestasi, rezim Orde Baru juga menuai kritik tajam. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) berkembang luas. Militer memiliki peran besar dalam politik, dan pelanggaran HAM terjadi di berbagai peristiwa. Kebebasan pers di batasi, aktivis sering di tangkap, dan oposisi ditekan.

Krisis Dan Kejatuhan Soeharto

Pemilu 1997 kembali di menangkan Golkar, tetapi kepercayaan publik terhadap pemerintah sudah merosot. Korupsi semakin parah, dan peran politik militer membuat ketegangan meningkat.

Pada 1997-1998, krisis moneter Asia melanda Indonesia. Nilai rupiah anjlok, perusahaan gulung tikar, pengangguran melonjak, dan harga kebutuhan pokok meroket. Protes masyarakat dan gerakan reformasi menguat.

Situasi memanas pada Mei 1998 ketika harga BBM dan tarif listrik naik. Demonstrasi mahasiswa terjadi di berbagai kota. Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998, yang menewaskan empat mahasiswa, memicu gelombang kemarahan publik. Kerusuhan dan penjarahan meluas, termasuk di Jakarta.

Pada 18 Mei, ribuan mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR menuntut Soeharto mundur. Akhirnya, pada 21 Mei 1998, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden RI.

Warisan Dan Pelajaran Yang Bisa Diambil Pelajaran

Soeharto meninggalkan warisan ganda bagi Indonesia. Di satu sisi, ia di kenang sebagai Bapak Pembangunan yang berhasil membawa stabilitas ekonomi dan berbagai kemajuan infrastruktur. Di sisi lain, masa pemerintahannya juga identik dengan otoritarianisme, KKN, dan pembatasan kebebasan sipil.

Perjalanan panjang kekuasaannya menjadi pelajaran penting bahwa stabilitas dan pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan demokrasi, kebebasan, dan keadilan.

Baca Juga: Eny Yaqut Dinobatkan sebagai Tokoh Perempuan Sumber Inspirasi 2021