Merah Putih! Antara Fakta Sejarah & Romantisme Nasional

📜 Merah Putih Antara Fakta Sejarah & Romantisme Nasional
📜 Merah Putih Antara Fakta Sejarah & Romantisme Nasional

Merah Putih! Antara Fakta Sejarah & Romantisme Nasional – Selama bertahun-tahun, kita sering mendengar narasi yang diulang-ulang, seolah menjadi mantra sakral: “Merah Putih sudah digunakan sejak zaman Majapahit”, bahkan ada yang mengatakan sudah ada sejak 6.000 tahun lalu.

Kalimat ini tidak lagi terdengar seperti klaim biasa, tetapi sudah menjadi semacam dogma nasional yang diyakini banyak orang.

Salah satu tokoh yang paling berpengaruh membentuk narasi ini adalah Mohammad Yamin, seorang sastrawan sekaligus tokoh pergerakan yang sering disebut arsitek sejarah Indonesia modern.

Dalam bukunya yang berjudul 6000 Tahun Sang Merah Putih. Yamin mengangkat kisah panjang bendera merah putih dan mengaitkannya dengan kejayaan masa lalu bangsa Indonesia.

Namun, di balik kisah yang indah itu, ada pertanyaan besar: benarkah cerita ini sepenuhnya sesuai fakta sejarah? Atau jangan-jangan ini hanyalah romantisme sejarah yang di poles demi membangun citra bangsa?

Merah Putih! Antara Fakta Sejarah & Romantisme Nasional
Merah Putih! Antara Fakta Sejarah & Romantisme Nasional

Membongkar Bukti Majapahit Yang Sering Di Klaim

Klaim tentang merah putih sejak Majapahit biasanya mengacu pada Prasasti Kudadu, yang dibuat pada tahun 1294 Masehi. Dalam prasasti ini memang disebutkan adanya bendera merah dan putih. Sekilas, ini terlihat seperti bukti yang mendukung narasi tersebut.

Tetapi, jika kita membaca teks prasasti secara lengkap, akan muncul gambaran berbeda. Bagian yang sering dikutip berbunyi:

“… ring samangkana, hana ta tunggulning çatru layulayu katon wetani haniru, bang lawan putih warnnanya …”

Terjemahannya adalah:

“… pada saat itu, ada bendera milik musuh melambai-lambai terlihat di timurnya Haniru, merah dan putih warnanya …”

Di sinilah letak masalahnya. Bendera merah putih yang disebut dalam prasasti itu ternyata bukan milik Majapahit. Bendera tersebut adalah milik pasukan Jayakatwang (Raja Kediri), yang justru menjadi musuh Raden Wijaya pendiri Majapahit.

Dua Fakta Penting Yang Sering Terlupakan

Sejarawan Indonesia kuno, Dr. Wayan Jarrah Sastrawan, menekankan dua poin penting yang sering diabaikan ketika membicarakan kisah ini:

  • 1. Bendera merah putih di prasasti bukan milik Majapahit.
  • 2. Kronologi tidak cocok → Majapahit berdiri 1293 M, peristiwa di prasasti 1294 M.

Baca Juga:

Jadi, klaim bahwa bendera tersebut adalah “warisan” Majapahit tidak tepat secara kronologi.

Dengan kata lain, data prasasti justru menegaskan bahwa merah putih dalam peristiwa tersebut tidak ada kaitannya dengan Majapahit.

Antara Mitos Dan Kebanggaan Nasional

Mengapa narasi ini tetap bertahan? Jawabannya terletak pada peran sejarah dalam membentuk identitas nasional. Mohammad Yamin dan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan pada masanya memang membutuhkan simbol pemersatu yang kuat.

Mengaitkan bendera merah putih dengan kejayaan Majapahit adalah cara yang efektif untuk menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri bangsa yang sedang berjuang melawan penjajahan.

Romantisme sejarah semacam ini tidak jarang terjadi di banyak negara. Simbol-simbol masa lalu sering di hidupkan kembali, meski terkadang dengan tafsir atau interpretasi yang tidak sepenuhnya sesuai fakta.

📜 Merah Putih Antara Fakta Sejarah & Romantisme Nasional
📜 Merah Putih Antara Fakta Sejarah & Romantisme Nasional

Sejarah Bukan Sekadar Cerita

Bukan berarti kita harus menanggalkan merah putih dari identitas bangsa. Bendera merah putih tetap menjadi simbol persatuan, kemerdekaan, dan harga diri Indonesia. Tetapi penting juga untuk menempatkan kisahnya dalam konteks yang benar.

Memahami bahwa merah putih mungkin bukan peninggalan langsung Majapahit tidak mengurangi nilainya. Justru, ini mengajak kita untuk lebih kritis terhadap sejarah dan tidak hanya menerima narasi yang indah tanpa memeriksa sumbernya.

Sejarah adalah tentang mencari kebenaran dari bukti yang ada, bukan sekadar mengulang cerita yang sudah kita dengar sejak kecil. Dan dalam mencari kebenaran itu, kita belajar bahwa kebanggaan nasional tidak harus berdiri di atas mitos—ia bisa tumbuh dari kenyataan yang kita pahami dan terima.

Kesimpulannya, klaim bahwa bendera merah putih sudah di gunakan sejak zaman Majapahit atau ribuan tahun lalu tidak sepenuhnya di dukung bukti sejarah. Prasasti Kudadu memang menyebut bendera merah putih, tetapi itu adalah milik pasukan Jayakatwang.

Musuh Raden Wijaya, dan peristiwa tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri. Narasi ini lebih tepat disebut sebagai romantisme sejarah daripada fakta murni.

Yang terpenting sekarang adalah kita menghargai merah putih bukan hanya karena kisah masa lalunya yang melegenda. Tetapi karena ia adalah simbol nyata perjuangan dan pengorbanan bangsa Indonesia untuk merdeka.

Baca Juga: Kerajaan Samudera Pasai