Oleh: Ki Pekathik
Pergeseran Nilai Ajaran Ki Hajar Dewantara – Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai bapak Pendidikan Indonesia adalah pelita yang pernah menyalakan semangat pendidikan bangsa di masa penjajahan. Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889.
Ki Hajar memandang pendidikan sebagai jalan pembebasan, bukan sekadar proses mengisi kepala dengan pengetahuan. Ia mengajarkan bahwa guru sejati adalah mereka yang ngemong jiwa dan menuntun anak didik menuju kemerdekaan berpikir.
Warisan terbesarnya adalah motto pendidikan yang tak lekang oleh waktu:
Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
“Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan”.
Sebuah semboyan yang sederhana namun sarat makna, ibarat tiga pilar yang menopang bangunan pendidikan ideal. Pemimpin harus memimpin dengan keteladanan, menggerakkan dari tengah, dan memberi kepercayaan dari belakang.
Namun, pertanyaannya: masihkah semboyan ini menjadi napas dunia pendidikan dan kepemimpinan kita hari ini?
Ketika Motto Mulia Bergeser Makna
Entah siapa yang pertama kali melontarkan sindiran ini, tapi kini sering terdengar plesetan pahit yang menggigit:
Ing ngarsa numpuk bondho, ing madya mangan konco, tut wuri golek rai.
(Di depan menumpuk harta, di tengah memakan kawan, di belakang mencari muka.)
Plesetan ini merupakan cermin buram dari realitas yang sering kita jumpai. Banyak yang menjadi pemimpin tidak memberikan teladan dan justru melakukan hal buruk memikirkan keuntungan pribadi.
Mereka yang berada di tengah kerap hanya membangun “semangat” untuk kelompok sendir dan menghantam kelompok lain bahkan menyingkirkan teman kerabati, dan dari belakang, Ketika menjadi anak buah ataurakyat biasa suka menjilat pimpinan.
Ini gejala kemunduran budaya. Semangat “tut wuri handayani” terkikis oleh budaya pragmatisme, di mana ukuran keberhasilan tak lagi diukur dari manfaat untuk masyarakat, tapi dari seberapa cepat naik pangkat, seberapa tebal dompet, dan seberapa ramai sorotan kamera.
Baca Juga:

Menjelajahi Krisis Pendaftaran Siswa Sekolah Dasar https://sabilulhuda.org/menjelajahi-krisis-pendaftaran-siswa-sekolah-dasar/
Kenapa Perubahan Ini Terjadi?
Pergeseran dari teladan ke kepentingan pribadi tidak lahir dalam semalam. Ada beberapa akar yang membuat warisan Ki Hajar seakan memudar:
1. Budaya Materialisme
Pendidikan yang seharusnya membentuk manusia berkarakter justru sering terjebak menjadi pabrik pencetak ijazah. Tujuan hidup pun bergeser: bukan lagi “bermanfaat bagi sesama”, tetapi “mendapat penghasilan sebesar-besarnya”.
2. Keteladanan Yang Langka
Anak-anak dan generasi muda belajar dari apa yang mereka lihat. Ketika yang mereka lihat adalah figur publik yang gemar berbohong, memanipulasi, atau mengutamakan kepentingan pribadi. Maka semboyan Ki Hajar hanya tinggal tulisan di dinding sekolah.
3. Pendidikan Yang Kering Nilai
Mata pelajaran etika dan budi pekerti sering dianggap pelengkap, bukan inti. Padahal, Ki Hajar menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak, yang memerdekakan lahir dan batin.
4. Kepemimpinan Berbasis Citra
Era media sosial membuat banyak pemimpin lebih sibuk membangun pencitraan daripada membangun masyarakat. Slogan indah dijadikan kampanye, tapi tindakan sehari-hari justru bertolak belakang.
Apakah Masih Layak Dijadikan Panutan?
Pertanyaan ini terdengar getir. Apakah masih ada sosok-sosok di zaman ini yang pantas menghidupkan kembali semboyan Ing ngarsa sung tulada? Jawabannya: ada, tapi jumlahnya jauh lebih sedikit dari yang seharusnya.
Di tengah hiruk-pikuk kepentingan, masih ada guru yang mengajar dengan hati, pemimpin yang menolak suap, dan relawan yang berjuang tanpa pamrih. Namun, mereka sering kalah sorotan dibanding figur yang lihai membuat sensasi.
Justru di sinilah tantangannya. Ki Hajar Dewantara tidak pernah mengajarkan bahwa kita harus menunggu dunia menjadi sempurna baru memberi teladan. Sebaliknya, beliau memberi contoh bahwa satu teladan kecil pun bisa menjadi api yang menyalakan semangat perubahan.

Menghidupkan Kembali Semangat Ki Hajar
Kalau kita ingin semboyan Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani kembali bermakna, maka perubahannya harus dimulai dari lingkar terkecil—diri sendiri.
1. Jadilah Teladan di Lingkungan Kecil
Tidak perlu menunggu jabatan tinggi untuk memberi teladan. Di rumah, di sekolah, di komunitas—setiap sikap jujur, disiplin, dan peduli adalah bentuk nyata dari ing ngarsa sung tulada.
2. Bangun Semangat Bersama
Ing madya mangun karsa berarti menjadi penggerak di tengah-tengah. Artinya, kita tidak hanya duduk diam, tapi aktif mengajak, menginspirasi, dan menyemangati orang di sekitar untuk bergerak bersama.
3. Memberi Kepercayaan Dan Dukungan
Tut wuri handayani adalah tentang memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk berkembang, sambil tetap menjadi sumber kekuatan di belakang. Ini melatih kita untuk tidak egois dan tidak selalu ingin berada di pusat perhatian.
4. Menolak Godaan Plesetan Motto
Godaan untuk menumpuk harta, mengutamakan kelompok sendiri, dan mencari muka akan selalu ada. Namun, setiap kali godaan itu muncul, kita bisa bertanya: Kalau Ki Hajar masih hidup, apakah beliau akan bangga dengan tindakanku?
Zaman Boleh Berubah, Nilai Jangan Pudar
Kita tidak bisa menolak perubahan zaman. Teknologi berkembang, pola hidup bergeser, dan tantangan baru bermunculan. Namun, nilai-nilai luhur seperti keteladanan, kebersamaan, dan dukungan moral tidak pernah kadaluarsa.
Plesetan motto Ki Hajar memang lucu ketika dibaca, tetapi pahit ketika disadari bahwa ia mencerminkan realitas. Jika kita ingin plesetan itu tidak lagi relevan, maka setiap dari kita harus berjuang menghidupkan kembali makna asli semboyan tersebut.
Mungkin kita tidak bisa langsung mengubah sistem besar yang carut-marut. Namun, kita bisa mengubah cara kita bersikap. Jika setiap orang di depan berusaha memberi teladan, setiap orang di tengah berusaha membangun semangat, dan setiap orang di belakang berusaha memberi dorongan, maka perlahan-lahan wajah bangsa ini akan kembali bersinar.
Seperti kata Ki Hajar Dewantara:
“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kekuatan kodrat itu agar mereka dapat memperbaiki lakunya.”
Artinya, tugas kita bukan memaksa orang menjadi seperti yang kita mau, melainkan memberi ruang dan teladan agar mereka berkembang sesuai kodrat baiknya.
Penutup: Jangan Biarkan Api Itu Padam
Warisan Ki Hajar Dewantara bukan hanya semboyan untuk diletakkan di dinding sekolah, melainkan kompas moral untuk setiap pemimpin, guru, orang tua, dan warga negara.
Mari kita pilih untuk menghidupkan kembali semboyan itu, bukan plesetannya. Sebab, kalau kita terus membiarkan plesetan itu menjadi kenyataan, kita bukan hanya mengkhianati Ki Hajar, tetapi juga masa depan anak-anak bangsa ini.
Di depan, jadilah teladan. Di tengah, bangun semangat. Di belakang, berikan dorongan. Itulah jalan panjang yang mungkin berat, tetapi satu-satunya yang pantas kita tempuh.
Baca Juga: Pengasuhan Anak Usia Dini Mesti Libatkan Semua Pihak













