Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 36 Part 2

Kajian kitab Bidayatul Hidayah
Kajian kitab Bidayatul Hidayah Halaman 7-8

Bagian 5: Golongan Pertama yang Mendatangi Haudh

أَوَّلُ النَّاسِ وُرُودًا صَعَالِيكُ الْمُهَاجِرِينَ.

Terjemahan: “Orang-orang pertama yang mendatanginya (Haudh) adalah ‘sha’alik’ (orang-orang fakir/miskin) dari kalangan Muhajirin.”

Penjelasan:

Ini adalah poin yang sangat menyentuh dan menunjukkan keutamaan golongan tertentu dalam Islam.

1. “Sha’alik” (صَعَالِيكُ):

Secara bahasa, “sha’alik” adalah jamak dari “sa’luk”, yang berarti orang yang miskin, yang tidak memiliki harta, pengembara, atau bahkan terkadang diartikan sebagai bandit atau perampok (dalam konteks pra-Islam).

Namun, dalam konteks Islam, terutama ketika di sandingkan dengan “Muhajirin”, maknanya sangat positif. Ini merujuk kepada orang-orang yang sangat fakir, yang rela meninggalkan segala harta dan kekayaan mereka di Makkah demi berhijrah bersama Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah, semata-mata karena Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki apa-apa kecuali keimanan mereka yang tulus.

2. “Muhajirin”:

Mereka adalah para sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah. Mereka meninggalkan rumah, harta, keluarga, dan segala kenyamanan dunia demi berpegang teguh pada agama Allah dan menemani Nabi ﷺ.

Hadis ini menyoroti keutamaan dan kedudukan tinggi para Muhajirin yang miskin di sisi Allah. Meskipun mereka mungkin tidak memiliki status sosial atau kekayaan di dunia, kesabaran, pengorbanan, dan ketulusan iman mereka diakui dan diberi penghargaan pertama di akhirat.

Mereka akan menjadi orang-orang pertama yang menghilangkan dahaga mereka di Haudh Nabi, sebuah kemuliaan yang besar. Ini adalah pelajaran penting bahwa kekayaan sejati adalah ketakwaan dan bukan harta benda.

Baca Juga

Kajian kitab Bidayatul Hidayah

Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Halaman 36 Part 1 https://sabilulhuda.org/kajian-kitab-bidayatul-hidayah-halaman-36-part-1/

Bagian 6: Identifikasi “Sha’alik” (Orang-Orang Miskin Muhajirin)

قَالَ قَائِلٌ: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الشَّعْثَةُ رُؤُوسُهُمْ، الشَّجِيَّةُ وُجُوهُهُمْ، الدَّنِسَةُ ثِيَابُهُمْ، لَا تُفْتَحُ لَهُمُ السُّدَدُ، وَلَا يُنْكَحُونَ الْمُنَعَّمَاتُ، الَّذِينَ يُعْطُونَ كُلَّ الَّذِي عَلَيْهِمْ، وَلَا يَأْخُذُونَ كُلَّ الَّذِي لَهُمْ».

Terjemahan: “Seseorang bertanya: ‘Siapakah mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Rambut mereka kusut masai, wajah mereka berkerut (sedih/susah), pakaian mereka lusuh/kotor, tidak di bukakan pintu-pintu bagi mereka, dan tidak di nikahkan dengan wanita-wanita kaya (terhormat); mereka adalah orang-orang yang memberikan segala yang menjadi kewajiban mereka, dan tidak mengambil segala yang menjadi hak mereka.'”

Penjelasan:

Bagian ini adalah dialog antara seseorang (mungkin seorang sahabat) yang bertanya kepada Nabi ﷺ untuk mengidentifikasi siapa sebenarnya “sha’alik” yang disebutkan. Jawaban Nabi ﷺ memberikan gambaran visual dan karakter moral mereka.

1. “Rambut mereka kusut masai (الشَّعْثَةُ رُؤُوسُهُمْ)”:

Ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki waktu atau fasilitas untuk merawat diri secara mewah. Mereka sibuk dengan perjuangan hidup, beribadah, dan berdakwah, sehingga penampilan fisik mereka sederhana dan tidak terurus.

2. “Wajah mereka berkerut (sedih/susah) (الشَّجِيَّةُ وُجُوهُهُمْ)”:

Kata “الشَّجِيَّةُ” (asy-syajiyyah) berasal dari “syajaa” yang berarti kesedihan, kegalauan, atau kesusahan. Wajah mereka menunjukkan bekas-bekas penderitaan, kesusahan, dan kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup.

Ini bukan berarti mereka murung terus-menerus, melainkan wajah yang memancarkan keteguhan di balik kesusahan.

3. “Pakaian mereka lusuh/kotor (الدَّنِسَةُ ثِيَابُهُمْ)”:

Sama seperti rambut, ini menggambarkan kesederhanaan hidup mereka. Pakaian mereka mungkin tidak baru, tidak bersih sempurna, atau bahkan sobek-sobek karena kemiskinan dan kerasnya kehidupan.

4. “Tidak dibukakan pintu-pintu bagi mereka (لَا تُفْتَحُ لَهُمُ السُّدَدُ)”:

“Sudad” (السُّدَدُ) adalah jamak dari “suddah” yang berarti pintu besar, benteng, atau penghalang. Frasa ini bisa diartikan beberapa hal:

Mereka tidak mendapatkan kemudahan dalam urusan duniawi, pintu-pintu kesempatan tidak terbuka lebar bagi mereka.

Mereka tidak dihormati di majelis-majelis orang terpandang atau rumah-rumah orang kaya, karena status sosial mereka yang rendah.

Bisa juga berarti kesulitan dalam mengakses sumber daya atau kekuasaan. Intinya, mereka adalah orang-orang yang terpinggirkan secara sosial di mata dunia.

5. “Dan tidak dinikahkan dengan wanita-wanita kaya (terhormat) (وَلَا يُنْكَحُونَ الْمُنَعَّمَاتُ)”:

“Al-Muna’amat” (الْمُنَعَّمَاتُ) adalah wanita-wanita yang hidup dalam kemewahan, kehormatan, dan kenyamanan. Karena kemiskinan dan status sosial mereka, para sha’alik ini tidak menjadi pilihan bagi keluarga-keluarga kaya dan terpandang untuk menikahkan putri-putri mereka. Ini sekali lagi menekankan kondisi sosial mereka yang rendah di mata dunia.

“Mereka adalah orang-orang yang memberikan segala yang menjadi kewajiban mereka, dan tidak mengambil segala yang menjadi hak mereka.”: Ini adalah ciri moral paling penting dan puncak pujian bagi mereka.

“Memberikan segala yang menjadi kewajiban mereka”: Ini berarti mereka adalah orang-orang yang sangat bertanggung jawab, taat kepada Allah, dan menunaikan segala perintah agama dan hak orang lain tanpa kekurangan sedikitpun, meskipun dalam keadaan serba kekurangan.

“Dan tidak mengambil segala yang menjadi hak mereka”: Ini menunjukkan sifat zuhud (asketisme), qana’ah (merasa cukup), dan tidak serakah. Mereka mungkin memiliki hak yang belum terpenuhi, tetapi mereka tidak menuntutnya atau merelakannya demi Allah.

Mereka tidak mengejar-ngejar keuntungan duniawi, bahkan ketika itu adalah hak mereka. Ini adalah puncak pengorbanan diri dan keikhlasan.

Bagian 7: Penjelasan Kata “Asy-Syajiyyah”

قَوْلُهُ: «الشَّجِيَّةُ وُجُوهُهُمْ» بِفَتْحِ الشِّينِ الْمُعْجَمَةِ، وَكَسْرِ الْحَاءِ =

Terjemahan: “Perkataan beliau: ‘Wajah mereka berkerut/sedih (asy-syajiyyah wujuhuhum)’ dengan fathah pada huruf syin yang bertitik (شَ) dan kasrah pada huruf ha (حِ) = “

Penjelasan:

Bagian ini adalah catatan linguistik yang menjelaskan cara membaca kata “الشَّجِيَّةُ”. Ini menunjukkan kehati-hatian dalam mentranskripsikan hadis agar tidak terjadi kesalahan makna.

Fathah pada huruf syin yang bertitik (شَ): Ini merujuk pada harakat fathah (garis di atas) pada huruf Syin (ش).

Kasrah pada huruf ha (حِ): Ini merujuk pada harakat kasrah (garis di bawah) pada huruf Ha (ح).

Jadi, pengucapan yang benar adalah “asy-syajiyyah”, yang berarti sedih, galau, atau berkerut karena kesusahan.

Kesimpulan Umum:

Teks ini adalah cuplikan berharga yang menjelaskan beberapa pilar akidah Islam terkait hari Kiamat:

1. Sifat Shirat: Jembatan yang sangat sulit, sebagai ujian terakhir bagi manusia.

2. Keberadaan Haudh Nabi Muhammad ﷺ: Telaga yang luas dengan air yang luar biasa nikmat, sebagai hadiah bagi orang-orang mukmin.

3. Hubungan Amal Dunia dengan Hasil Akhirat: Keteguhan di Shirat akhirat bergantung pada keistiqamahan di Shirat syariat dunia.

4. Keutamaan Kaum Muhajirin yang Miskin: Mereka adalah golongan pertama yang akan mendapatkan kemuliaan di Haudh Nabi, menunjukkan bahwa nilai seseorang di sisi Allah bukanlah pada harta atau status sosial, melainkan pada ketulusan iman, pengorbanan, dan ketakwaan.

Pesan utama dari teks ini adalah mendorong umat Muslim untuk senantiasa berpegang teguh pada syariat Allah di dunia, bersabar dalam menghadapi cobaan, dan tidak terpikat oleh kemewahan dunia.

Balasan yang sesungguhnya ada di akhirat bagi mereka yang tulus dan berkorban di jalan-Nya. Ini juga menjadi pengingat untuk senantiasa berdoa memohon keteguhan di hari Kiamat.

Oleh: Ki Pekathik