Arsyita Terbangun Dalam Kepanikan
Beberapa wanita membangunkan Aryita. Setelah Arsyita sadar, dia kaget melihat banyak orang di sekitar dirinya tidur. Bahkan, beberapa orang terdengar berbicara di luar kamarnya. Tempat kos yang hanya satu kamar tidur dan ruang tamu tersebut jadi ramai.
“Ada apa ini? Apa yang terjadi?” tanya Arsyita.
“Justru saya ingin tahu, apa yang kamu alami. Kenapa tadi berteriak teriak histeris!” seru sesepuh kampung tersebut.
Arsyita terdiam tidak langsung menjawab, namun dia ingat semua yang terjadi saat di alam mimpi atau di alam lain.
Cermin kamar Arsyita retak, semburat merah merambat seperti darah, menetes ke lantai dengan pelan tapi pasti. Arsyita saat terbangun dari tidurnya dengan tubuh menggigil dan nafas tercekat. Matanya menatap lekat ke cermin itu, namun tak berani mendekat.
Di balik retakan, sekelebat bayangan perempuan muda berdiri diam, menunduk dengan rambut menutupi wajah. Hanya Arsyita yang melihat itu.
“Nggak… Ini cuma mimpi,” desisnya, meski detak jantungnya membantah kenyataan itu.
Beberapa malam terakhir, sosok itu terus muncul. Awalnya hanya suara isakan, lalu berubah jadi bisikan yang jelas di telinga:
“Gantikan dia… kamu harus menggantikan Alisa…”
Kata-kata itu selalu terngiang di telinga Arsyita. Membuatnya semakin bingung harus bagaimana. Diperintahkan oleh sosok tak kasat mata.
Namun, malam ini berbeda. Sosok itu muncul jelas. Wajah pucat, mata kosong, dan lidah terjulur. Arsyita yakin… itu bukan Alisa, tapi mengapa bayangan itu memanggil nama Bayu?
Baca Juga:

Qorin (Cerbung Misteri Bab 21) https://sabilulhuda.org/qorin-cerbung-misteri-bab-21/
Warga Yang Hadir Geger
Arsyita kembali pingsan, warga yang hadir geger. Pemilik kos, seorang wanita sepuh bernama Bu Sarti, mencoba menenangkan Arsyita yang masih syok.
“Nak Arsyita… kamu kenapa? Apa kamu bisa ceritakan apa yang terjadi?” tanya Bu Sarti pelan, sambil mengelus bahu Arsyita.
Namun, Arsyita hanya menggeleng. Sebagian cerita dia simpan rapat. Ia tak sanggup menjelaskan kalau semua ini mungkin ada hubungannya dengan Alisa dan Bayu. Tentang cinta yang dia kubur dalam-dalam karena tak ingin merusak persahabatan. Tentang perasaan iri yang perlahan jadi luka batin.
Namun, kini… luka itu terasa seolah disentuh oleh sesuatu dari alam lain. Sesuatu yang memaksa dirinya menggantikan Alisa.
…
Alisa Dan Pertanyaan Misterius
Sementara itu, di rumah tua di pinggir desa tempat Burhan dan Maisaroh tinggal, situasi tak kalah mencekam. Alisa mulai jarang bicara. Matanya kosong, seringkali berdiri lama di depan jendela, seolah menunggu seseorang.
“Alisa, kamu nggak apa-apa?” tanya Maisaroh suatu malam, membawa segelas air hangat.
Alisa hanya menoleh pelan. Bibirnya bergetar, lalu berkata pelan, “Ibu… siapa aku sebenarnya?”
Pertanyaan itu menghentak dada Maisaroh. Burhan yang mendengar dari ruang tengah pun segera masuk, wajahnya tegang.
“Kamu anak kami, Alisa… Kenapa tanya begitu?” ucap Burhan mencoba tegas, namun sorot matanya penuh keraguan.
“Karena… ada perempuan yang terus memanggilku ‘bukan Alisa’. Dia bilang aku mencuri kehidupannya…”
Maisaroh memekik pelan, Burhan pun terdiam. Sudah beberapa kali sosseru Burhanok perempuan berbaju putih dan gadis remaja berseliweran di rumah mereka. Bahkan pembantu rumah sempat berhenti kerja karena diganggu suara tangis anak kecil di malam hari.
“Pasti sosok Anisa!” seru Burhan.
Alisa hanya mengangguk pelan. Maisaroh pun berpikir sama dengan Burhan suaminya. Sejak kedatangan mereka di rumah Bayu selalu saja diikuti oleh sosok Anisa yang telah tiada. Namun, mereka tidak tahu,kenapa sosok Anisa mengatakan Alisa merebut kehidupannya. Ada misteri yang tidak bisa mereka pecahkan.
Hanan Di Panggil Untuk Membantu
Burhan akhirnya menyerah, Ia menghubungi Hanan, seorang lelaki muda religius yang beberapa kali diminta masyarakat untuk membantu pengusiran makhluk halus. Beberapa kali juga Hanan sudah membantu keluarga tersebut.
Hanan datang menjelang magrib. Wajahnya tenang, meski raut mukanya berubah saat melihat Alisa. Ia tak langsung bicara, hanya menatap lekat-lekat gadis itu sebelum akhirnya berkata pelan.
“Maaf, Pak Burhan… tapi saya rasa ada yang harus dibuka di keluarga ini. Ada rahasia yang membuat arwah tidak tenang,” kata Hanan.
“Tidak ada yang kami sembunyikan, semua Nak Hanan sudah ketahui. Dari hubungan Alisa dengan Bayu dan keluarga ini,” jawab Hanan.
“Iya Pak, tapi sepertinya masih ada hal lain yang belum terungkap,” jawab Hanan.
Burhan dan Maisaroh bingung, mereka tidak tahu apa yang dimaksud Hanan. Bahkan Hanan sendiri tidak tahu misteri apa yang masih tersembunyi. Yang jelas Hanan merasa ada sesuatu yang janggal di keluarga Burhan.
…
Bayu Dan Peringatan Dari Dunia lain
Di tempat lain, Bayu duduk sendiri di kamar, di depan laptopnya. Jari-jarinya gemetar. Bab terakhir novel yang ia tulis, kembali berubah. Kali ini tulisannya membentuk kalimat sendiri. Tidak seperti biasa. Lebih menyeramkan.
“Bayu, kamu jatuh cinta pada orang yang salah…”
“Hentikan atau akan jadi bencana…”
“Jauhi Alisa, jika tidak ingin terjadi bencana.”
Bayu mundur dari kursinya. Nafasnya memburu. Ia ingat dulu neneknya, Lastri, pernah berkata:
“Kamu akan bertemu seseorang, Bayu. Hati-hati dengan perasaanmu padanya. Jangan sampai salah arah…”
Hanya sekilas, suara itu kemudian menghilang yang tersisa adalah aroma wangi bunga melati.
“Kenapa selalu muncul aroma melati saat sosok itu muncul atau hanya sekadar menunjukkan suara?” tanya Bayu dalam hati.
Kemudian Bayu kembali melanjutkan menulis cerita, novel roman yang menceritakan kisah cintanya dengan Alisa. Dia mengabaikan semua ucapan dan peringatan sosok halus yang selalu mengganggu dan menghantuinya.
“Mungkin, ini hanya ujian ketulusan hubunganku dengan Alisa,” kata Bayu menghibur diri.
Semakin dilarang justru Bayu semakin tertantang. Alisa bukan sekadar wanita cantik baginya. Namun, memiliki sesuatu yang hanya bisa dirasakan dengan hati. Itu yang dianggap Bayu sebagai cinta sejati.
Peringatan Terakhir
Secangkir kopi di meja bayu tinggal separuh. Saat Bayu melanjutkan mengetik naskah. Rasa kantuk tiba-tiba muncul, hingga bayu beberapa kali menguap. Tangannya ingin meraih secangkir kopi untuk menghilangkan kantuk. Namun, entah kenapa justru menyenggol dan membuat cangkir jatuh dan kopinya tumpah.
“Ah, kenapa bisa jatuh!” seru Bayu.
Secara reflek, Bayu mengambil cangkir dan mengepel lantai yang basah terkena kopi. Sosok Dewi yang menumpahkan kopi tak terlihat oleh Bayu. Kemudian kembali duduk untuk melanjutkan menulis. Rasa kantuknya juga mendadak lenyap saat cangkir kopinya terjatuh.
“Apa ini!” seru Bayu.
Kembali terjadi keanehan, naskahnya berubah sendir dan di akhir kalimat tertulis dengan huruf besar.
“JAUHI ALISA ATAU AKAN JADI BENCANA”
Bayu semakin tidak mengerti apa kemauan sosok yang menghantuinya tersebut. Namun, dia tetap bertekad tidak mau berpisah dengan Alisa. Baik yang melarang bangsa manusia atau bangsa apapun.
Baca Juga: CERITA HOROR – MISTERI RUMAH TUA




