Oleh: Ki Pekathik
Kujalani Hidup Ini Dengan Apa Yang Aku Punya Dan Dengan Apa Yang Ada – Kadang kita merasa kekurangan, merasa kalah dari orang lain, atau merasa tidak punya cukup untuk melangkah. Tapi di tengah semua itu, ada kekuatan besar dalam sebuah kesadaran sederhana: “Kujalani hidup ini dengan apa yang aku punya dan dengan apa yang ada.”
Kalimat itu bukan sekadar pasrah. Ia adalah bentuk kerendahan hati, penerimaan, dan syukur yang dalam kepada Allah. Ia lahir dari hati yang tidak lagi mengejar ilusi kesempurnaan, tapi memilih untuk berdamai dengan kenyataan, tanpa berhenti berusaha.
1. Menerima yang Ada: Awal dari Ketenteraman
Betapa banyak orang yang gelisah padahal tidak kekurangan, tapi karena mereka merasa kurang dibandingkan orang lain. Padahal, hidupitu soal mensyukuri apa yang ada dan menggunakannya dengan bijak bukan soal memiliki segalanya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
انْظُرُوا إِلَىٰ مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَىٰ مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian dan jangan melihat kepada orang yang lebih tinggi dari kalian, karena itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim, no. 2963)
Hadis ini memberi pelajaran penting: kita tidak akan pernah bisa merasa cukup kalau terus membandingkan hidup kita dengan milik orang lain. Tapi jika kita melihat orang yang lebih sedikit dari kita, kita akan lebih mudah bersyukur dan merasa cukup.
Baca Juga:

Ridha Dengan Takdir Sebagai Kunci Syukur https://sabilulhuda.org/ridha-dengan-takdir-sebagai-kunci-syukur/
2. Apa yang Ada Padamu, Itu yang Terbaik Saat Ini
Allah menciptakan kita dengan bekal yang cukup untuk menjalani takdir kita. Kita mungkin tidak punya apa yang dimiliki orang lain, tapi kita punya apa yang kita butuhkan untuk menunaikan misi hidup kita sendiri.
Allah ﷻ berfirman:
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Jadi, apa pun kondisi kita saat ini—kesehatan, harta, waktu, keluarga, keterbatasan, bahkan kekurangan—itulah yang terbaik dari Allah untuk kita saat ini. Dan dengan itulah kita diminta untuk berjalan, bukan diam.
3. Sederhana Tapi Tidak Sia-Sia
Tidak semua orang harus punya mobil mewah, rumah besar, atau jabatan tinggi agar merasa bernilai. Rasulullah ﷺ hidup dalam kesederhanaan yang luar biasa, tetapi beliau adalah manusia terbaik yang pernah hidup.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra:
نَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَىٰ حَصِيرٍ، فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً؟ فَقَالَ: مَا لِي وَلِلدُّنْيَا؟ مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Rasulullah ﷺ tidur di atas tikar hingga membekas di sisi tubuh beliau. Kami pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah kami buatkan alas tidur untukmu?’ Beliau menjawab, ‘Apa urusanku dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, lalu pergi dan meninggalkannya.’” (HR. At-Tirmidzi, no. 2377. Hasan shahih)
Ini bukan ajakan untuk berhenti bermimpi. Tapi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari tumpukan materi, tetapi dari hati yang bersih dan ridha.
4. Rezeki Itu Bukan Hanya Uang
Banyak orang merasa dirinya “tidak punya apa-apa” hanya karena dompetnya tipis atau tidak punya aset. Padahal rezeki Allah jauh lebih luas dari sekadar uang.
Waktu luang adalah rezeki.
Kesehatan adalah rezeki.
Teman baik adalah rezeki.
Keluarga yang mendukung adalah rezeki.
Kemampuan untuk berpikir, bergerak, dan berdoa juga rezeki.
Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ ٱلنَّاسِ: ٱلصِّحَّةُ وَٱلْفَرَاغُ
“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari, no. 6412)
Kita mungkin tidak punya banyak uang, tapi kita punya waktu untuk membantu orang lain, untuk beribadah, atau untuk belajar. Maka hidupilah hari ini dengan apa yang ada di tangan kita, gunakan sebaik-baiknya untuk mencari ridha Allah.

5. Jangan Menunggu “Nanti” untuk Hidup
Terkadang kita menunda hidup karena merasa belum punya cukup. Kita berkata:
“Nanti kalau sudah kaya, aku akan bersedekah.”
“Nanti kalau sudah mapan, aku akan bahagia.”
“Nanti kalau sudah punya semuanya, aku akan tenang.”
Tapi hidup tidak berjalan seperti itu. Hidup itu sekarang. Dan tugas kita adalah menjalani hari ini sebaik mungkin dengan apa yang kita punya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
بَادِرُوا بِٱلْأَعْمَالِ سَبْعًا: هَلْ تَنْتَظِرُونَ إِلَّا فَقْرًا مُنْسِيًا، أَوْ غِنًى مُطْغِيًا، أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا، أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا، أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا، أَوِ ٱلدَّجَّالَ فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ، أَوِ ٱلسَّاعَةَ؟ فَٱلسَّاعَةُ أَدْهَىٰ وَأَمَرُّ
“Segeralah beramal sebelum datang tujuh perkara: apakah kalian menunggu kefakiran yang melalaikan, kekayaan yang membuat sombong, penyakit yang merusak, usia tua yang melemahkan, kematian yang menyudahi, atau Dajjal — seburuk-buruk yang ditunggu, atau kiamat? Sungguh kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit lagi.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2306. Hasan)
Hadis ini mengajarkan kita untuk tidak menunda amal, tidak menunda hidup hanya karena merasa belum punya cukup. Gunakan yang ada. Mulai dari yang kecil. Jalani hari ini dengan niat baik.
Hidup Akan Luas Dengan Cukupkan Hati
Mengeluh karena kita tidak punya ini dan itu hanya akan menambah sempit dada. Tapi saat kita belajar mensyukuri dan menggunakan apa yang ada, maka hidup terasa cukup dan tenang.
“Kujalani hidup ini dengan apa yang aku punya dan dengan apa yang ada” tanda kebijaksanaan spiritual. Itu adalah cara hidup para nabi, para shalih, dan orang-orang yang hatinya telah dipenuhi cahaya tawakal.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ ٱللَّهُ بِمَا آتَاهُ
“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1054)
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang bersyukur dengan apa yang ada, menggunakan apa yang kita punya untuk kebaikan, dan senantiasa ridha pada jalan yang telah Allah tetapkan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.













