Diangkat dari kisah nyata
Oleh: Ki Pekathik
“Cinta Sederhana Ayah Adityah”
Salma, gadis 25 tahun yang wajahnya mewarisi kecantikan Linda mamanya, kini bekerja di hotel ternama di Yogyakarta. Lulus dari akademi pariwisata dengan predikat terbaik, ia langsung diterima kerja, bahkan sebelum wisuda.
Karirnya melesat seperti anak panah yang tahu ke mana arah tujuannya. Ia cerdas, percaya diri, dan ramah dalam pergaulan. Banyak yang menyukai kepribadiannya, terutama para tamu yang datang dan merasa nyaman dilayaninya.
Mereka berkata, “Ada sesuatu di mata gadis itu. Hangat, bersinar, dan jujur.”
Salma tak pernah jauh dari mimpi. Sejak kecil ia mengidolakan sosok Linda, perempuan yang membesarkannya dengan penuh semangat dan keberanian meski pernah terjatuh karena pilihan hidupnya sendiri. Tapi Salma memilih meniru sisi terbaik dari mamanya — ketangguhan, kerja keras, dan daya juang yang tinggi.
“Jangan ulangi lukanya,” gumamnya pada diri sendiri di malam-malam sepi setelah pulang kerja.
Aditya, Ayah Tanpa Ikatan Darah
Aditya lelaki paruh baya yang selama ini menjadi ayah baginya selalu hadir seperti pohon rindang yang meneduhkan jiwa. Bukan ayah kandung, tapi cinta dan penjagaannya tak pernah kurang.
Sejak Linda kembali dengan dua anaknya setelah masa pernikahan yang kandas, Aditya menerima mereka tanpa ragu, memeluk Lintang dan Salma seperti darah dagingnya sendiri.
Lintang, adik Salma, kini berusia 21 tahun, cantiknya tidak kalah dengan kakaknya Salma ya karena memang papa biologis mereka berdua. Lelaki tampan dan mamanya cantik tidak seperti ayah ideologis mereka.
Baca Juga:

Cinta Tanpa Restu Part 5 https://sabilulhuda.org/cinta-tanpa-restu-part-5/
Aditya lelaki sederhana dengan tampang pas pasan dan kantong yang selalu pas, ya wajarlah kalau mereka berdua cantik. Berbeda dari kakaknya yang ekspresif, Lintang lebih kalem dan cenderung introvert, tetapi memiliki kedewasaan yang lebih matang.
Ia mengambil jurusan komunikasi di sebuah universitas ternama di bawah bimbingan Aditya yang tak pernah letih mendampingi.
“Kalau kamu mau sukses,” pesan Aditya saat memberi restu Lintang kuliah pertama, “Kamu harus lebih pintar dari mamamu. Jangan hanya cantik, tapi juga bijak dan smart.”
Lintang mengangguk, mencatat setiap nasihat yang tak selalu panjang tapi penuh makna itu di hatinya.
Pertemuan Pagi Yang Penuh Makna
Pagi itu, Salma dan Aditya bertemu berdua disebuah ruangan tanpa diketahui mama linda. Salma baru saja pulang dari kecelakaan ringan. Wajahnya masih tampak lelah namun tetap bersinar.
“Ayah belum tidur?” tanya Salma sambil mencium tangan Aditya.
Aditya tersenyum. “Menunggu kamu. Apa sudah kamu periksakan ke dokter.”
Salma mengangguk tanda sudah periksa. “ ini ayah kasih uang untuk kamu control berikutnya ya, sambil menoleh Aditya mengusap mata” Lintang pun ikut bergabung dengan obrolan itu. Aditya juga mengulurkan beberapa lembar ratusan ribu untuk lintang” pakailah untuk kebutuhanmu”
Aditya memandang Salma dan lintang lekat-lekat. Matanya berkaca-kaca.
“Kalian tahu… Sekiranya mamamu dulu setia,” suaranya lirih, “kalian berdua mungkin adalah darah dagingku. Tapi meski bukan, aku menjagamu seperti milikku sendiri.”
Salma menunduk, menghela napas memikirkan ayah sambung yang telah mengasuhnya sejak kecil. Salma dan lintang tak berkata apa-apa, hanya menatap penuh hormat.
“Dulu,” lanjut Aditya, suaranya bergetar, “mamamu meninggalkanku karena kemiskinanku. Ia memilih laki-laki lain yang lebih mapan. Tapi bukan salah kalian. Kalian tak pernah salah.”
Hening sejenak.
“Aku tak punya apa-apa selain cinta sederhana dan hati yang rapuh. Tapi itu yang aku persembahkan untuk kalian. Semampuku. Sekuat aku bisa.”
Salma mengusap air matanya yang jatuh tanpa bisa ditahan. Salma menaruh cangkirnya, lalu memegang lututnya yang luka sebagai pengalihan airmata harunya.
“Ayah Adit,” kata Lintang, “ayah nggak perlu kaya. Kami nggak butuh harta dari ayah, kami butuh cinta seperti yang selama ini ayah beri.”
Aditya menghela napas panjang.
Ambillah Pelajaran, Jadilah Cahaya
“Anak-anakku, dalam hidup ini kalian akan bertemu dua macam orang: yang baik dan yang buruk. Orang buruk akan memberikan pelajaran, sedangkan orang baik akan meninggalkan kenangan indah. Tapi kewajiban kalian adalah mengambil hikmah dari semuanya.”
Kemudian ia menoleh ke arah Salma dan Lintang secara bergantian.
“Jangan salah mengambil makna. Dari setiap kejadian, dari setiap luka, dari setiap perjumpaan… ambillah pelajaran. Itu cukup untuk membuat kalian bertumbuh menjadi cahaya.”
Salma terdiam lama malam itu. Kata-kata Aditya terus bergema di telinganya. Ia memandangi foto lama mereka berempat dengan mama Linda ia, Lintang kecil, dan Aditya yang tersenyum sederhana memegang bahu mereka berdua.
Linda melingkarkan tangan dipinggang Aditya. Waktu itu, Ayah Aditya lah yang menemani hari hari mereka tumbuh, bukan Papa Yudha yang sampai saat ini masih suka traveling tanpa anak anak. Aditya lah yang rela banting tulang demi biaya daftar ulang kuliah Salma juga Lintang.
Lalu kenapa Tuhan tak menjadikannya ayah kandung?
Pertanyaan itu pernah ia tanyakan dalam doa, lalu ia paham: karena kasih sejati tidak selalu berawal dari darah.

Maaf Dan Pilihan Yang Menjadi Kekuatan
Suatu malam, Salma duduk di balkon hotel tempat ia bekerja. Pandangannya jauh menembus kelap-kelip lampu kota Yogyakarta. Ia sedang libur malam itu. Entah kenapa, ia merasa rindu pada rumah dan pada pelukan Ayah Adit yang hangat meski tak banyak berkata-kata.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Aditya masuk.
“Salma, maaf ayah cuma bisa membesarkanmu dengan cinta, bukan dengan kemewahan. Tapi izinkan ayah menitip satu harapan: tolong jaga kehormatanmu, nak. Kalau bisa, antarkan ayah dan mamamu ke surga dengan akhlak dan kesetiaanmu.”
Salma tak sanggup membalas. Ia hanya memeluk lututnya sambil menangis pelan.
Ayah Aditya bukan pria sempurna. Tapi dari tangan keriputnya, Salma tumbuh dengan cinta yang tulus. Ia belajar tentang kesetiaan, pengorbanan, dan nilai yang tak bisa dibeli uang.
Satu waktu, Lintang bertanya dalam perjalanan pulang dari kampus.
“Yah, pernah nyesel nggak sih, dulu milih mamah lagi, padahal mamah pernah ninggalin?”
Aditya tersenyum. “Manusia bukan hanya hasil dari masa lalu, tapi juga pilihan masa kini. Dulu mamahmu memilih orang lain, dan itu menyakitkan. Tapi saat ia kembali, aku memilih untuk mengampuni. Karena tanpa itu, aku nggak bisa menjadi ayah kalian sekarang.”
Lintang terdiam. Ia tahu, hanya lelaki berhati besar yang bisa berkata seperti itu.
Sore itu, Aditya duduk di ruang tamu sambil membaca buku yang memang minat literasi Aditya sudah menjadi kebiasaan. Salma dan Lintang datang mendekat dan duduk di sampingnya.
“Ayah,” kata Salma perlahan, “kami ingin bilang terima kasih.”
Aditya mengangkat kepalanya. “Untuk apa?”
“Untuk semua yang tidak pernah ayah minta balasan.”
Lintang menimpali, “Dan untuk jadi laki-laki yang menjaga kami bahkan ketika bukan darah kami.”
Aditya menahan napasnya. Matanya basah. Tangannya bergetar memegang tangan kedua gadis itu.
“Kalian tahu… lelaki yang menjaga janda beranak dua hingga mereka menikah, dibukakan pintu surga, insyaAllah,” suaranya lirih.
Pesan Ayah Sebagai Harapan
“Kalau suatu saat nanti kalian sudah menemukan pasangan, ayah hanya minta satu…”
“Apa, yah?” tanya Lintang pelan.
“Pilih laki-laki yang bisa menyayangi kalian… seperti ayah menyayangi mamah kalian.”
Salma menatap langit-langit rumah. Dalam hatinya, ia menulis janji:
“Ayah, lelaki mana pun yang nanti akan bersanding denganku… harus sanggup berdiri seperti ayah berdiri untuk kami. Kalau tidak, biar aku sendiri, tapi tetap menjaga cinta ini untuk ayah dan mamah sampai akhir waktu.”
Di malam yang sejuk, setelah semua kata-kata selesai dan hanya keheningan yang tersisa, Aditya berdiri dan berkata:
“Kalau kalian marah… marahlah padaku. Tapi jangan pernah membenci mamah dan papa kandung kalian. Itu bukan jalan yang baik. Ayah lebih rela kalian membenciku, asal kalian tidak jadi anak durhaka.”
Ia melangkah meninggalkan ruangan itu. Salma dan Lintang saling berpandangan, lalu menangis dalam pelukan.
Cinta memang tidak selalu hadir dari awal. Tapi kasih sayang yang sabar dan tulus, tumbuh seiring waktu, bisa menjadi kekuatan yang menuntun hingga surga.
Dan bagi Salma dan Lintang… lelaki itu bernama Aditya.
“Papamu yang mengukir darah daging kalian, tapi Ayah Adit yang mengawal pertumbuhan mental dan jiwa kalian.”
Read: Kemensos dan Kementerian PPPA Bentuk Tim Lindungi Perempuan dan Anak






