DONGENG ANAK: BLETUK-BLETUK UGEL

DONGENG ANAK BLETUK-BLETUK UGEL
DONGENG ANAK BLETUK-BLETUK UGEL

Oleh: Izzayumna

Dongeng Anak: BLETUK-BLETUK UGEL – Di sebuah desa nelayan bernama Tanjung Girang, hiduplah seekor hewan yang sangat aneh. Bentuknya seperti ikan buntal, tapi bisa berjalan di darat dengan sirip-siripnya yang lentur. Kulitnya berbintik warna-warni, dan kalau ia tertawa, suara “gelegek-gelegek”nya seperti bunyi kendi jatuh. Namanya: Bletuk-Bletuk Ugel.

Tak ada yang tahu pasti dari mana asalnya. Suatu pagi, ia muncul begitu saja di pinggir dermaga, terjebak dalam keranjang nelayan tua bernama Pak Lindu. Sejak itu, anak-anak kampung gemar datang ke rumah Pak Lindu untuk melihat si Ugel yang lucu.

Makhluk Aneh Yang Cerdik

Ugel bukan hewan biasa. Ia bisa menirukan suara orang, menyusun kerikil membentuk pola, bahkan bisa membuka tutup kendi sendiri!

“Bletuk… bletuk… bletuk!” begitu suaranya saat sedang berpikir.

Makanya, anak-anak menjulukinya Bletuk-Bletuk Ugel, si makhluk lucu yang pintar.

Namun tidak semua orang senang dengan kehadirannya.

Pak Sogan, pedagang kaya yang rakus, ingin menangkap Ugel dan menjualnya ke kota sebagai tontonan.

“Makhluk aneh begitu bisa laku mahal! Aku bisa kaya tujuh turunan!” katanya sambil mengusap-usap kumis.

Tapi Ugel tidak gampang ditangkap. Ia lincah dan cerdik. Bahkan saat Pak Sogan memasang perangkap di dekat tambak, Ugel justru menaruh duri ikan di dalamnya hingga Pak Sogan sendiri yang terjebak!

Baca Juga:

Cerita Anak Si Itik Bertelur Emas Dan Petani Serakah

Cerita Anak: Si Itik Bertelur Emas Dan Petani Serakah https://sabilulhuda.org/cerita-anak-si-itik-bertelur-emas-dan-petani-serakah/

Teka-Teki Dari Laut

Suatu pagi, badai datang menggulung kampung Tanjung Girang. Perahu banyak yang rusak, jaring robek, dan air pasang masuk ke jalan-jalan kampung.

Setelah badai surut, di dekat pantai muncul sebuah kotak kayu tua berukir yang terdampar di karang.

Pak Lindu dan warga menariknya dengan tali. Di atas kotak itu tertulis ukiran aneh:

“Buka hanya dengan utak-atik yang benar, bukan dengan tamak dan serakah.”

Tapi tak satu pun orang bisa membukanya. Kuncinya berupa papan teka-teki, terdiri dari batu kecil warna-warni yang harus disusun menjadi pola tertentu.

“Ini… seperti teka-teki raksasa,” gumam Lira, seorang anak cerdas dari kampung.

“Panggil Ugel!” teriak anak-anak.

Ugel datang, menaiki papan teka-teki, dan mulai menyusun batu-batu itu. Ia membuat pola seperti bintang laut, lalu seperti ombak, lalu seperti sirip ikan.

Tak lama, terdengar bunyi klik… dan kotak pun terbuka!

Rahasia Dalam Kotak

Di dalam kotak ada sebuah peta kuno, menggambarkan jalur air rahasia yang konon menghubungkan laut dan sungai kecil di bukit belakang kampung.

Bersama peta itu ada surat tua yang ditulis dengan aksara lama. Lira membacanya pelan-pelan:

“Untuk siapa pun yang menemukan ini: air jernih dari bukit akan menyelamatkan tanah yang mulai asin. Tapi hanya yang jujur dan tidak serakah yang bisa menemukannya.”

Penduduk kampung tercengang.

Sudah lama tambak dan tanah mereka mulai payau, tak bisa ditanami. Mungkin inilah jalan keluarnya!

Tapi tentu saja, Pak Sogan tidak tinggal diam.

“Aku yang paling berhak atas peta ini! Aku paling kaya, jadi paling layak!”

Ia mencoba mencuri peta itu malam-malam, tapi lagi-lagi Ugel muncul dan mengacaukan rencananya. Ugel menggulung peta itu lalu berlari zig-zag sambil tertawa, membuat Pak Sogan tersungkur ke kolam kerbau.

Perjalanan Ke Bukit Uleg

Keesokan harinya, Lira, Pak Lindu, dan beberapa warga naik ke bukit, dipandu oleh peta dan tentu saja Ugel, si penunjuk jalan aneh.

Di tengah perjalanan, mereka melewati rintangan:

Hutan bambu yang menusuk jalan

Sungai kecil berarus deras

Goa kelelawar yang gelap dan pengap

DONGENG ANAK BLETUK-BLETUK UGEL
DONGENG ANAK BLETUK-BLETUK UGEL

Namun Ugel punya solusi cerdik tiap kali mereka kesulitan. Ia menirukan suara burung untuk menakuti kelelawar, mencari batu datar untuk jembatan, dan bahkan mengguling-guling tubuhnya untuk menahan bambu tajam agar bisa dilewati.

Akhirnya, mereka sampai di puncak Bukit Uleg, tempat sumber air jernih memancar dari sela batu.

Di sana ada batu besar dengan ukiran aneh:

“Tuang air hanya bila hati bersih dan tangan tak serakah.”

Pak Sogan, yang diam-diam mengikuti dari belakang, segera maju dan menuang air ke baskom batu.

Tapi air itu menguap dan hilang!

Lalu giliran Lira. Ia berkata pelan,

“Aku bukan siapa-siapa, hanya ingin membantu kampung.”

Saat ia menuang air, mata air itu menyala terang dan mengalir ke bawah, menuju saluran bawah tanah menuju tambak-tambak warga.

Ugel menari sambil memutar tubuhnya seperti gasing, membuat semua anak tertawa.

Kampung Yang Tersenyum

Sejak saat itu, tambak di Tanjung Girang pulih. Tanah jadi subur, dan ikan mudah ditangkap. Mata air dari Bukit Uleg mengalir terus ke sawah dan kolam.

Ugel tinggal di rumah Pak Lindu, kadang main ke rumah anak-anak, kadang menyelinap ke dapur mencari nasi sisa.

Pak Sogan? Ia berubah. Setelah melihat ketulusan Ugel dan Lira, ia mulai membantu warga, menyumbang perahu baru, dan bahkan meminta maaf kepada semua.

“Aku dulu serakah… Tapi kalian membalas dengan kerja sama dan kebaikan. Aku belajar dari Ugel…” katanya.

Ugel pun menjentik ekornya dan berseru,

“Bletuk… bletuk… Ugel…!”

Semua tertawa.

Si Pintar Yang Tak Pernah Sombong

Ugel menjadi legenda. Ia tidak bisa bicara banyak, tapi ia mengajarkan semua: tentang kecerdikan, ketulusan, dan pentingnya kerja sama, bukan keserakahan.

Dan setiap kali ada masalah di kampung, anak-anak akan berseru:

“Panggil Bletuk-Bletuk Ugel!”

Dan suara “gelegek-gelegek” akan terdengar dari dapur, di mana Ugel sedang bermain kelereng sambil minum air kelapa.

Pesan Moral:

1. Kecerdasan untuk membantu bukan untuk menyombongkan diri.

2. Keserakahan membawa kehancuran, tetapi ketulusan membawa solusi.

3. Kerja sama lebih kuat daripada kekuasaan.

4. Makhluk sekecil apapun bisa membawa perubahan besar.

5. Kebaikan yang tulus akan dikenang lebih lama daripada harta.

Baca JugaBuku Dongeng Gratis Tersedia di Situs Kemdikbud