Selama ini kita hanya mendengar orang tua menyuruh belajar, tetapi tidak pernah mengajari cara belajar yang baik. Atau pernahkan kita berusaha belajar mati-matian membaca buku semalaman, tetapi besoknya semua lupa dari ingatan?
Sebenarnya bagaimana cara belajar yang efektif?
Kalau selama ini kamu sudah merasa belajar tekun tapi hasilnya tetep tidak maksimal. Itu karena belajar bukan cuma soal kerja keras, tapi juga soal memilih teknik belajar yang tepat.
Cara belajar yang efektif menurut pakar memori

Henry L. Roediger III adalah seorang psikolog kognitif dan professor di Washington University. Prof Roediger terkenal sebagai seorang pakar memori yang sudah meneliti cara belajar selama 40 tahun. Dia mengklaim dengan tekniknya maka belajar apapun akan 10X lebih efektif.
Di tahun 2014 Prof Roediger bersama Mark McDaniel dan Peter Brown menyusun buku berjudul “Make It Stick: The Science of Successful Learning” yang merupakan hasil riset sejak tahun 1970.

Menurut Henry L Roediger dkk ada 4 teknik belajar yang efektif
1. Space Repetition
2. Retrieval Practice
3. Interleaving
4. Generation
Teknik 1 : Space Repetition / Belajar Dicicil
Cara belajar SKS atau Sistem Kebut Semalam sudah menjadi budaya di Indonesia. Sayangnya cara belajar dengan Teknik SKS sangat tidak efektif. Memang cepat menjadi hafal tetapi juga mudah sekali lupa lagi dengan materinya.
Teknik SKS memaksa otak untuk menyimpan semua materi di memori jangka pendek. Efeknya, selesai ujian, materinya lupa lagi. Selesai lulus sekolah tidak tersisa ilmu yang dipelajari di sekolah.
Daripada belajar SKS (Sistem Kebut Semalam) ketika akan ujian, lebih baik belajar dengan teknik space repetition. Teknik ini mengajarkan agar belajar materi yang sama secara berkali-kali tetapi di waktu yang terpisah.
Sedikit-sedikit tapi sering. Misalnya, kalau ada ujian Hari Jumat, daripada belajar 3 jam di H-1, lebih baik belajarnya Hari Senin 1 jam, Hari Rabu 1 jam, dan Hari Kamis 1 jam. Otak jadi terbiasa dan ingatan lebih kuat.
Dari hasil riset, orang-orang yang menggunakan teknik space repetition selalu mendapatkan hasil yang lebih baik daripada orang yang menggunakan teknik sks.
Dengan mengulang materi di waktu-waktu berbeda, kita memaksa otak untuk berusaha lebih untuk mengingat ulang. Proses inilah yang kemudian membentuk koneksi di memori jangka panjang.
Teknik 2 : Retrieval Practice / Ngetes Diri Sendiri
Umumnya orang belajar sebelum ulangan adalah dengan membaca ulang catatan atau buku. Membaca buku berulang-ulang dari awal sampai akhir memang terasa efektif, tetapi ternyata ini kesalahan fatal.
Sekedar membaca adalah cara belajar paling pasif. Mata yang lebih banyak bekerja sementara otak justru santai.
Setelah membaca buku 2 atau 3 kali, kita sebenarnya hanya merasa lebih familiar saja dengan kalimat-kalimatnya. Rasa familiar ini menimbulkan ilusi kompetensi. Kita merasa menguasai materi tetapi ketika ujian kita justru blank.
Daripada sekedar membaca buku berulang-ulang, lebih baik kita menggunakan Teknik Retrieval Practice. Teknik ini adalah cara mengambil informasi dari ingatan kita tanpa bantuan.
Caranya, pertama baca buku materi. Setelah membaca 1 bab, kemudian tutup bukunya dan tulis ulang materi yang sudah dibaca dengan mengandalkan ingatan saja.
Tulis secara terstruktur poin-poin utama bab tersebut sekaligus penjabaran dari poin-poin tersebut tanpa membuka buku atau bertanya kepada orang lain.
Jika lupa jangan buru-buru membuka buku atau bertanya kepada orang lain, tetapi paksa otak untuk mengingat semaksimal mungkin. Jika sudah mentok baru boleh membuka bukunya untuk melengkapi poin yang lupa dalam penulisan ulang materi yang dibaca tersebut.
Cara ini membuat otak bekerja keras untuk mengingat, hasilnya memori akan tertanam semakin kuat. Teknik ini dilakukan sampai kita cukup puas dengan efektifitas penulisan ulang bab tersebut. Setelah cukup puas baru boleh dilanjut ke bab berikutnya. Demikian seterusnya.
Baca Juga :

Belajar Bahasa Asing Sejak Dini Membuka Gerbang Dunia Dan Berbagai Manfaatnya https://sabilulhuda.org/belajar-bahasa-asing-sejak-dini-membuka-gerbang-dunia-dan-berbagai-manfaatnya/
Teknik 3 : Interleaving / Belajar Gado-gado
Dalam teknik ini dalam satu sesi belajar kita tidak hanya fokus pada satu bab atau satu jenis materi. Kita justru mencampur mempelajari beberapa jenis materi dalam satu sesi belajar.
Kebanyakan orang belajar satu bab saja dalam satu sesi belajar sampai lancar. Cara ini orang menyebutnya dengan blocked practice. Sekilas metode ini terasa rapi dan terstruktur. Sayangnya cara belajar ini justru beresiko membuat kita blank ketika ujian.
Otak kita menjadi terbiasa melihat dengan hanya satu sudut pandang masalah. Kita menjadi kesulitan ketika dihadapkan dengan permasalahan yang multidimensi yang harus didekati atau dipecahkan dengan beberapa disiplin ilmu.
Saat belajar, kita jangan fokus hanya satu topik saja. Coba campur-campur topiknya. Misalnya, kalau belajar, 20 menit belajar sejarah, 20 menit belajar matematika, 20 menit belajar fisika. Teknik ini melatih otak agar terbiasa beradaptasi dengan berbagai masalah yang bersifat multidimensi.
Teknik 4 : Generation / Coba Tebak Dulu
Dalam teknik ini sebelum membaca materi, terlebih dahulu cobalah untuk menjawab soal latihan atau menebak jawabannya.
Usaha membuat tebakan membuat otak kita dipaksa bekerja lebih keras untuk membuat jawaban. Akhirnya otak kita mengalokasikan lebih banyak perhatian kepada materi, Proses ini memicu terbentuknya koneksi kuat dalam ingatan kita.
Perbaiki Cara Belajarmu
Seringkali kita sudah merasa belajar keras tetapi hasilnya masih kurang. Padahal catatan sudah lengkap dan rapi. Juga sudah berusaha menghafal seisi buku. Tapi ketika ujian masih juga tidak bisa jawab.
Setelah pembahasan di atas, akhirnya kita menemukan jawabannya. Belajar adalah bukan masalah seberapa keras usaha kita atau seberapa banyak kita mengalokasikan waktu, tetapi seberapa tepat cara belajarnya.
Jangan belajar sistem kebut semalam, tetapi belajar berulang-ulang dengan jeda waktu (space repetition).
Biasakan otak memanggil ulang informasi bukan hanya sekedar membaca(retrieval practice).
Membiasakan belajar beberapa topik dalam satu sesi belajar agak otak tidak bosan dan terbiasa adaptasi (interleaving).
Biasakan memikirkan dan menebak sebelum tahu jawabannya , agar otak lebih tajam dan ingatan lebih kuat (generation).
Semoga bermanfaat.
Baca Juga: Lamongan Miliki Sekolah Digital dan Pembelajaran STEAM













