Oleh: Izzayumna
Di sebuah desa kecil di kaki bukit, tinggallah seorang petani miskin bernama Pak Raji. Ia hidup bersama istrinya, Bu Raji, di sebuah gubuk reyot dengan atap bocor dan dapur berasap. Setiap pagi, Pak Raji pergi ke sawah dengan cangkul tua dan sendal jepit yang tinggal satu tali.
Meski miskin, Pak Raji adalah orang yang jujur dan rajin. Namun istrinya, Bu Raji, sering mengeluh,
“Kapan kita bisa kaya? Tanahmu kering, hasil panen pas-pasan. Kita hidup begini terus sampai tua?”
Pak Raji hanya tersenyum lelah. Ia tahu, bukan karena tak mau, tapi memang rezekinya belum cukup.
Seekor Itik Aneh
Suatu pagi, saat Pak Raji pulang dari sawah, ia menemukan seekor itik kecil tergeletak di pinggir jalan desa. Bulu-bulunya berkilau keemasan, matanya jernih seperti embun pagi.
“Kasihan, kau tersesat ya?” ujar Pak Raji sambil mengangkat itik itu.
Ia membawanya pulang dan membuatkan kandang sederhana dari bambu di belakang rumah. Bu Raji menggerutu,
“Kita saja miskin, sekarang malah pelihara itik?”
Tapi Pak Raji merawat itik itu dengan penuh kasih. Diberinya dedak halus, air bersih, dan dibersihkan kandangnya tiap pagi.
Telur Emas Pertama
Keesokan paginya, saat Pak Raji membersihkan kandang, ia terkejut luar biasa.
Di tengah jerami, tergeletak sebutir telur keemasan!
Ia memegangnya dengan tangan gemetar. Beratnya tak seperti telur biasa. Ia mengetuk pelan—ting! ting!—suara logam!
“Ini… ini telur emas!” teriaknya kepada Bu Raji.

Bu Raji tak percaya sampai melihat dan mencium sendiri. Mereka pun menjual telur itu ke toko emas di kota, dan hasilnya cukup untuk membeli beras, baju baru, dan memperbaiki atap rumah.
Hari berikutnya, itik itu bertelur emas lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Setiap pagi, satu telur emas di kandang. Setiap minggu, hidup mereka makin baik. Pak Raji membeli kerbau, benih padi unggul, dan memperluas sawahnya. Bu Raji mulai membeli perabot baru, bahkan kalung emas kecil.
Desa pun heboh. Mereka tak tahu dari mana kekayaan Pak Raji, tapi diam-diam mengagumi dan iri.
Dari Syukur Ke Serakah
Awalnya, Pak Raji bersyukur. Ia masih bekerja di sawah, membagikan sebagian hasil pada tetangga dan panti asuhan.
Tapi Bu Raji mulai berubah.
“Kita buang waktu! Kenapa cuma satu telur tiap hari? Kalau kita belah itiknya, pasti di dalamnya ada ratusan telur emas!”
Pak Raji menggeleng.
“Jangan. Itik itu makhluk hidup. Dan sudah cukup rezeki kita.”
Tapi tiap hari Bu Raji membujuk, merayu, bahkan mengancam.
“Apa kau tak mau kaya raya? Punya rumah dua lantai? Punya kuda? Punya perhiasan sebanyak istri kepala desa?”
Lama-lama hati Pak Raji goyah. Ia mulai memandang itiknya bukan sebagai teman, tapi mesin emas.
“Mungkin benar kata Bu Raji… Siapa tahu di dalam perutnya ada puluhan telur…”
Akhirnya, pada suatu pagi yang sunyi, saat embun belum kering, Pak Raji mengangkat itik kecil itu dengan berat hati.
“Maafkan aku… semoga kau tidak sakit…”
Dengan sebilah pisau, ia membelah tubuh si itik.
Tapi…
Yang Ditemukan
Tak ada emas.
Tak ada permata.
Tak ada apapun, selain darah hangat dan hati kecil yang berdetak perlahan lalu diam.
Itik itu mati.
Pak Raji panik. Ia mengaduk-aduk isi tubuh itik itu.
“Mana emasnya? Mana?!”
Tapi yang ada hanyalah daging dan nyawa yang telah padam.
Bu Raji menangis. Tapi bukan karena sedih, melainkan karena kecewa.
“Itu saja? Tidak ada apa-apa? Tidak bisa dibalik?”
Dan keesokan harinya… tidak ada telur emas di kandang.
Baca Juga:

Nenek Pakande Dan Anak Desa Pemberani Asal Sulawesi Selatan https://sabilulhuda.org/nenek-pakande-dan-anak-desa-pemberani-asal-sulawesi-selatan/
Esoknya lagi, tetap tidak ada.
Semua Kembali Seperti Semula
Tanpa telur emas tiap hari, perlahan mereka kembali miskin. Perabot rumah dijual. Kalung emas digadaikan. Kerbau ditarik oleh penagih utang.
Sawah yang luas ditinggal kering, karena tak mampu membayar pupuk dan pekerja.
Tetangga Mulai Menjauh.
Bu Raji kini termenung di beranda, melihat langit yang kosong.
Sementara Pak Raji duduk di pojok kandang yang kini sepi.
“Andai aku tidak serakah… Mungkin si itik masih hidup. Mungkin setiap pagi, kami masih menerima rezeki dari Tuhan…”
Akhir Yang Mengajarkan
Bertahun-tahun kemudian, orang-orang desa kembali melihat Pak Raji membajak sawah dengan cangkul tua.
Ia kembali miskin, tapi kini jauh lebih bijak.
Ia tak lagi bicara soal emas, atau rumah besar. Ia lebih sering berkata pada anak-anak desa yang main di sawah:
“Kalian tahu… Kekayaan yang besar bukan datang sekaligus. Tapi dari kesabaran, syukur, dan kebaikan hati. Jangan belah sumber rezekimu karena tamak…”
Orang-orang tak lagi mencibir. Mereka melihat Pak Raji sebagai orang tua bijak, dan banyak yang mengunjungi rumahnya hanya untuk mendengar cerita tentang si itik bertelur emas.
Dan meski kini tak ada emas, Pak Raji merasa hidupnya lebih damai dari sebelumnya.
Sebab ia telah belajar: kekayaan yang datang dari syukur lebih abadi daripada yang datang dari keserakahan.
Pesan Moral:
1. Keserakahan bisa menghancurkan sumber kebaikan.
2. Syukur adalah jalan menuju ketenangan hidup.
3. Jangan terburu-buru ingin segalanya sekarang. Rezeki datang dengan waktu dan kesabaran.
4. Makhluk hidup bukan benda. Jangan korbankan nyawa demi ambisi.
5. Kadang, kehilangan mengajari lebih banyak daripada memiliki.













